NGALOR NGIDUL MENGENAI DOA

13.12.11

Oleh: Mata Elang

Kemaren temenku yang dari Sulang City dan udah bekerja di sebuah perusahaan mentereng maen ke basecamp Dampo Awang. Kami ngobrol ngalor ngidul sama seperti waktu kami nongkrong di di saroh (bakul kopi di alun-alun Rembang). Dari perbincangan yang singkat itu berikut ini aku sharingkan topic bahasan yang mungkin menarik dan dicari banyak orang:

Terkabulnya doa adalah perkara maqom

Sejak dari dulu orang beriman selalu dihantui pertanyaan seputar doa. Aku minta begitu tapi kok dapet begini? Padahal konon kata kitab: “berdoalah padaku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu” atau ada sebuah nasehat nabi yang bunyinya: doa adalah senjata orang-orang beriman. Sholat pun sejatinya adalah doa. Kiranya ini sebuah kontradiksi dimana sekarang Negara ini semakin komedi dengan tingkat kemiskinan yang jumlahnya kian melonjak saban tahun. Aku sebenarnya heran dengan data yang disajikan dalam pidato-pidato kenegaraan yang konon katanya tingkat kemiskinan kian berkurang tapi nyatanya sekarang makin banyak saja aku jumpai pengamen-pengamen jalanan. Bahkan, kemarin ada orang yang bakar diri di depan istana presiden. Bagaimanapun itu, jika kita mencoba menelusurinya lebih lanjut, hampir dapat dipastikan bahwa akar masalahnya adalah tak terpenuhinya kesejahteraan hidup. Dengan kata lain, ada keinginan yang tak terpenuhi yang berarti doa tak terkabul. 

Contoh kasus:

Si Paiman sedang melaksanakan hajatan besar dan tentunya pada hari itu ia berharap tak terjadi hujan. Di lain sisi, tetangganya Paijo yang petani menginginkan turun hujan karena sudah seminggu sawahnya tak tersentuh air. Jika kedua orang ini adalah orang beriman, kira-kira keinginan siapa yang akan dikabulkan Tuhan?

Kesebelasan Indonesia dan Malaysia pada akhirnya ketemu di final. Kira-kira apa doa yang diucapkan oleh masing-masing suporternya? Dalam kasus ini kita melihat doa yang terucap dari satu agama (karena konon katanya orang yang beda agama lantas Tuhannya beda)

Saat timnas Indonesia lawan LA Galaxy kira-kira apa doa yang diucapkan supporter Indonesia? Dalam kasus ini taruhlah kebanyakan supporter Indonesia adalah orang-orang beriman sedangkan para pemain LA Galaxy adalah orang kafir. Kenyataannya kenapa doa orang beriman yang banyak itu kok kalah dengan segelintir orang kafir?

Saat ada perebutan kursi kepemimpinan, entah Bupati, Kepala Desa, atau Presiden kira-kira doa yang bagaimana yang diucapkan oleh masing-masing calon (terkadang ada yang naik haji dulu dan ingin berdoa di sana agar lebih makbul tapi ternyata kalah juga). 

Apa mungkin Tuhan sedang sibuk? Atau apakah ayat tersebut bohong?

Manusia hakikatnya mampu mengintervensi terwujudnya sesuatu. Keikhlasan dan ketulusan hati si manusia itulah yang merupakan point besar terwujud tidaknya suatu doa. Ya, asalkan apa yang dimaksudkan pendoa bergerak dalam level kehendak maka sudah pasti doa tersebut akan makbul. Maksudnya, ketika tidak ada embel-embel karena dan supaya atau dalam artian apa yang dimaksudkan juga merupakan kehendakNya maka secara otomatis doa tersebut dapat makbul. Hal tersebut karena apa yang diutarakan oleh pendoa tidak bertabrakan dengan keselarasan semesta. Apa yang diutarakan oleh pendoa merupakan suara nurani terdalamnya. Jika boleh meminjam bahasa agama maka saat yang demikian itu adalah saat dimana si pendoa hanya menjadi seruling Sang Pencipta.

Apa yang Anda mau?

Ini bagian yang sulit. Banyak orang ternyata tidak tahu apa yang mereka mau. Itulah mengapa sepertinya banyak doa yang tak dikabulkan, padahal semua doa dikabukan. Yang Anda mau sebenarnya adalah cerminan niat yang ada di hati terdalam. Jika Anda meminta sesuatu tapi hati Anda selalu saja gundah maka sebenarnya yang menyebabkan kegundahan itulah yang Anda minta. Dengan kata lain ketika Anda meminta, jiwa Anda harus dalam keadaan tenang, rileks atau yakin doa Anda terkabul. 

