Mahasiwa: ketika idealisme berbenturan dengan realitas

2.6.11

Mudanya, ia adalah garda paling depan dalam jajaran pendemo di istana presiden. Yel-yel antikorupsi demikian membahana, membumbung ke langit sampai menembus singgasana Tuhan di arsyNya. Darah mudanya demikian membara atas nama penyambung lidah rakyat, katanya. 

Sore itu aku melihat segerombolan pemuda-pemudi ini merangsek di jalanan sambil membawa puluhan spanduk, bendera warna-warni, serta jaket-jaket almamater yang bau kain barunya masih menyengat di lobang hidungku. Mereka tampak gagah, maskulin, feminism, dan kecerdasannya terpancar di rona wajah mereka. Aku terpaksa menurunkan laju sepeda motorku tepat disekitaran mereka berorasi. 

Demi idealismenya aku tampaknya harus lebih legowo untuk mengulur waktuku sampai tiba di tempat tujuan. Mereka itu para pejuang rakyat, dengan jaket lengan terlipat seolah menjadi symbol keterlipatan nasib rakyat juga mereka para pemuda gagah perkasa yang nanti ikut telipat.

Aku tahu betul dengan pikiran mereka, tata cara mereka, gelegak darah mudanya, idealisme yang tumbuh gagah di dadanya. Aku juga pernah muda. Ah, aku tak tega jika harus mengatakannya. Mereka masih teramat hijau. Nanti, ya nanti mereka akan tahu. Mereka harus masuk dalam lingkaran setan itu. Menelan ludah mereka sendiri, bahkan menjilat yang sudah mereka muntahkan. Ah, aku tak tega melihat pemuda-pemuda gagah itu mendadak loyo layaknya manusia tanpa tulang, tersudut dijalanan. 

Wahai pemuda, nanti… disaat kau harus menghadapi realita pastinya kau akan terkaget-kaget. Kau akan berhadapan dengan setan paling angkuh di dunia. Terserah kau, mau tersingkir, minggir atau menarik kata-katamu lagi. Kau tak punya pilihan yang empuk nak, pilihanmu hanya tiga: minggir tersingkir, melepas jubah idealismemu, atau masuk mulut kapitalisme, menjadi kaki tangannya. Itu semua terserah kau saja….

Artikel terkait

0 komentar