MALAS ITU PANGGILAN DARI SORGA

27.2.12


Oleh: Mata Elang

Malas itu adalah panggilan dari sorga. Malam ini aku kembali tetirah di kamar cintaku untuk membikin artikel yang luar biasa dahsyat ini. Dalam sebuah kontemplasi yang mendalam aku menemukan kembali inti kemalasan yang sungguh klop dengan hukum-hukum alam. Ya, setelah beberapa hari ini aku cukup bekerja keras memikirkan ini itu ternyata eh ternyata aku hampir saja melupakan seni kemalasan, permainan, dan senda gurau ini. Namun bagaimana pun itu Tuhan yang begitu pemurahnya tak lupa memberikan radar malas ini kepada tiap hambaNya yang sedang capek kelelahan karena kerja keras. Bah… persis seperti itulah, apa yang dihasilkan dari kerja keras beberapa hari ini adalah kecapaian dan tepat saat itu radar malas alias panggilan dari sorga ini kembali menyapa diriku…

Saat semesta mulai ngambek

Satu hal yang perlu Anda sadari saat Anda mulai keluar dari jalur kemalasan ini adalah saat tubuh Anda mulai ngambek untuk diajak kerjasama kesana kemari. Biasanya saat yang demikian itu pula perasaan Anda juga akan semakin kalut, cemas, dan marah. Lebih tepatnya, perasaan yang kurang enak itu adalah indikasi bahwa semesta mulai ngambek dan tak mendukung Anda dalam daya mencipta yang sudah built in dalam diri setiap manusia. Dapat juga dikatakan bahwa Anda tidak lagi masuk dalam zona euporia yang berarti keluar dari performa puncak (baca lagi DISINI).

Mari kita kaitkan dengan hukum alam. Sebelum itu baiknya kita tinjau dulu cara Tuhan dalam menciptakan semesta raya ini. Di dalam kitab disebutkan bahwa Tuhan mencipta semesta ini dalam enam hari dan mulai hari ketujuh Tuhan pun “beristirahat”. Luar biasa…. Apakah Anda bisa mencerna pengetahuan yang maha cerdas ini? Dalam Islam ada yang disebut sebagai insan kamil, manusia paripurna dimana ia hanya menjadi wayangnya Tuhan. Bahasa tasawufnya ia menjadi tajjali Tuhan atau citra Tuhan. Nah, performa puncak erat kaitannya dengan hal ini. Daya cipta yang luar biasa hanya bisa kita ekspresikan saat kita dengan lapang dada mau menjadi wayangnya Tuhan Sang Maha Dalang. Persis di sinilah semesta akan dengan senang hati mau membantu Anda.

Sebuah ilham ajaib muncul begitu saja saat aku mulai kecapaian. Ada dorongan yang luar biasa dahsyat yang memaksaku untuk sejenak beristirahat akibat keluar dari jalur malas dan mengantarkanku untuk jalan-jalan melepas kepenatan sampai pada akhirnya semesta mempertemukanku dengan ajaran dari Ajahn Bram. Hohoho rupa-rupanya semesta sedang ingin mengingatkan diriku lewat buku karangan Beliau SUPERPOWER MINDFULNESS. 

Menentang hukum alam, mengkhianati Tuhan

Karena hukum alam merupakan hukum hasil karya Tuhan maka jelas bahwa menentang hukum alam berarti mengkhianati Tuhan. Dan seperti yang sudah disinggung dalam blog super malas ini, hukum alam itu sifatnya malas. Mulai dari hukum gravitasi, hukum tarik-menarik yang super malas itu (minta, bayangkan, terima), hukum polaritas, hukum getaran, dan seabrek hukum-hukum alam yang lain semuanya didesain dengan prinsip malas. 

Aku tak mau berpanjang lebar dengan hal ini. Baiknya kita tengok hukum gravitasi dan tarik menarik sebagai contohnya. Hukum gravitasi memungkinkan sebuah benda jatuh dari ketinggian dengan jalur terkecil. Batu yang Anda lempar ke atas akan jatuh ke bumi dengan membentuk garis lurus bukan zigzag. Nah, saat tujuan Anda seolah-olah tidak didukung oleh semesta, Anda perlu menginstropeksi diri Anda sendiri. Alih-alih membentuk jalur lurus, mungkin Anda sedang salah jalur dengan membentuk jalur zigzag dalam upaya mencapai tujuan Anda.

