MENCARI TUHAN DI WARUNG KOPI

28.2.11

Buku ini sampai sekarang menjadi salah satu favorit saya. Waktu itu saya temukan buku ini ngampar di emper toko di dalam kampus. Terus terang saja saya tertarik akan judulnya. P R O V O K A T I F bos. Pas banget dengan kebiasaan saya yang suka ngopi dan nongkrong di warung. Maklum saya kan pemalas yang kaya dan bahagia huahahahaha. 

Untuk Anda yang berani tersesat menuruti hati nurani, buku ini sangat-sangat recomended. Walau awal-awal pasti bingung gak ngerti pokok bahasannya tapi lambat laun seiring berkurangnya umur pasti sedikit banyak dapat mengerti. Dulu saya baca baru satu bab saja nih kepala sudah cenut-cenut.

Buku ini adalah hasil karya Mas Ilung atas kegelisahannya mengikuti jalan sepi di rimba tasawuf. Ke mana pun kita menghadap maka di situlah "wajah" Tuhan. Tuhan juga lebih dekat daripada urat tenggorokan kita. Bahkan ketika manusia berpisah dengan jasadnya ia tetap belum lepas urusan dengan Tuhan. Tuhan tidak pernah memisahkan diri dalam suatu ruang tertutup dan selalu membuka diri kepada setiap hamba-Nya untuk ditemui. Karena manusia secara esensial berasal dari Tuhan, maka manusia juga selalu rindu untuk kembali kepada Asalnya. Tapi, manusia sering kali merasa terasing meskipun Tuhan amat mudah didekati. Salah satu penyebabnya adalah karena karena banyak orang-orang saleh telah membangun tabir yang sulit ditembus; tasawuf sebagai jalan menghampiri Tuhan telah dibuat terlalu elitis dan kaku. Mereka seperti telah memonopoli Tuhan hanya untuk kalangan mereka sendiri. Begitulah kiranya Ilung S. Enha mengisahkan kegelisahan spiritualnya dalam melakukan pencarian.

Bagi Ilung, Mencari Tuhan di Warung Kopi tentu saja bukan omong kosong. Berlama-lama di tempat ibadah pun bukan jaminan bahwa seseorang senantiasa ingat kepada Tuhan. Bukankah Tuhan juga tidak pernah membatas-batasi hamba-Nya untuk terus menemui-Nya? Buku ini menawarkan sebuah pandangan baru dalam mencari Tuhan secara akrab, elegan, dan sekaligus menyenangkan.

Artikel terkait

0 komentar