BANYAK MANUSIA PUN BER-MERK

25.10.11

Suatu hari Paijo diundang oleh sahabatnya yang punya perusahaan besar di Jakarta. Bahkan Paijo mendapatkan undangan khusus. Teman Paijo ini sudah menyadari betul kalau si paijo sebenarnya tidak terlalu suka dengan acara-acara mewah seperti itu. Akan tetapi bagi temannya, acara tersebut harus dilakukan karena sebenarnya acara itu untuk Paijo. Ia merasa sangat berutang budi dengan Paijo dan hajatan besar yang ia gelar kali ini merupakan wujud rasa terimakasihnya kepada Paijo.

Singkat cerita, acara hajatan besar itu dimulai. Di halaman hotel berbintang lima sudah banyak mobil-mobil mewah berjajar rapi. Halaman parkir itu tampak penuh dengan mobil-mobil bermerk. Di halaman parkir utama tampak mobil marcedes bercat biru metalik tergolek dengan begitu cantiknya. Itulah mobil temannya Paijo yang sedang punya hajat kali ini sedang si Paijo sendiri yang menjadi tamu utama malah belum datang. Masih ada tempat kosong untuk beberapa mobil di situ dan masuklah mobil taff butut hendak parkir di sebelah marcedes biru metalik. Dengan sigap satpam hotel langsung mendekati mobil butut tersebut dan memberitahu sopirnya bahwa tempat tersebut khusus diperuntukkan bagi para tamu undangan kelas VIP. Dengan sedikit memaksa si satpam meminta agar mobil tersebut diparkir di belakang hotel.

“lhoh Pak, kami kan yang diundang Pak”

“tunggu sebentar”, satpam tersebut lantas masuk ke lobi dan menghubungi rekannya di bagian lain. Karyawan lain tampak keheranan dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Tak selang beberapa lama, yang punya gawe tampak memarahi satpam dan karyawan hotel tersebut. Mereka tak menduga bahwa penumpang mobil butut tersebut ternyata adalah tamu undangan yang sedang ditunggu-tunggu. 

Hikmah apa yang dapat Anda petik dari cerita di atas? Banyak diantara kita itu mementingkan aksesoris luar. Kita selalu terpedaya dan memandang orang berdasarkan penampilan luar dan bukan dalam kapasitas martabatnya sebagai manusia. Maksudnya, ketika kita lebih melihat dandanan seseorang, cara berdiri, cara duduk, daripada cara berpikir mereka. Ketika kita lebih melihat jabatan daripada budi pekertinya dan seterusnya dan sebagainya. 

Pengalaman seperti ini pun pernah saya alami ketika masih menjadi mahasiswa. Oleh adik tingkat saya, saya dikira masuk dalam kelompok mahasiswa “ugal-ugalan” hanya karena penampilan yang sedikit “njenggo” dan sering nongkrong di kantin dengan menghisap nikotin serta candu kafein. Singkat cerita, saya diberi label “mahasiswa kiri” yang identik dengan celana jeans sobek dan prestasi akademik yang minim. Atau yang lebih mengenaskan lagi adalah mahasiswa dengan cap IPOLAH (IPK dua koma Alhamdulillah). Dan ketika mereka tahu bahwa saya jauh dari apa yang mereka sangka, mereka pun geleng-geleng kepala persis seperti satpam yang dimarahi dalam cerita di atas.

Jadi, ketika kita memandang orang lain lebih kepada cap atau merek yang diberikan orang lain daripada perjumpaan personal dengannya, kita bisa masuk dalam perangkap relasi yang impersonal. Saya tak bisa mengatakan bahwa cap itu tidak boleh ada. Cap yang kita berikan atau yang diberikan itu adalah kenyataan yang tak terelakkan. 

Akan tetapi, kita perlu sadar bahwa kebanyakan cap itu tidak mengembangkan pribadi sebelum kita mengambil alih makna cap itu bagi kita. Maksudnya, cap, label, atau merk itu haruslah berlandaskan pada keorisinalan diri kita. Tak jarang orang justru malah menghidupi cap yang diberikan orang lain tanpa mampu mengambil alih cap tersebut. Pada ujungnya, lantaran cap, label, atau merk ini seseorang tak dapat memberikan cinta tanpa syarat.

Kamu boleh datang ke rumahku kalau kamu bawa makanan

Kamu boleh berpacaran denganku kalau kamu berpakaian rapi

Kamu boleh ….. kalau …..

Singkat cerita, seorang pribadi tidak dihargai sebagai seorang pribadi melainkan karena fungsinya, karena jabatannya, karena kepentingan tertentu, karena kedudukannya, dan kebanyakan karena “kekayaan” dan “kesuksesannya”. Orang-orang seperti tampaknya mengalami kesulitan dalam mengembangkan kapasitasnya sebagai manusia. Dan dalam pengamatan saya, mereka juga akan kesulitan untuk memahami cinta sejati, cinta tanpa syarat, kesatuan, kesamaan dalam perbedaan, bhineka tunggal ika. Jika kita masih saja memandang pribadi bukan dalam kapasitas kemanusiaannya atau dengan kata lain kita memandang pribadi dengan cap, label, merk atau aksesoris yang ada di luar dirinya maka selama itu pula kita tak akan pernah bisa “hidup”.

Artikel terkait

0 komentar