Meminjam istilah fisika kuantum maka dapat dikatakan bahwa ketika Anda meminta maka perasaan Anda harus berada dalam frekuensi alfa atau kalau meminjam istilah agama maka itulah yang dimaksud jiwa-jiwa yang tenang, jiwanya orang-orang beriman, al nafs al mutmainnah. (cara malas untuk masuk ke kondisi alfa dapat And abaca DI SINI). Lho, tadi kok katanya semua doa dikabulkan? Yup, betul sekali. Yang di dalam hati Anda itulah yang dikabulkan. Suatu contoh, misalkan Anda minta x tapi perasaan yang meliputi hati Anda bukan syukur, sabar, dan ikhlas alias galau maka yang dikabulkan itu ya yang membuat hati Anda galau. Dengan kata lain efektifitas doa ditentukan oleh keselarasan antara hati, pikiran, dan tindakan. Hati merasa ikhlas, syukur, sabar. Pikiran focus dan tindakan otomatis benar. 

Jadi, dapat dikatakan pula bahwa Anda haruslah bahagia terlebih dahulu. Inilah yang tidak dimiliki oleh orang  yang tak beriman. Orang beriman itu hatinya tenang, al nafs al mutmainnah. Bahasa agamanya ia telah mampu memanajemeni lapisan hati sampai fuad (perkara lapisan hati dapat And abaca DI SINI). Sampai di sana minimal ia akan tahu apa yang ia mau. Kata nabi “mintalah fatwa pada hatimu”. Jadi, ia akan gampang mendeteksi apakah keinginannya itu nafsu atau visi dan misi hidupnya. Ia tetap yakin (biasanya ditunjukkan oleh jatuh bangun) karena memang ia merasa bahagia dalam setiap detik usahanya untuk mencapai apa yang ia mau itu.

Ya… kalau pakai bahasaku ya pakailah seni kemalasan, tidak melakukan apa-apa, wu wei (kata Lao Zi) hahahaha. Kenyataan yang banyak terjadi sekarang ini banyak orang melakukan sesuatu hanya karena embel-embel uang gedhe di belakangnya. Dalam arti mereka menganggap bahwa kalau uang gedhe itu membuat ia bahagia. Oh… ini salah besar, lihat yang terjadi sekarang. Banyak orang kaya tidak merasa bahagia karena mereka tak tahu apa yang mereka inginkan. Mereka tetap ingin bahagia dan mencoba terus mendapatkannya dengan menambah dandangnya (Baca penjelasannya DI SINI). Mereka tidak dapat mengamati rasanya sendiri apalagi memahami rasa orang lain. Kalau kata Gus Mus mereka punya mobil 3 rumah mewah 5 biji tapi masih ikut BLT. Hal inilah yang sekarang terjadi di negeri ini. Semuanya penuh dengan kepalsuan dan kepura-puraan. Dan bencana-bencana yang melanda negeri ini adalah akibat dari kepalsuan-kepalsuan tersebut. 

Manajemen perasaan hati ini begitu penting untuk mewujudkan jiwa yang tenang alias bahagia mulu. Orang “kaya” dan orang “miskin” banyak juga yang masih kesulitan memanajemeni suasana hati ini. Rasa yang benar itu adalah bahwa ketika memberi itu rasanya enak. Orang “miskin” sering salah persepsi terhadap orang “kaya”, dikiranya orang “kaya” itu enak mulu. Itu salah!!! Orang “kaya” sering juga diserang perasaan tak enak, tak bahagia, terror di sana sini, ketakutan kebangkrutan, dan lain sebagainya. Orang “kaya” pun masih sering salah persepsi dengan orang “miskin”. Mereka menyangka bahwa orang “miskin” itu selalu susah. Ini juga salah, tak jarang aku temui banyak dari mereka yang bahagia seolah tak kurang sesuatu apapun. 

Harap di ingat, kualitas pemberian seseorang itu tak dinilai dari besar kecilnya bantuan, melainkan dari keikhlasannya. Orang “miskin” yang dengan enak memberikan uang sepuluh ribu yang satu-satunya nilai kebahagiaannya lebih tinggi dibanding seorang milyuner yang memberikan sejumlah uang yang sama. Rasa enak- rasa enak itulah yang sering diibaratkan kita sedang membangun istana di sorga. Dan karena rasa enak itu jugalah, banyak keajaiban-keajaiban kecil yang seringkali kedatangannya tak disangka-sangka. Pada akhirnya mereka berkembang secara alami sehat lahir batin.

Dengan pikiran yang bebas dari nafsu keinginan
Dan dengan mempertahankan jiwa yang tenang
Kuamati siklus kehidupan yang sedang berkembang biak
Kuamati masing-masing akan kembali pada akar asalnya
Kembali ke akar asalnya berarti kembali ke alam yang tenang
Jadi mereka kembali kepada takdirnya masing-masing
Kembali kepada takdirnya berarti telah mengikuti hukum alam
Mengikuti hukum alam berarti telah mencapai pencerahan
Bila tidak mengikuti hukum alam berarti orang itu akan berbuat sewenang-wenang
Mau menampung semuanya baru bisa disebut adil
Jika sudah berbuat adil baru mau melayani semuanya
Mau melayani berarti telah berbakti kepada Tian (Alam Semesta)
Mau melayani berarti sudah mengikuti prinsip Dao (Kebenaran/Tuhan)
Bila mengikuti prinsip Dao baru mampu bertahan lama
Selama hidupnya tidak akan mengalami bahaya
-Lao Zi-

Artikel terkait

0 komentar