KESUKSESAN YANG SEMU

22.11.11

Oleh: Mata Elang

Banyak orang mengejar kesuksesan dan karena kita hidup di tengah pusaran masyarakat yang majemuk maka kita pun akan menemui “norma” kesuksesan. Dalam arti, jika si manusia tadi berhasil memenuhi Kriteria-kriteria kesuksesan yang dilabelkan oleh masyarakat maka ia pun dianggap sukses oleh masyarakat. Akan tetapi, pernahkah Anda mencoba meneliti apa yang dirasakan oleh orang-orang yang Anda anggap sukses itu? Apakah ia juga merasakan sukses? Ternyata kesuksesan yang selama ini hidup di masyarakat adalah kesuksesan yang semu sebagaimana sudah pernah saya posting di artikel MENUNDA KEMATIAN/MENGHIDUPI ILUSI.

Sebelum saya melanjutkan artikel ini ada baiknya jika Anda membaca terlebih dahulu FALSAFAH DALAM TEMBANG MACAPAT yang sudah saya posting DI SINI. Oke, taruhlah kita sudah sampai dan menembangkan dandang gula, lantas kita pun mulai menembangkan durma (darma). Kita mulai melihat sekeliling kita, siapa-siapa yang kiranya butuh pertolongan kita. Namun demikian, terkadang kita pun masih terhijab oleh pandangan fisik dan merasa “paling berjasa” setelah mampu membantu banyak orang. Inilah bahayanya jika kita sudah sampai dalam tahap ini. Kita tidak sungguh-sungguh membantu, tapi justru menjadikan mereka sebagai objek-objek. Dengan kata lain, sikap kita membantu orang lain itu bukan terbit dari nurani terdalam melainkan kita kembali menghidupi ilusi-ilusi, kita menghidupi gagasan-gagasan heroik seperti kemanusiaan, keadilan, perdamaian, dan seterusnya dan sebagainya.

Apakah Anda kebingungan? Perhatikan, segala sesuatu yang timbul dari nurani terdalam tidak memerlukan alasan. Dorongan itu murni tanpa kontaminasi akan gagasan-gagasan heroik, murni tanpa label-label yang dianugerahkan oleh masyarakat. Ia bekerja dalam level kehendak, bukan keinginan, bukan pula kemauan (lebih jelasnya baca DI SINI). Jadi, jika kita melakukan suatu tindakan dan tindakan itu masih memiliki alasan atau embel-embel “karena”, “supaya” berarti tindakan yang kita lakukan masih dalam tataran nafsu.

“saya melakukan ini karena… “

“saya belajar supaya….”

Perbedaan ini memang sangat tipis sekali. Selama menulis artikel ini pun terjadi pergolakan batin dalam diri saya. Saya bertanya-tanya, mengapa saya menulis ini? Apakah ini kehendak, kemauan, atau keinginan? Barangkali menurut Anda hal itu terlalu bertele-tele, namun itulah salah satu upaya memahami diri kita sendiri. Dengan sedikit contoh mungkin akan menjadi lebih jelas. Baiklah, pernahkah Anda mengikuti forum-forum diskusi (terutama yang berbau agama). Banyak saya temui orang-orang dengan keahliannya berbahasa asing tampil menggeledek seperti layaknya pahlawan bertopeng. Tapi sayang, apa yang diutarakannya tidak menunjukkan bahwa ia memang ingin berdiskusi. Alih-alih berdiskusi, mereka terkadang menyampaikan gagasannya dengan bumbu-bumbu caci maki lengkap dengan kata-kata kotornya. Nah, dari sana kita akan belajar menyaring perkataan orang. Kita mencoba mengaktifkan filter jiwa kita. Kita mulai melatih “rasa” kita untuk meneliti, apakah orang itu berkata-kata dari nuraninya atau hanya karena egonya yang terluka?