Sama halnya dengan hukum gravitasi, hukum tarik-menarik lebih jelas lagi dalam mengungkap hal ini. Jika hukum gravitasi hanya dapat dijadikan analogi saat Anda sudah keluar jalur alias kecapaian karena kerja keras, hukum tarik menarik berkaitan langsung dengan perasaan Anda. Buku Ajahn Brahm telah mengingatkanku akan hal ini. Aku akan kutipkan beberapa paragraph yang ada di buku tersebut. Simak kisah beliau di bawah ini:

Membuat kesepakatan dengan pikiran

Saya melewatkan masa retret musim hujan saya yang keenam sebagai bikhu dengan mengucilkan diri sepenuhnya di wilayah pegunungan terpencil di dataran tinggi Thailand Utara. Setelah beberapa saat, meditasi saya mulai berantakan. Semakin keras saya berusaha menundukkan pikiran gelisah saya, pikiran malah jadi semakin liar mengembara. Pemikiran-pemikiran tak berkebhiksuan seperti nafsu dan kekerasan akan menguasai pertahanan saya dan bermain semaunya dalam pikiran saya. Segera saja, hal itu tak tertangani lagi, tetapi saya tidak punya teman untuk menolong saya. 

Suatu hari dalam keputusasaan, saya menyatakan sebuah tekad di depan arca Buddha besar di aula utama. Saya membuat kesepakatan: satu jam setiap hari, dari pukul tiga sampai empat sore, saya akan mengizinkan pikiran saya yang ugal-ugalan ini untuk berpikir apa pun yang disukainya. Seks, kekerasan, roman, bahkan fantasi-fantasi paling sinting pun diperbolehkan selama satu jam itu. Sebagai balasannya, saya meminta pikiran saya untuk tinggal bersama napas selama sisa waktu pada hari itu. 

Rencana itu tidak benar-benar berjalan sebagaimana yang saya rencanakan. Selama sebagian besar waktu pada hari pertama, pikiran saya tetap sama berontaknya dari sebelumnya. Pikiran menolak bersepakat mengikuti napas saya. Pikiran menyepak dan melonjak-lonjak dengan liarnya bagaikan kuda liar di rodeo. Lalu pada pukul tiga sore, saya berhenti berjuang. Saya menyandar pada tembok pondok saya untuk mengistirahatkan punggung saya yang nyeri, menjulurkan kaki-kaki saya ke depan untuk meredakan lutut saya yang pegal, dan member izin pada pikiran saya untuk berbuat apa saja yang dimauinya. 

Herannya, selama enam puluh menit selanjutnya, pikiran saya mengikuti setiap napas dengan begitu mudahnya. Seolah-olah pikiran tidak ingin melakukan apapun selain hanya bersama napas! Pengalaman itu mengajarkan saya perbedaan antara melepas dengan berusaha melepas. Ini adalah salah satu pelajaran yang paling dramatis dalam hal melepas.

Luar biasa…. Tidakkah radar malasku bekerja dengan tepat? Panggilan dari sorga ini seolah-olah telah mengingatkanku akan seni kemalasan lewat tulisan menggungah dari seorang Ajahn Brahm. Perhatikan kata yang aku cetak tebal! Ini mirip dengan keadaan sesaat sebelum aku memenuhi panggilan dari sorga untuk berjalan-jalan ke gramed. Pikiran yang gelisah itu sengaja aku istirahatkan dan dalam sekejap aku telah disadarkan bahwa aku sedang ke luar dari jalur kemalasan. Belakangan aku menyadari bahwa beberapa hari ini aku terlalu disibukkan dengan pikiran dan lupa untuk menikmati mentari terbit dan tenggelam. Tepat saat itu juga mendadak aku pun senyam-senyum sendiri karena setelah searching di mbah google, buku malas masterpiece blog ini yang super aneh itu sudah limited stok dan yang lebih membahagiakan lagi adalah ada seseorang  yang menulis resensinya DI SINI. Kebahagiaan seorang penulis adalah ketika buah pikirnya diapresiasi oleh para pembacanya. Waw, malas benar-benar panggilan dari sorga…. Keh keh keh keh…. Kamsia kamsia Lord, semesta, dan Ajahn Brahm….. 

Dengan pikiran yang bebas dari nafsu keinginan
Dan dengan mempertahankan jiwa yang tenang
Kuamati siklus kehidupan yang sedang berkembang biak
Kuamati masing-masing akan kembali pada akar asalnya
Kembali ke akar asalnya berarti kembali ke alam yang tenang
Jadi mereka kembali kepada takdirnya masing-masing
Kembali kepada takdirnya berarti telah mengikuti hukum alam
Mengikuti hukum alam berarti telah mencapai pencerahan
Bila tidak mengikuti hukum alam berarti orang itu akan berbuat sewenang-wenang
Mau menampung semuanya baru bisa disebut adil
Jika sudah berbuat adil baru mau melayani semuanya
Mau melayani berarti telah berbakti kepada Tian (Alam Semesta)
Mau melayani berarti sudah mengikuti prinsip Dao (Kebenaran/Tuhan)
Bila mengikuti prinsip Dao baru mampu bertahan lama
Selama hidupnya tidak akan mengalami bahaya
-Lao Zi-

Artikel terkait

0 komentar