SENI KEMALASAN DAN BAWAH SADAR

10.3.12


Oleh: Mata Elang

Mungkin masih banyak dari kita yang belum paham sepenuhnya dengan aktifitas bawah sadar. Padahal di sana merupakan gudang penyimpanan program dan emosi yang jika isinya buruk niscaya akan buruk pula kinerja dan respon pikiran kita. Contoh sederhana adalah tanggapan Anda terhadap kata “malas” yang aku populerkan dalam blog ini. Apa yang terbesit dalam pikiran Anda ketika Anda mendengar kata “malas”? aku yakin Anda langsung membayangkan orang yang tidak produktif, menganggur, dan atau sukanya santai. Dalam kamus pun “malas” didefinisikan sebagai tidak mau bekerja atau mengerjakan sesuatu. Yang jadi permasalahan itu adalah apakah “malas” itu Anda konotasikan positif atau negatif? Aku yakin pasti kebanyakan dari Anda mengkonotasikan “malas” sebagai hal yang negatif karena norma umum itu telah disepakati oleh masyarakat. Nah, pemaknaan yang melibatkan emosi itu sudah terekam di bawah sadar Anda sehingga tiap kali Anda mendengar kata “malas” maka sikap antipati Anda muncul. Anda mengikuti persepsi umum yang berlaku dalam masyarakat. Namun aku akan beritahu Anda bahwa yang umum itu belum tentu benar. 

Untuk hal yang demikian ini Anda boleh tak bersepakat denganku. Akan tetapi ijinkanlah aku bercerita kepada Anda saat kopernicus mempopulerkan bahwa bumi itu bulat. Jelas bahwa nasib kopernicus tak seberuntung diriku karena saat beliau mempopulerkan bahwa bumi itu bulat ia pun dihukum pancung hehehe. Apakah Anda setuju kalau bumi itu bulat? Pasti Anda akan menjawab ya, namun apakah Anda akan tetap menjawab ya jika Anda hidup semasa kopernicus? Besar kemungkinan Anda tak akan setuju dengan apa yang diutarakan oleh beliau. Bahkan mungkin Anda akan ikut mencibir si kopernikus dan membebek mengikuti pandangan gereja. Jadi, sekali lagi aku katakan kepada Anda bahwa pendapat yang umum itu belum tentu benar. 

Itulah cara kerja bawah sadar. Sebuah pemikiran dapat masuk ke bawah sadar Anda melalui repetisi atau pengulangan. Sejak kecil Anda selalu dididik untuk menjadi anak rajin dan bekerja keras sedangkan malas dikonotasikan sebagai hal yang negative. Akibatnya, sampai sekarang pun orang tak akan mampu memahami seni kemalasan ini keh keh keh. 

Merombak makna malas

Dengan malas, maka banyak terjadi penemuan penemuan penting. Tak percaya? Oke aku kasih contoh. Orang yang malas itu kecenderungannya santai. Karena sangat santai maka yang berkembang di otaknya adalah imajinasi. Mulailah timbul pertanyaan pertanyaan dalam diri. Lihat burung, ia bertanya bagaimana caranya bisa terbang, maka terciptalah pesawat terbang. Lihat matahari pagi, timbul pertanyaan mengapa matahari bisa bersinar? Maka terciptalah lampu. Tepatnya, ide kreatif seringkali selalu muncul dan ditangkap oleh mereka; para pemalas. Bukan para pekerja keras. Bukan orang yang selalu sibuk sampai-sampai tak sempat untuk sekedar melihat matahari terbit dan tenggelam. Mengenaskan.

