MENUNDA KEMATIAN/MENGHIDUPI ILUSI 2

8.11.11


Artikel ini adalah lanjutan dari MENUNDA KEMATIAN yang sudah saya posting kemarin. Sedangkan artikel pokok sebenarnya adalah artikel lama yang sudah saya post dengan judul ADAKAH KEHIDUPAN SEBELUM KEMATIAN?. Secara sederhana artikel itu saya tuliskan untuk menjelaskan betapa kita demikian terhijab dengan gebyarnya kehidupan di dunia ini. Bahkan banyak yang tak menyadari bahwa kita lebih sesat daripada hewan. 

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.
(Al-A Raf 7:179)

Mohon maaf, untuk kali ini terpaksa saya kutip ayat yang ada di dalam Al-Quran karena banyak dari kita itu sepertinya kurang yakin jika ngga dikasih dalil. Yup, kenapa kok bisa dibilang manusia lebih sesat jalannya dari pada hewan ternak? Kita lihat klue yang ada pada ayat tersebut, di sana ada “hati”, “mata”, dan “telingga”. Mohon jangan diartikan hati, mata, dan telinga itu sama seperti punya hewan. Tidak demikian. “hati” dalam konteks aslinya disebut fuad (ini bahasa Arab). Lhoh… hati itu bukannya qalb? Jangan gusar dulu sob, coba Anda buka Al-Quran teks book itu (sejatinya Al-Quran, tidak ditulis pun dapat dibaca karena ia adalah ayat-ayat yang nyata ada di dalam dada). Anda akan menemukan bahwa hati di sana disebut fuad.

Ya, dalam Al-Quran itu jika kita perhatikan ada istilah shadr, qalb, fuad, dan lubb. Semua istilah itu merujuk pada sesuatu yang ada di dalam dada kita. Shadr biasa diterjemahkan menjadi dada, qalb menjadi hati/kalbu, fuad menjadi hati, lubb (dalam Al Quran ditemukan dalam bentuk plural “albab” dan diterjemahkan menjadi berakal). Nah, para sufi menitikberatkan dalam menyucikan piranti ini dan biasanya dikenal dengan istilah tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). 

Dalam sebuah hadist qudsi, istilah-istilah ini lebih dijelaskan lagi kedudukannya sebagai berikut:

Aku jadikan dalam manusia itu ada istana (qash). Di dalam itu ada shadr, di dalam shadr itu ada qalb, di dalam qalb itu ada fuad, di dalam fuad itu ada syaghaf, di dalam syaghaf itu ada lubb, di dalam lubb itu ada sir, di dalam sir itu ada AKU.

Saya tak hendak membahas istilah-istilah ini karena ini akan rumit sekali. Saya akan bahas dalam konteks pembahasan awal perihal ketersesatan manusia yang dikatakan lebih sesat dari hewan ternak. Ya.. hewan ternak yang banyak disembelih kemarin itu lho. Kita sama tahu bahwa hewan ternak itu kalau sudah kenyang ya berhenti makan sedangkan manusia itu rakusnya ngga ketulungan. Apa-apa digasak, kurang ini kurang itu. Inilah yang dalam bahasa agama dikatakan mempeturutkan hawa nafsu. Nggak puas-puas, dan hal inilah yang dapat menutup “hati”, “mata”, dan “telingga”. Ia akan tersesat karena perbuatannya sendiri (Tuhan tidak menganiaya hambaNya). 

Jika demikian sangatlah berbahaya karena mereka nanti akan kesulitan untuk menemukan jism (tubuh) untuk kembali belajar dalam KAPAL NUH. Sedangkan hewan ternak yang banyak disembelih kemarin bisa jadi dapat menemukan jism manusia karena selama hidupnya berada dalam kumparan energy positif orang-orang suci. Artinya kualitas ruhnya terangkat. 

Kita kembali ke konteks menunda kematian. Jadi, serugi-ruginya manusia setidaknya ia seharusnya dapat menemukan jism lagi. Mungkin kalimat ini terlalu ekstrim ya? Ya, saya paham bahwa ini berbeda dengan doktrin yang selama ini dan kebanyakan orang terima. Tapi di Al Quran, hal inilah yang saya temukan. (baca lagi KAPALNUH YANG RETAK).

Sudah saya baca… lantas apa yang disebut HIDUP itu? Sabar…

Bersambung lagi…

Artikel terkait

0 komentar