PAIJO: MANUSIA ITU KAN WATAKNYA "SIAL" MAN…

20.12.11

Oleh : Mata Elang

Seperti biasanya, Paijo kalau malam hari terlihat bersantai di warkop Pak Bejo bersama kawan-kawannya. Sambil menikmati kopi manis, ia seringkali ngobrol ngalor ngidul tentang apa saja. Dari topic seputar selangkangan sampai hal yang berbau kelangitan. Di sana tak ada guru dan murid, yang ada hanya berbagi cerita dan pengalaman.

Paiman  :Jo, gw heran ma lo. Tiap malem ngopi mulu kayak nggak punya kerjaan aja?
Paijo      :lhoh, emang kamu punya kerjaan apa buat gw?
Paiman  :ngejek lo ya. Orang gw aja dikejar deadline mulu tiap hari, lo malah minta kerjaan ke gw
Paijo      :emangya dari apa yang km lakuin, apa yang km dapet?
Paiman  :gajian lah, sebagian gw tabung sebagian buat kebutuhan sehari-hari
Paijo      : ngapain nabung?
Paiman  :lo gimana sih, klo ngga nabung gimana nanti masa depan gw? Gw bias menderita ntar
Paijo      :emangnya kalau km nabung, ada jaminan ya kalo km nanti tidak menderita?
Paiman  :hm… ya engga sih, tapi kan itu usaha wat jaga-jaga Jo. Lhah lo sendiri ngapain coba? Nggak produktif
Paijo      : wah, emangnya kamu tahu apa yang gw lakuin Man?
Paiman  :lhah itu. Lo kan Cuma ngopa-ngopi saban hari Jo…
Paijo      :ah, kamu itu lho Man. Kalau pendapatmu gitu ngga papa juga sih. Tapi jangan salah lho Man, gini-gini gw nyaman bebas lepas dari stress, tak ada kekhawatiran, dan yang terpenting apa yang gw mau semua bisa terwujud1. Enak kan Man? Kamu tadi nabung kan karena menurut anggapan kamu kalau nabung nanti masa depan bisa terjamin. Lhah, padahal kan nggak ada jaminannya Man.
Paiman  :lhah, emang lo ada njamin Jo?
Paijo      : hadeh, kamu itu lho. Kemaren bilang kalau orang beriman itu harus percaya pada Tuhan. Lha sekarang kok malah nggak percaya sih Man? Tuhan kan yang njamin Man.
Paiman  :maksud lo Jo?
Paijo      : lhah, itu tadi kamu bilang masa depan harus direncanain, kata kamu biar nggak menderita. Dari sana kamu lantas menganggap harus begini begitu. Dengan kata lain, kamu itu sebenarnya merasa nggak punya kuasa dengan masa depan dan lantas begini begitu. Kamu dihantui rasa takutmu sendiri Man. Rasa takutmu dengan masa depan justru menunjukkan bahwa kamu nggak begitu yakin dengan Tuhan2.
Paiman  :gw malah semakin bingung Jo?
Paijo      : Man, manusia itu wataknya sial Man. Misalnya, ia kini muda belia, tidak ingin menjadi tua, namun terpaksa ia harus mengalami tua. Maka dari itu, siallah baginya dalam menolak usia tua. Misalnya, kini ia hidup nggak mau mati. Namun terpaksa ia mengalami mati. Maka siallah baginya dalam menolak kematian. Misalnya, kini ia kaya memiliki banyak harta dan rumah, dan tidak ingin hartanya musnah. Namun, ia tak tahu apakah harta kekayaannya itu bisa lestari atau tidak. Siapa tahu ada bencana, rumah dan kekayaannya habis terbakar. Maka, siallah manusia dalam karena tak mengetahui kelestarian harta bendanya. Misalnya, kini ia berkedudukan tinggi dengan penghasilan besar, tidak ingin kemerosotan keadaannya. Namun, siapa tahu bulan mendatang ia dipecat dari pekerjaannya. Maka malanglah manusia karena tidak mampu mengetahui keadaannya di kemudian hari. Misalnya, kini ia punya anak dan istri/suami yang serasi dan tidak ingin berpisah. Namun, siapa tahu hari-hari mendatang ia bertengkar dengan istri/suami hingga menyebabkan perceraian. Sementara anaknya meninggal dunia. Maka siallah manusia yang tak dapat menjamin kelestarian rumah tangganya. Misalnya…
Paiman  :sudah sudah. Cukup cukup…
Paijo      :lhoh… aku belum selesai Man. Bahkan, kesialannya meliputi ketidaktahuan dan ketidakpahamannya tentang akan tercapai atau tidak idam-idamannya yang beraneka warna. Andaikata kesemuanya itu tak tercapai, apakah tak membuatnya kecewa? Andaikata tercapai, apakah tak membuatnya khawatir kalau-kalau segala yang diperolehnya itu terlepas lagi? Kalau idam-idamannya yang telah dicapai hilang lagi, apakah tidak membuatnya menyesal, sedih, dan takut? Maka setiap orang, di mana saja, kapan saja, dan bagaimana saja, selalu akan “malang” sifatnya.