Pertanyaan lebih dalam yang biasanya muncul di pikiran para pemalas yaitu: darimana semua ini berasal? Lebih dalam lagi, mengapa aku ada? Mengapa aku hidup? Siapa aku? Maka kata Sang Rosul Agung:

Siapa yang mengenal dirinya, ia mengenal Tuhannya,”
 
dan sebagaimana dikatakan dalam Al Quran :
“Akan Kami tunjukkan ayat-ayat Kami di dunia ini dan dalam diri mereka agar kebenaran tampak bagi mereka.”
 [QS 41 : 53]

Aku ngikutin Sang Rosul lho ya. Aku nggak mengada-ada lho. Bukankah dulu Sang Rosul Agung itu sukanya “nongkrong” di Gua Hira? Berarti Sang Rosul pemalas juga bukan? Kerjaannya Cuma “nongkrong” saja. Sama juga sepertiku, nongkrong di gubuk sawah, di pintu waduk, di tepi laut, di pinggir jalan juga pernah. Wah tunggu, jangan marah dulu. Di sini yang jadi permasalahan adalah mengenai pemaknaannya saja. Seperti pemaknaan yang ditujukan oleh kebanyakan orang terhadap para pemalas. Jadi, bagaimana? Jangan anggap remeh pemalas, pemalas itu sudah betul seperti dicontohkan Nabi. Mengilhami beliau sesuai dengan tindak tanduknya.

Sebenarnya yang dilakukan Rosul di Gua Hira apa sih? Apa benar cuma “nongkrong” begitu saja. Aku kok curiga, jangan-jangan ada sesuatu yang lebih dari sekedar “nongkrong”. Dan anehnya lagi, katanya wahyu pertama itu juga turunnya di Goa Hira, tempat nongkrongnya Sang Rosul Agung. Sepertinya aku ini terlalu dungu memikirkan hal serumit itu. Atau aku ini terlalu malas hingga sempat-sempatnya memikirkan hal yang tak penting seperti itu. Apa benar demikian?

Hubungan malas dan melepas

Jika kita mau mencermati lebih lanjut maka “malas” yang berarti tidak melakukan apa-apa ini sebenarnya erat hubungannya dengan melepas. Seni kemalasan ini pun adalah sarana untuk memasuki gerbang bawah sadar. Maaf saja, malas bagiku teramat penting untuk dipraktekan. Belakangan ini aku pun sedang bersemangat mencari benang merah antara seni kemalasan dan meditasi budha. Dan ternyata klop sekali, silakan baca lagi kisah seorang Ajahn Brahm DI SINI. 

Jika kita kaitkan dengan ayat yang aku sodorkan di atas, maka seni kemalasan ini akan mengantarkan kita kepada ayat-ayat di dalam diri sehingga kebenaran akan nampak. Pikiran Anda akan menjadi sedemikian jernih untuk mengambil keputusan terhadap segala problem kehidupan dengan cara yang bijaksana. Semakin dalam Anda menyelam ke dalam diri maka Anda pun akan menyadari bahwa kebahagiaan yang ditawarkan oleh dunia ini sebenarnya kebahagiaan yang semu. Dunia kita ini humor sekali. Hahaha… Anda mungkin tak mengerti apa yang aku katakan. Tapi inilah kenyataannya, kita hidup di alam ilusi. Praktekkan seni kemalasan maka Anda akan menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya. 

Nb: berikut ini adalah “kebenaran” yang lebih diamini banyak orang karena pengkondisian

  • Untuk bisa bahagia saya harus punya banyak harta
  • Untuk bisa punya banyak harta saya harus bekerja keras
  • Untuk bisa dihormati orang saya harus berpendidikan
  • Saya harus buru-buru karena waktu sangatlah terbatas
  • Saya perlu menunjukkan keunggulan saya di atas orang lain
  • Saya harus bersaing
  • Saya harus menang dan Anda kalah
  • Orang yang berpenampilan rapi adalah orang baik
  • Orang yang spiritual pasti miskin

Semua itu telah terekam di bawah sadar kita sehingga seolah-olah menjadi “kebenaran”. Sungguh, selama ini kita tidak memandang sesuatu dengan apa adanya melainkan dengan persepsi kita.

Artikel terkait

0 komentar