APAKAH ADA HIDUP SEBELUM KEMATIAN?

18.10.11

Paiman memainkan piano. Jemarinya tampak lincah mengetuk-ketuk tuts kesana kemari. Lagu demi lagu ia perdengarkan, indah sekali. “Man, permainanmu bagus, tapi kenapa kau tidak mencoba memainkan dengan tust yang hitam?” Paijo tiba-tiba berkomentar. “ah, ngapain Jo. Ini sudah enak di dengar kok”. “Lhoh, tidakkah kamu lihat para pianis jempolan? Mereka selalu mencoba sesuatu yang baru. Membuat not-not yang baru, irama yang baru, lagu yang lebih merdu. Tidakkah kau juga turut mencobanya?”. “mereka itu dungu” sahut Paiman. “lagu ini sudah cukup merdu buatku. Mereka itu suka mencari-cari lagi irama yang pas, lagu baru. Bodoh sekali, lagu ini sudah pas buatku, tak perlulah memainkan tuts hitam segala”. Alhasil, setiap hari Paiman memainkan lagu yang sama, not yang sama. Itulah satu-satunya lagu yang dimainkan oleh Paiman, tidak pernah berubah.

Cerita di atas saya kira cukup untuk menggambarkan hidup yang monoton. Betapa membosankan hidup yang seperti itu. Hidup yang dipandang sudah sebagai puncak, kebenaran, dan tidak perlu diutak-atik lagi. Mungkin ini juga Anda alami. Walau sangat personal, namun biasanya hal yang personal dan mempribadi juga merupakan hal yang umum. 

Hal ini tentu sangat berlawanan dengan dinamika yang selalu bergerak. Ya… alam ini selalu bergerak. Tumbuhan bergerak dan berubah. Kita pun sebenarnya berubah setiap saat. Jantung kita saat ini berbeda dengan jantung kita sejam yang lalu, bahkan sedetik yang lalu. Peradaban demi peradaban manusia datang silih berganti. Siang dan malam datang tak pernah beriringan. Semuanya terus berubah. Oleh karena itu, perubahan adalah sesuatu yang kekal di alam ini.

Jadi, tanpa kesediaan untuk berubah, orang seperti mayat. Tanpa perubahan orang tak akan berkembang. Ia menjadi rapuh dan manja, hidupnya terikat, tergantung dari unsur-unsur di luar dirinya. Hidupnya ditentukan oleh keluarga, masyarakat, lingkungan, agama, dan Negara. Tanpa kesediaan untuk berubah, orang tak bisa bahagia tanpa syarat. Kebahagiannya ditentukan oleh unsur-unsur dari luar; bahkan (tragisnya) oleh konsep, oleh kata-kata, perintah, dan lain sebagainya. 

Maka tidak menjadi sebuah keheranan jika orang beriman pun tidak bahagia hidupnya. Mengapa? Karena kebahagiannnya tergantung pada “Tuhan”; konsep tentang Tuhan. Dalam keadaan seperti itu orang “beriman” tidak pernah rela untuk beriman, mereka dibayang-bayangi “Tuhan” sehingga hidupnya tidak membahagiakan. Orang mengira hidup bahagia hanya terjadi di akhirat. Oleh karena itu, mereka sibuk dengan ibadah-ibadah demi selamat dari api neraka. 

Inilah yang menjadi pokok permasalahan. Orang hidup dalam ilusi pikirannya, ia tidak murni hidup di sini dan saat ini. Bagi orang seperti ini, hidup adalah not tunggal yang dibawa kesana kemari. Ada perubahan, tapi itu Cuma sekedar perubahan dinamika tempo. Ia tidak merubah not karena baginya not-nya adalah kebenaran kekal abadi selamanya. Orang berpindah-pindah profesi, berpindah-pindah agama, berguru dari satu guru ke guru yang lain. Akan tetapi amat disayangkan, itu semua tetap tak mengubahnya, tidak juga membuatnya bahagia karena ada sebuah misteri yang belum ia jamah; jati diri. 

Kita benar hidup atau mati?

Pertanyaan itu bukan sekedar pertanyaan sepele. Selama ini apakah kita benar-benar hidup atau hanya mengusahakan jantung sehat, paru-paru normal, gizi cukup sehingga tubuh kita bisa digerakkan kesana kemari? Apakah sekarang ini kita benar-benar hidup atau hanya menjalankan formalitas sebagaimana banyak orang yang melakukan; sekolah, kuliah, bekerja, memilih agama? Yang tampak lebih mulia lagi, apakah kita sekarang ini benar-benar hidup atau sekedar mematuhi aturan-aturan agama? Mencari-cari ketenangan batin dengan sensasi-sensasi “bisnis” spiritual? Sekali lagi apakah ada hidup sebelum kematian?

Jika jawaban Anda tidak ada, maka tak perlulah ambil pusing pertanyaan itu. Antara hidup atau tidak tak akan jadi soal. Yang jelas, kita butuh makan, sandang, dan papan sebelum jantung kita berhenti. Cukup, itu saja sama seperti hewan. Jika Anda menjawab ada, maka kemungkinan pertama adalah kita melihat hidup sebagaimana mekanisme biologis yang dalam arti ini jawabannya sama dengan tidak ada hidup sebelum kematian. Maka dari itu, orang-orang suci dari Timur menganggap manusia seperti itu perlu dilahirkan kembali karena masih “mati”. 

Ini berbeda jika seandainya kita tak menghiraukan surga dan neraka. Kita akan berusaha hidup saat ini dan di sini dan pertanyaan “adakah Tuhan?” menjadi tidak relevan lagi. Maksudnya, jika kita mengatakan Ia ada maka Tuhan ada dan jika kita mengatakan Tuhan tak ada maka Ia pun tak ada. Argumentasi kita mengenai Tuhan sama sekali tak berguna kecuali didasari oleh pengalaman kita yang otentik, pengalaman mengenal akan diri yang sejati. Maka dari itu pertanyaan yang relevan adalah “siapakah aku?”. Tanpa mengacu pada pertanyaan itu kita tak pernah bebas menjadi diri sendiri. Kita akan terus dihantui “Tuhan”. Tuhan menjadi hantu. Kenapa? Karena ia dimengerti hanya sebagai konsep, bukan pengalaman. 

Siapa Anda? Saya adalah lelaki paruh baya, berambut sedikit ikal, dan kulit sawo matang. Aku tak menanyakan ciri fisik Anda. Siapa Anda? Aku lelaki dari suku jawa, lahir dan besar di pesisir pantura. Aku tak menanyakan asal usul tempat kelahiran Anda. Siapa Anda? Aku manager di sebuah perusahaan multinasional, memimpin beribu-ribu karyawan. Aku tak menanyakan jenis pekerjaan Anda. Siapa Anda? Saya seorang kapiten mempunyai pedang panjang. Aku tak menayakan jabatan Anda dan tak menayakan apa yang Anda punyai. Siapakah Anda?

Catatan:
Uraian ini mungkin membingungkan bagi Anda. Di sini saya mencoba untuk menguraikan kenapa ada hadist qudsi yang berbunyi: “man arafa faqad arafa rabbahu”, barang siapa mengenal dirinya maka ia mengenal Tuhannya.

Artikel terkait

1 komentar

  1. hahaha sindirannya menohok bro...

    ReplyDelete