MANUSIA KUASA

Segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini tak ada yang keluar dari ketentuan-ketentuan hokum alam, sunatullah. Oleh karena itu, segala sesuatu di dunia ini tidak ada yang mutlak harus dicari, dan tidak ada yang harus ditolak secara mati-matian. Bagaimanapun apa yang kita cari atau apa yang berusaha kita tolak itu tidak akan pernah membuat kita merasa bahagia atau sengsara selamanya. Ya, karena ketika kita telah menemukan apa yang kita cari, kita tidak akan puas sampai di situ. Persis, di sinilah alasan bahwa kesuksesan itu menjadi semu. 

Kesuksesan seorang mahasiswa adalah ketika ia berhasil memperoleh predikat caumlaude. Kesuksesan seorang penyanyi adalah ketika ia menjadi tenar dan dikerubuti banyak penggemar. Apakah benar demikian? Lantas, jika sudah dapat predikat caumlaude lalu mau apa lagi, jika sudah terkenal dan punya banyak penggemar lalu mau apa lagi? Apakah hidupnya sampai di situ saja? Anda ingin apa? Mau uang banyak, kedudukan tinggi, rumah mewah, istri cantik? Baiklah, bayangkan Anda sudah mendapatkannya, lalu mau apa lagi? 

Keinginan yang sudah kita gapai akan selalu mulur (memanjang/mengembang). Artinya, kalaupun kita merasa bahagia saat menggapainya, kebahagiaan itu hanya sesaat karena kita akan kembali digelisahkan oleh keinginan baru yang menjadi perpanjangannya. Begitu perpanjangan keinginan kita itu sampai pada suatu titik yang tak mungkin kita capai, maka sedihlah perasaan kita. Jadi, kebahagiaan yang sejati adalah ketika kita mampu dengan “enak” melepaskan kebahagiaan itu untuk diambil kembali.
 
Jangan Anda mengira pergantian episode senang-sedih itu hanya ada di tataran komunitas orang bawah. Rasa hidup manusia itu tak memandang orang kaya, orang miskin, raja, kuli, ataupun wali. Rasa hidup itu tetaplah sama, ada di setiap manusia. Misalnya, orang kaya senang dapat mendirikan pabrik dan orang miskin senang karena dapat jaminan makan selama sebulan. Kesenangan kedua orang tadi pada hakikatnya sama saja.

Sebenar-benarnya sukses adalah ketika kita telah menemukan diri. Ketika kita berhasil melakukan sesuatu dalam tataran kehendak. Memang, hal ini tidaklah mudah. Itulah yang dalam bahasa agama disebut menjadi sebenar-benarnya khalifah. Kita menjadi tajjali Tuhan, insan kamil, manusia sempurna yang mengemban misi rahmatan lil alamin, memahayu hayuning bawana. Hidup ini hanyalah senda gurau (kata Al Quran) seperti layaknya pagelaran drama, sukses adalah ketika kita berhasil menjalankan lakon kita dengan sebaik-baiknya. Menyadari sepenuhnya akan hal ini berarti kita telah menjadi Manusia Kuasa. Manusia Kuasa tidak perlu lagi mencari kuasa karena telah berkuasa. Ia menyadari sepenuhnya bahwa dirinya adalah delegasi Kuasa Tuhan. Nah, sekarang apakah Anda dapat mencerna kalimat: tidak melakukan apa-apa bisa berhasil? Tidak merasa memiliki malah memiliki segalanya?

Catatan:
Yang terjadi sekarang ini, banyak orang yang seharusnya sudah mencapai dandang gula namun ia masih merasa kurang dan kurang. Alhasil alih-alih mulai menembangkan durma ia justru malah menambah dandang. Ironisnya, untuk mengisi dandangnya ia menghalalkan segala cara dengan sikut kiri-sikut kanan. Sungguh, ini adalah kesuksesan yang semu. Kesuksesan yang sebenarnya adalah anugerah "langit" layaknya gelar syuhada itu juga anugerah "langit".

Artikel terkait

0 komentar