PADI SERTANI DI SAWAH TADAH HUJAN

18.3.16



Musim penghujan kali ini tak seperti biasanya. Oktober sudah berlalu, namun hujan tak kunjung datang. Beberapa petani yang sudah terlanjur menyebar benih terpaksa gigit jari. Orang-orang dinas pun turut kebingungan. Di satu sisi sawah masih kering, di sisi lain data realisasi tanam dikejar-kejar atasan. Di pusat sana, para pembesar negeri sibuk rapat untuk menyiasati keterlambatan tanam yang tentu saja bisa menggagalkan target swasembada pangan yang sudah dicanangkan.


Di kota garam ini kondisinya hampir sama dengan kabupaten kabupaten lainnya, malahan bisa dibilang lebih parah. Hujan sama sekali tak turun, bahkan sampai bulan desember, hujan baru turun beberapa kali. 

Ketika mantan tukang lauk mencoba menanam padi

Sebenarnya gak jauh jauh amat sih dari dunia pertanian. Dunia perikanan sebelas dua belas dengan dunia pertanian. Jika dulu saya mengharap hujan turun untuk mengairi kolam, sekarang hujan itu tak tunggu untuk memulai mencoba mainan baru. Tanam padi. Belajar dari model pemeliharaan ikan maka untuk padi pun saya kira hampir mirip. Jika di dunia perikanan air, pakan, dan benih memegang peranan utama sebagai modal awal keberhasilan maka secara analogi tanah (plus air), pupuk, dan benih semestinya juga menjadi modal awal penentu keberhasilan bercocok tanam padi.

Tanah, poin pertama ini tentu saja butuh tenggang waktu yang lama jika ingin diutak atik, maka hal paling logis yang bisa langsung diterapkan agar tampak bedanya adalah dengan penggantian varietas benih dan pupuk. Di kota garam yang sudah terkenal kering ini, benih ciherang adalah benih yang paling banyak ditanam petani. Oleh karena itu saya pun mencoba mencari benih lain selain ciherang yang tentu saja ada embel embel tahan kering di karakter padinya. Setelah searching di dunia maya, maka saya jatuhkan pilihan ke sertani.

Padi yang photonya bagus bagus di dunia maya itu ternyata cukup susah juga nyarinya. Akan tetapi pada akhirnya bisa dapet juga di group facebook. Lantas bagaimana jadinya? Apakah sama seperti di photo? Tentu saja banyak faktor yang akan mempengaruhi. Selain tanah (plus air), pupuk, dan benih, metode tanam, iklim juga turut berpengaruh. Bahkan, suasana hati si empunya tanaman juga turut berpengaruh.

Varietas: Sertani 13 dan Sertani 14
Sawah: tadah hujan (full)
Umur tanam: 35 hari
Pupuk: N 90, P 52, K 44 / Ha
Bacteri: racikan sendiri
Model tanam: konvensional

1hst

15hst

s13 55hst

s14 55hst

s14 vs wangi 55hst

penampakan kondisi tanah 15 hst


NB:
Pemupukan sangat tergantung hujan. Umur 30hst terserang blas 35%. Bakteri kemungkinan mati karena kekeringan
                                      

Artikel terkait

0 komentar