MENUNDA KEMATIAN/MENGHIDUPI ILUSI

7.11.11


Banyak dari kita jika benar-benar kita amati ternyata hanya menunda kematian. Dengan kata lain tingkat kesadarannya barulah sebatas materi alias hanya terjaga. Beda lho antara sadar dengan terjaga. Kalau sadar berarti ia bisa mengerti dan memahami sesuatu yang terjadi pada dirinya maupun lingkunganya sedangkan kalau terjaga itu sekedar “melek”. Contoh paling sederhana mungkin dapat diibaratkan seorang anak kecil dan orang tua yang sedang menghadiri acara pernikahan. Walau sama-sama melihat peristiwa yang sama, si anak nggak ngerti maksud dari adat-adat yang dilakukan pada saat pernikahan sedangkan orang tua memahami hal itu. 

Sayang sekali banyak orang tidak bisa membuka hati dan pikirannya, ironisnya seolah-olah apa yang dipahaminya sekarang ini sudah mutlak kebenarannya, bahkan menganggap paling benar dan yang lain adalah salah. Jika kita melihat sejarah, maka biasanya yang mengarah pada kebenaran jumlahnya justru amat sedikit. Dulu ketika Galileo bilang bahwa matahari adalah pusat tata surya, orang-orang pada heboh, bahkan karena pendapat Galileo ini bertentangan dengan kebanyakan orang dan penguasa maka dibunuhlah ia. Anda pengen contoh yang lebih real? Coba lihat gambar berikut:

Sherif atau kakek tua?


Adakah titik hitam?

Nah gambar di atas adalah contoh paling nyata yang menunjukkan bahwa panca indera kita sangatlah terbatas. Kita tidak bisa melihat objek dalam keadaan apa adanya alias tertipu. Ini juga berlaku pada pola pikir Anda. Perhatikan, pola pikir Anda terbentuk semenjak kecil. Sekarang yang menjadi pertanyaannya adalah; darimana kita memperoleh pola pikir itu yang menyebabkan kita berpikir, merasakan, dan bertindak dengan cara tertentu terhadap diri kita sendiri, orang lain, dan lingkungan sekitar kita? Dari mana pikiran itu pada awalnya berasal?

Jawabannya adalah pola pikir kita sebagian besar adalah hadiah yang tidak kita minta dari kedua orang tua, guru, tokoh-tokoh religius, masyarakat, dan otoritas-otoritas lainnya. Lebih tepatnya, Anda dan saya adalah produk dari kebiasaan cara berpikir orang lain. Artinya Anda menghidupi ilusi-ilusi pikiran orang lain. Anda tidak berbuat berdasarkan dorongan nurani yang sudah built in ada di dalam diri Anda. Persis, inilah yang sekarang terjadi. Banyak dari kita hanya menunda kematian karena sebagain besar dari kita pun hanya menunda kematian. Akibatnya, menunda kematian adalah sesuatu yang dipandang wajar dan bahkan orang berlomba-lomba untuk menunda kematian. Contoh yang lebih nyata dapat Anda baca di sini.

Dunia ini pun adalah ilusi

Orang-orang tua kita pun suka bilang: “le… urip kuwi mung mampir ngombe” artinya kebahagiaan yang ada di dunia ini sebenarnya hanya semu belaka. Meminjam istilah yang ada dalam Al Quran, maka dikatakan bahwa kehidupan di dunia ini adalah senda gurau belaka. Lantas pertanyaannya adalah: apakah Anda bisa memahami kesendagurauan kehidupan ini? Ini penting, karena jika tidak, selamanya kita hanya menghidupi ilusi demi ilusi. Hidup hanya menunda kematian. Kita belum benar-benar hidup. Jika demikian, alangkah sia-sianya kehidupan kita kali ini. Untuk menjadi manusia itu tidaklah gampang. Dalam bahasa agama bahkan diibaratkan seperti rambut yang dibelah tujuh atau bahasa kerennya shirâth al-mustaqîm

Maksud dari istilah tersebut adalah bahwa sebagai manusia kita wajib mengenal jati diri. Banyak dari kita terpedaya oleh gemerlapnya dunia sehingga tanpa sadar mulai melupakan jati diri kita yang asli. Sang Pribadi yang merupakan citra Tuhan, ekspresi Yang Maha Kuasa. Kita terpedaya dengan ilusi dunia. Tentu saja, pandangan mayoritas masyarakat ikut berpengaruh juga di sini. Ingat, seringkali kita memandang sesuatu tidak dengan apa adanya melainkan sesuai dengan persepsi kita. Itulah ilusi pikiran. Bahkan apa yang kita pandang sebagai benda-benda di sekeliling kita itu tidaklah demikian real-nya. Sebagai contoh, besi itu padat atau berongga? 

Jika kita menggunakan mata telanjang maka pasti banyak yang menyimpulkan bahwa besi itu padat. Akan tetapi, jika kita lihat sepotong besi di bawah mikroskop elektron maka akan terlihat bahwa besi itu banyak memiliki rongga. Bahkan jika kita pecah-pecah lagi maka sejatinya besi itu adalah energi yang bergetar-getar. Di sinilah tampak jelas bahwa pandangan mata kita menipu. Pandangan mata kita terbatas. Indera kita terbatas. Oleh karena itu jika kita masih mengandalkan indera kita untuk menyimpulkan realitas yang ada maka selama itu pula kita hanya menghidupi ilusi. Lantas, apa yang harus kita gunakan untuk memahami kehidupan ini?

To be continue....


Artikel terkait

2 komentar

  1. Nunggu Kelanjutannya :), jujur Artikel mantap, an mesti baca dua kali baru bisa masukin dalam otak. hehe

    ReplyDelete
  2. hehe.. bacanya santai aja Mas, buat selingan aja kalau dikampus bosan dikasih dalil-dalil melulu... (sepengetahuanku kampus hijau yang tak hijau lagi sekarang banyak dikuasai paguyuban ahli sorga)jadi sy maklum jika sampeyan merasa gerah keh keh keh.....

    ReplyDelete