                 Nah, ini sebenarnya kaitannya erat dengan keyakinan orang beriman lho Man. Coba amati, kecenderungan manusia itu merasa dirinya lemah dan tak punya kuasa. Oleh sebab itu, ia mencari Yang Kuasa dan memohon-mohon agar keinginannya tercapai. Yang seperti ini ada yang menyebutnya “menyembah” ada yang menyebutnya “berdoa” dan konon Yang Kuasa itu selalu mengabulkan doa orang beriman. Tapi lagi-lagi banyak yang kecewa karena doanya itu nggak juga dikabulkan. Dari sini harusnya manusia sudah sadar bahwa memang manusia itu selalu “sial” sifatnya. Apabila sudah mengerti bahwa manusia itu sial, maka kita tak lagi mencari kuasa dan dengan sendirinya merasa berkuasa. Merasa berkuasa itu rasanya enak. Jadi, jika manusia itu “menyembah” (jika harus dikatakan demikian) atau “berdoa” (jika memang itu dilakukan) harusnya yang selaras dengan kesadaran bahwa manusia itu sifatnya sial. Ia tak mencari kuasa dan dengan sendirinya merasa berkuasa atau merasakan enak di hati. Nah, yang begini ini yang kata mbah-mbah kita itu bersatulah yang menyembah dan Yang Disembah. Yang Menyembah ialah Yang Disembah, dan Yang Disembah adalah Yang Menyembah3. Bahasa kerennya sirnaning kawula Gusti atau loro-loroning Atunggal. Hadeh… entar kamu bilang sesat bin kafir lagi Man. Heu… heu….
Artikel ini adalah versi dialog dari penjelasan mengenai Doa yang sudah aku posting DI SINI. Selain itu, dapat pula sebagai keterangan lebih lanjut dari cerita dalam buku PKBM dimana ada seorang kyai yang bilang bahwa sebenarnya orang menabung itu fungsinya hanya dua. Kalau tidak untuk sedekah ya untuk ngasih hutang ke orang. Dengan demikian maka apa yang dilakukan seseorang hanyalah praktek keiklhasan: Nglurug tanpa bala, sekti tanpa aji-aji, sugih tanpa banda, menang tanpa ngasorake. Trimah mawi pasrah, suwung pamrih tebih ajrih. (bertempur tanpa bala bantuan, sakti tanpa mantra, kaya tanpa harta benda, menerima dengan berserah diri, sepi pamrih jauh dari rasa takut). Hidup mereka sederhana dan tergolong manusia langka. Jika pun "kaya", mereka tidak melekat pada kekayaannya. Semoga bermanfaat dan dapat dipahami secara bijak. 

1”Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati“ (Q.S. Al-Baqarah ayat 62)

2“Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-NYA kepadamu. Dan ALLOH tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri;yaitu orang -orang yang kikir dan menyuruh orang lain berbuat kikir. Barang siapa berpaling (dari perintah ALLOH), maka sesungguhnya ALLOH, DIA Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”(Q.S. Al-Hadiid ayat 23-24)

3Maka, berdzikirlah padaKu, niscaya Aku berdzikir kepadamu, dan janganlah kamu mengingkari  (anugerah)Ku (Q.S. Al Baqarah ayat 152)

Artikel terkait

0 komentar