KAPAL NUH YANG RETAK

21.9.11


Oleh: Mata Elang

Kapal Nuh yang retak berlayar di lautan. Mengarungi jejak yang tanpa jejak, langit pun tertutup awan. Tidakkah ada sebuah suar yang jadi pedoman?

Rumah tinggal adalah tetirah yang paling nyaman bagi sekumpulan manusia bertali darah. Yang tua mengayomi, yang muda menghormati. Namun jika gayung tak bersambut maka retaklah rumah itu. Yang tua saling murka dan diam, yang muda kebingungan. Saling berebut pepesan kosong. Dimana suri tauladan? Sedang gemintang pun sedang asyik bersembunyi di balik awan. 

KARMA DAN LAKU PRIHATIN
Menambal kapal Nuh bukanlah pekerjaan yang gampang namun perlu segera dilakukan. Sewaktu-waktu ia dapat hancur dan menenggelamkan seluruh penumpang. Tak hanya yang tua, yang muda pun jadi korban. Kenapa demikian?

Dalam hidup ada yang disebut sebagai karma, hukum tabur tuai. Dalam kitab pun disebutkan: manusia akan menerima balasan atas amal perbuatannya sendiri dan Ia amat cepat perhitungannya. Selama ini manusia terutama umat Islam secara umum berpandangan bahwa balasan atas amal perbuatan itu nanti di negeri akhirat. Akan tetapi, jika kita jeli, maka kesimpulan yang demikian itu amatlah tergesa-gesa. Untuk menjelaskan hal ini maka ada satu hal lagi yang perlu diketahui yaitu mengenai reinkarnasi. 

REINKARNASI
Pengetahuan mengenai reinkarnasi bagi sebagian besar pemeluk agama Islam dianggap sesat. Akan tetapi bagi agama-agama Timur hal ini adalah pengetahuan dan kepercayaan yang umum. Saya pribadi percaya dengan adanya reinkarnasi dan bagi saya di Al Quran sendiri pun ada ayat yang mengindikasikan mengenai adanya reinkarnasi atau kelahiran kembali tersebut.

Coba kita simak ayat QS al-Mulk [67]: 2.

Dia yang menciptakan kematian dan kehidupan. Dengan cara itu Dia mendidik dan melatihmu, dan untuk memberikan nilai bagi siapa yang lebih baik amalannya. Dan, Dia itu Maha Perkasa dan Maha Melindungi.
Mati dan hidup itu diciptakan. Hal semacam ini sering luput dari pemahaman kita. Disangkanya yang diciptakan Tuhan itu hanya hidup. Padahal mati pun diciptakan. Apa artinya? Artinya yaitu ada hidup dan mati untuk mendidik si manusia. Jadi mati dan hidup itu bukan hanya sekali. Untuk lebih jelasnya perhatikan ayat berikut ini:

16:70 – “Allah menciptakan kamu. Kemudian, Allah mewafatkan kamu (mengakhiri hidupmu di bumi ini), dan di antara kamu ada yang dikembalikan pada umur yang paling lemah, agar dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang pernah diketahuinya. Sesunggunya Allah Maha Menge-tahui dan Mahakuasa.”
16:77 – “Dan kepunyaan Allahlah segala yang gaib di langit maupun di bumi. Dan, tidaklah perintah kebangkitan itu selain sekejap mata atau lebih cepat. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”
Lihatlah kalimat “dikembalikan pada umur yang paling lemah”. Pada umumnya, kalimat pada ayat tersebut diartikan “tua-renta”. Sedangkan kalimat “tidak mengetahui sesuatu pun yang pernah diketahuinya” diartikan dengan “pikun” atau pelupa karena sudah tua sekali. Ini jelas keliru, “tua-renta” itu belum tentu lemah. Banyak orang di Indonesia ini yang umurnya sudah 80 tahun masih tampak lebih segar daripada yang berumur 40 tahun. Maka, jelas kalimat “dikembalikan pada umur yang paling lemah” itu tidak berarti tua-renta atau lanjut usia.

Selanjutnya, kalimat “tidak mengetahui sesuatu pun apa yang pernah diketahui sebelumnya” yang diartikan dengan “pikun” ini juga salah. Orang pikun bukan hilang ingatan tapi pelupa. Mudah lupa terhadap apa yang diketahui atau dikerjakannya. Tapi, pikun itu masih ada yang diingat, sedang di ayat tersebut disebut “tidak mengetahui sesuatu pun apa yang pernah diketahui sebelumnya”. Apakah masih kurang meyakinkan? Jika demikian perhatikan ayat berikut:

Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar di antaramu pada hari Sabbat, lalu Kami berfirman kepada mereka: “Jadilah kamu kera yang hina!” (QS 2:65)
Katakanlah: “Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari orang-orang fasik pada Sisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah , di antara mereka ada yang dijadikan kera dan babi, dan penyembah tagut?” Mereka lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat jalannya. (QS 5:60)
Maka, tatkala mereka bersikap sombong terhadap larangan yang ditetapkan kepada mereka, Kami katakan kepada mereka: “Jadilah kamu kera yang hina!” (QS 7:166)
Dan mereka berkata: “Apakah bila kami telah menjadi tulang-belulang dan sesuatu yang rusak, apa benar kami dibangkitkan menjadi makhluk yang baru?”
Katakanlah: “Jadilah kamu batu atau besi,
Atau suatu makhluk yang tidak mungkin menurut pikiranmu!” Mereka bertanya: “Siapa yang akan menghidupkan kami kembali?” Katakanlah: “Yang telah menciptakan kamu pada kali mulanya.” Lalu, mereka menggeleng-gelengkan kepala kepadamu dan berkata: “Kapan itu?” Jawablah: “Semoga itu terjadi dalam waktu dekat.” (QS 17: 49–51)
Lihatlah, bukankah ayat-ayat di atas memperlihatkan secara gamblang bahwa manusia dilahirkan kembali. Ada yang menjadi kera, babi, bahkan batu atau besi, atau suatu makhluk yang tak terpikirkan. Apakah masih kurang meyakinkan lagi? Baik, jika demikian maka kisah nyata berikut ini mungkin dapat lebih meyakinkan Anda.

