Bom untuk Ulil

16.3.11

Belum lama aku posting Menengok kembali keberagamaan kita, baru-baru ini media kembali dapat pemberitaan segar dengan adanya hadiah bom yang ditujukan kepada Ulil. Sebelum aku menelisik lebih jauh mengenai dugaan-dugaan yang sifatnya cenderung subyektif maka ada baiknya kita mengenal lebih dekat siapa gerangan Ulil Abshar-Abdalla

Beberapa paragraf di bawah ini adalah posting dari http://ulil.net/2007/03/27/selamat-datang/


Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat datang di blog saya. Ruangan ini saya niatkan sebagai semacam “catatan harian pemikiran”. Selama ini saya menulis sejumlah surat dalam milis Islam liberal. Saya kira surat-surat itu akan bermanfaat jika saya bagi dengan publik luas melalui ruangan ini, sebab apa yang saya tulisa di sana bukanlah sesuatu yang sifatnya pribadi, tetapi menyangkut persoalan yang selama ini sudah kerap diperbincangkan oleh publik luas. Sebagian surat-surat itu diterbiktkan oleh Penerbit Nalar pada tahun ini (2007) dengan judul Menyegarkan Kembali Pemikiran Islam. Selain berisi surat-surat yang selama ini saya tulis untuk milis Islam liberal, buku itu juga memuat sebuah tulisan panjang tentang bagaimana saya mendekati dan memahami Islam.
Sebagian besar bahan-bahan yang termuat di sini berkaitan dengan tema-tema keislaman. Tetapi masalah yang menjadi bahan pemikiran saya tentu tidak terbatas di sana. Saya mempunyai minat yang luas sekali di banyak bidang, meskipun tema Islam berada di titik pusat perhatian saya. Secara pribadi, saya meminati bidang-bidang seperti filsafat, teori-teori politik modern, pemikiran ekonomi, sosiologi (terutama sosiologi agama), sastra, mistik, film, musik, dll. Oleh karena itu, tidak mustahil renungan-renungan yang termuat di ruangan ini suatu saat akan berkaitan dengan tema-tema itu.


Aku menilai bahwa apapun itu, yang namanya teror bom adalah perbuatan keji tak ketulungan. Jika boleh aku coba menduga-duga niatan si pengirim bom tentu adalah niatan yang jahat. Dan seumpama aku ini adalah orang pelosok yang hidup di kedalaman rimba belantara, Tak tersentuh kemajuan teknologi yang gegap gempita ini, maka akupun dapat menilai bahwa perbuatan itu jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. selanjutnya jika beragama itu wajib hukumnya, maka aku pun tak akan ikut agama yang dianut oleh si peneror itu. Aku merasa eneg, merasa mangkel, merasa ikut ditindas karena bagiku kehidupan ini adalah hak bagi semua makhluk. Wah wah wah... jangan ikut larut dalam emosi ya... ini cuma teknik penulisan saja hehehe

Terselepas dari segala pro dan kontra baiknya kita dapat memetik hikmah apa yang dapat diambil dari peristiwa ini. Aku akan coba lebih obyektif sekarang. Mari kita coba lihat perilaku binatang yang bernama ular. Ular bagaimanapun bentuknya ia sebenarnya takut dengan manusia. Jika kebetulan sang ular ini merasa terancam keberadaannya maka ia akan menyerang si sumber gangguan. Peneroran dengan bom dapat aku analogikan dengan ini. Singkatnya si peneror sepertinya merasa wilayahnya di injak-injak. Ia merasa terancam. Wilayah itu bisa jadi macam-macam. Bisa politik, ekonomi, atau yang lebih dalam lagi masalah agama dan keyakinan. Dari berbagai macam wilayah itu, agama dan keyakinanlah yang biasanya menimbulkan dendam kesumat yang tak putus-putusnya. Keyakinan adalah tempat terakhir makhluk bernama manusia mencari perlindungan. Aku tak bisa membayangkan jika tempat sandaran paripurna itu dirongrong, dikocok habis-habisan, dioglek-oglek hendak diruntuhkan.

Oleh karena itu, siapapun kita harusnya mempunyai tingkat keyakinan sampai pada titik tertinggi. Keyakinan yang sampai pada titik tertinggi (haqul yaqin) aku jamin tak akan bisa digoyah ataupun dikocok habis-habisan. Inilah ilmu paling wingit yang tak semua orang bisa menerimanya. Bagiku inilah wujud persaksian yang sakral. Dimana hati selalu lapang, penuh cinta dan kasih. Lihatlah mentari yang tak pilih kasih memberikan cahyanya kepada siapa saja. Harusnya kita dapat mencontoh mentari itu. Bukankah ia juga makhluk Tuhan yang dijadikan perantara kasihNya untuk semua makhluk di bumi ini?alih-alih menebarkan teror tidakkah lebih baik untuk menebar manfaat di antara sesama makhluk Tuhan?

Sang Rosul pun mencontohkan hal serupa. Masih lekat dalam ingatanku ketika Pak Yoto, guru SD ku dulu bercerita akan cinta kasihnya sang Nabi walau terhadap kafir sekalipun. Beliau diceritakan selalu menyuapi si kafir yang buta itu. Dan sampai pada waktunya hati si kafir terketuk untuk memeluk Islam karena terpukau akan cinta dan kasihnya Sang Nabi.

Artikel terkait

0 komentar