COSMIC QUOTIENT

10.4.11

Posting kali ini kita akan membahas apa itu cosmic quotient. Dahulu IQ sangatlah dihargai, kemudian setelah itu EQ, ESQ, lalu IQ dan baru-baru ini CQ. Namun CQ ini belum banyak diminati orang. Hal ini terbukti bahwa masyarakat kita lebih mengahargai orang kaya (materi) daripada orang yang memiliki budi pekerti luhur atau yang berakhlak baik. Padahal untuk mencapai kedamaian hati dan kebahagiaan maka jalan termudahnya adalah malalui pintu spiritual. Dan kita menyebutnya sebagai jalan cahaya.

Jika kita menyelidiki fisika quantum maka akan lebih mudah untuk memahami hal yang satu ini. Kita hidup dalam lautan getaran, vibrasi. Secara sederhana CQ lebih mudah dicapai apabila seorang manusia telah bisa mengatur vibrasi hatinya selaras dengan vibrasi semesta. Contoh paling sederhana yaitu ketika kita berada dalam zona alam, lanskap pantai, gunung atau bentang alam lainnya maka hati kita akan terasa damai. Sayangnya, kehidupan dewasa ini telah dipenuhi dengan kebisingan dimana-mana.

Jujur saja, sesekali akupun akan pergi entah kemana menuju tempat yang minim suara bising. Namun sayangnya kegiatan seperti itu dianggap sebagai kegiatan orang yang kurang kerjaan. Padahal dari sana kita dapat berlatih untuk melihat, mendengar, dan berkata secara singularitas, merdeka dari polaritas. Kita akan bertindak netral atau tidak berpihak.

Ciri paling gampang yang dapat kita lihat dari mereka yang memiliki CQ yaitu ia dapat memahami ayat suci dari agama manapun, kepercayaan apa pun yang membuatnya lebih bijak daripada kebanyakan masyarakat lainnya. Kegiatan gontok-gontokan, pembakaran, pelecehan, pengusiran, dan bermacam tindakan yang lebih mirip kaum barbar mencerminkan bahwa masyarakat kita belum dewasa dalam beragama.

Hukum polaritas

Untuk bisa memahami secara jernih hukum polaritas maka dengan bahasa yang aku pakai mau tak mau harus dicapai dengan jalan “bermalas-malasan” seperti yang aku sebutkan sebelumnya. Di sinilah letak landasan penting untuk bisa memanfaatkan hukum ini dalam mencapai keberlimpahan dan kebahagiaan. Untuk mempelajari, mamahami, dan menguasai hukum polaritas diperlukan pendekatan tanpa keberpihakan, harmoni, selaras, dan netral. Dengan penuh kesadaran menerima adanya “buah khuldi” tersebut, dimana segala sesuatunya datang secara berpasangan. Ibarat bermain piano, jangan pernah alergi untuk memainkan tuts hitam karena permainan alat musik itu akan lebih enak didengar ketika kita bisa memainkan tuts hitam dan putih secara selaras dan harmoni.

Sebenarnya tak ada yang perlu dibicarakan ketika kita telah memahami, merasakan, dan lebih tepatnya mengalami akan urip itu sendiri. Kata-kata dan tulisan seperti ini, sedikit banyak malah akan menarik kesadaran kita ke satu sisi dimana kita merasa lebih mengerti dan kemudian malah menjurus kepada tindakan menghakimi mereka yang sedang berproses menuju kesadarannya akan urip itu sendiri. Anda yang mengerti akan maksud dari tulisan ini pastinya hanya akan senyam-senyum sendiri. Hal ini tak perlu dijelaskan dan memang tak perlu untuk dijelaskan.


diselaraskan dari buku: the power of sound

Artikel terkait

0 komentar