Seorang kawan saudara saya pernah didatangi seorang yang tak dikenal. Orang itu memberikan selembar kertas bertuliskan bahasa jawa kuno yang pada kalimat terakhirnya bertuliskan: selamat ulang tahun yang ke 1001. Terang saja ia kebingungan.

“ ini maksudnya apa?”

“nanti jika sudah waktunya, Anda pasti akan mengerti“

Saya kira kenyataan ini sudah memberikan kita sinyal yang sangat kuat bahwa reinkarnasi itu memang ada. Sekarang kita kembali ke topik karma dan laku prihatin.

KARMA DAN LAKU PRIHATIN
Dalam pandangan saya pribadi datangnya karma ini bisa sangat cepat atau pun terjadi di kehidupan yang akan datang. Yang sangat cepat tentu Anda pun pernah merasakannya. Bagi kawula muda kasus-kasus percintaan sudah pasti tak asing jika dijadikan sebagai contoh konkretnya. Sedangkan yang terjadi di kehidupan yang akan datang dapat dilihat terutama pada kasus kelahiran seorang bayi. Pernahkah Anda berpikir kenapa bayi A lahir sempurna dan berada di keluarga berpunya sedangkan bayi B lahir cacat dan berada di keluarga tak berpunya? Adilkah Tuhan?

Dalam pemahaman saya pribadi hal yang demikian itu tentu adalah akibat dari kehidupan di masa lalunya. Mungkin saja ada argumen rasional bahwa kecacatan si bayi adalah akibat kurang anu dan kurang itu selama dalam kandungan. Itu pun benar, namun ini pun juga bisa dipahami bahwa ada karma negatif sang orang tua sehingga mendapatkan anak yang cacat, demikian pula bagi sang jabang bayi. Ada karma yang harus ia tebus sehingga ia dilahirkan dalam keadaan cacat. 

Contoh lain dapat Anda lihat juga pada kasus anak yang memiliki orang tua penjahat. Kadangkala akibat dari perbuatan orang tua membuat si anak ikut mendapat karma buruk, misalnya tidak diterima secara sosial. Atau kasus lain misalnya orang tua cerai (broken home), orang tua yang bertengkar dengan tetangga, dengan saudara-saudaranya, rebutan warisan, dan lain-lain. Kesemuanya itu kadangkala akan menimbulkan efek terhadap si anak karena secara kuantum perasaan kesal, kecewa, benci yang timbul akibat polah tingkah orang tuanya menyebabkan gema pancaran energi negatif yang riaknya juga dapat mengenai si anak. Rasa-rasanya memang tak adil. Akan tetapi, hal ini dapat dipahami dengan lebih sederhana jika si anak menganggap peristiwa itu adalah akibat dari perbuatan di kehidupan terdahulunya. 

Sebaliknya juga dapat terjadi, misalnya orang tua yang memiliki anak yang sangat menjengkelkan. Mabuk-mabukan, narkoba, oleh-oleh cucu yang datang belum waktunya, dan sebagainya dan seterusnya. Nah, hal-hal yang demikian ini mestinya dipandang sebagai hukuman karma bagi sang orang tua. Sikap bijaksana dalam menghadapi problema hidup harus diterapkan oleh sang orang tua. Jika kemudian si anak pun juga insaf, maka bukan tak mungkin peristiwa yang tidak menggenakkan tersebut berubah menjadi berkah.

Perkara takdir mungkin saja juga dapat lebih kita pahami jika kita menyadari mekanisme ini. Dalam kazanah kebudayaan Jawa, dikenal apa yang disebut mangsa. Jadi, setiap manusia yang lahir dapat diprediksi perwatakannya dan gambaran kehidupannya melalui hitung-hitungan yang njlimet bin ruwet sekali. Horoskop Jawa yang mengenal adanya weton dan sebagainya itu adalah cara leluhur kita untuk mempermudah anak cucunya agar dapat meraba-raba gambaran kehidupannya akan seperti apa. Percaya atau tidak, banyak dari Anda pasti akan manggut-manggut ketika melihat prediksi tersebut ternyata sebagian besar cocok dengan kondisi kejiwaan kita.

Nah, jika saja saat ini takdir kita tidak begitu mengenakkan maka kita pun sudah bisa mengambil ancang-ancang agar lebih siap, sabar, dan ikhlas dalam menjalankan garis tangan tersebut. Sikap ngedumel, kesal, dan frustasi hanya akan menambah kemalangan yang hisapnya lebih cepat. Untung-untung jika karmanya terjadi dikehidupan saat ini, jika karma itu terjadi di kehidupan yang akan datang maka sudah pasti kita pun akan lahir kembali. Jadi, jika saja kita mampu menyadari mekanisme ini, maka kita pun dapat mengusahakan dan menjadikan garis tangan itu sebagai jalan laku prihatin agar nantinya dapat mencapai kemulyaan yang sejati, kembali kepadaNya (bukan kembali ke sorga, hehehe). Jalan ini memang sulit dan dalam bahasa agama sering disebut sebagai jalan yang lurus, shirâth al-mustaqîm

Catatan:
Rumah tinggal dan kapal Nuh dapat Anda artikan sebagai keluarga, RT, RW, Kabupaten, atau dalam skala yang lebih luas sebagai bangsa bahkan umat manusia. We are oneness.

Artikel terkait

0 komentar