ubek2 daleman (CARI HARTA KARUN)

Memuat...

TRANSLATE IN YOUR LANGUAGE

25.3.12

BERDAMAI DENGAN DIRI SENDIRI

Setelah sekian lama ngga update blog ini dikarenakan radar “malas”ku sedang menuntunku ke arah kesibukan lain, kali ini aku akan share sebuah note yang cukup menggugah dari seorang teman facebookku, saudara Arif RH. Dari sejak pertama menjalin pertemanan dengan beliau aku cukup tersentak melihat status-statusnya yang cukup vulgar, segar, sekaligus menampar bagi mereka yang awam keh keh keh. Melalui status-status tersebut dan juga note-notenya yang seringkali aku curi baca, sedikit banyak telah menunjukkan karakter beliau kepadaku. Dan ternyata jalan hidup beliau mirip denganku. Bedanya, beliau sudah sekian lama bergelut dalam track hidupnya sedangkan aku bisa dibilang baru-baru saja. Jika dalam buku pertama aku mengaitkan seni kemalasan dengan bahasan kebumian, maka dalam buku kedua aku akan menggabungkan seni kemalasan dalam topic kebumian dan kelangitan dengan lebih komprehensif lagi. Ya...... jika ada yang masih bingung dengan seni kemalasan atau nggak setuju dengan seni kemalasan, aku sangat memakluminya karena seni kemalasan sebenarnya berhubungan dengan bahasan kelangitan. Berikut ini adalah note dari saudara Arif RH yang sudah aku mintakan izin untuk aku share di blog ini. “Kebetulan” topic bahasannya pas banget dengan blog supermalas ini keh keh keh. Sedikit banyak note tersebut menyentuh bahasan kelangitan, yaitu yang melibatkan manusia itu sendiri sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Lao Zi: 

Empat Besar

Ada sesuatu yang samar-samar di luar alam semesta
Jauh sebelum langit dan bumi ini diciptakan sudah ada
Oh! Betapa sunyi dan heningnya keadaan pada waktu itu
Keberadaannya bebas tunggal dan tidak pernah berubah
Dia berkeliling kemana-mana tanpa henti
Dia bisa disebut Ibunda yang menciptakan dunia ini
Aku tidak tahu siapa namaNya
Agak terpaksa aku beri nama Dao
Kalau mau dipaksakan lagi aku beri nama Mahabesar
Besarnya tanpa batas dan tidak bisa kelihatan
Tidak bisa kelihatan berarti keberadaanNya amat jauh
Meskipun jauh Dia akan kembali lagi kepada ciptaanNya

Maka,
Dao adalah besar
Langit adalah besar
Bumi adalah besar
Manusia juga besar

Di alam semesta ini ada empat besar
Makhluk manusia juga termasuk salah satu yang besar
Manusia mengikuti jalannya hukum bumi
Bumi mengikuti jalannya hukum lagit
Langit mengikuti jalnnya hukum Dao
Dao mengikuti jalannya hukum alam

BERDAMAI DENGAN DIRI SENDIRI

Dalam beberapa kesempatan seminar dan workshop sering ada pertanyaan dari peserta tentang bagaimana MENGHILANGKAN RASA MALAS . Saya tegaskan bahwa sampai alam semesta hancur lebur pun rasa malas itu tidak akan bisa kita hilangkan. Para peserta bingung dengan jawaban saya itu. Dan bisa jadi ada beberapa di antara anda yang membaca tulisan saya ini pun jadi bingung. Lho kok motivator bilang begitu? Kan sudah saya bilang saya ini bukan motivator, he he. Waktu dulu tahun 2007-2009 ketika saya ditanya demikian pasti saya akan berikan TIPS TIPS JITU MENGHILANGKAN RASA MALAS weheeee keren khaaan? Motivator gitu loooh. Dan soal tips-tips tersebut seringkali saya sendiri GAGAL dalam mempraktekannya untuk diri saya sendiri. Hanya berhasil di awal lalu tidak efektif lagi. Nah sering gagalnya jurus-jurus yang saya pelajari membuat saya merenung apakah ada sesuatu yang salah saya pahami tentang manusia ini? Khususnya tentang diri saya ini? Mengapa ada suatu saat berpikir positif dan berperasan positif itu sangat sulit dilakukan. Semakin saya lakukan semakin saya menderita. Nampak di permukaan saya bahagia, tapi ada ketegangan jiwa yang mengguncang saya.

Dulu saya meyakini bahwa “Kunci sukses adalah ketika kita sudah MENGALAHKAN DIRI SENDIRI” Ternyata seiring waktu saya menemukan jawaban yang lebih bijak. Kuncinya justru BUKAN MENGALAHKAN DIRI SENDIRI melainkan BERDAMAI DENGAN DIRI SENDIRI. Selama ini saya telah terjebak pada dimensi TEKNIK saja dan melupakan tentang FILOSOFI MANUSIA. Ya, soalnya waktu kuliah saya ini penggila filsafat, sampe muak pokoknya. Setelah menerjuni dunia pengembangan diri ogah lagi bahas filsafat, namun ternyata pengetahuan filsafat itu masih sangat dibutuhkan. Akhirnya mulai saya menyelami kembali dimensi filsafat khususnya mengenai filosofi manusia ini. AHA !!! Ini dia kuncinya. Sebuah kenyataan bahwa MANUSIA ITU SEMPURNA. Sempurna ini merupakan TANDA bahwa segala sesuatu yang ada di dalam diri manusia SEMUANYA ya memang HARUS BEGITU ADANYA. Artinya jika kita berupaya membuang segala sesuatu yang sudah ada di dalam diri manusia ya sudah pasti tidak akan bisa. Lha wong itu perlengkapan “onderdil” nya manusia kok mau dibuang.

Dalam pelatihan saya biasa mencontohkan yang di awal tadi soal MALAS. Saya tanya kepada audience. “MALAS itu BAIK atau BURUK?”. Biasanya 100 persen peserta akan menjawab BURUUUK !!!. Saya tanya lagi, “Kalau RAJIN itu BAIK atau BURUK?. Serempak mereka menjawab, “BAIIIK”. Kemudian saya tanya lagi, “Kalau MALAS KORUPSI?”. Anehnya peserta menjawab, BAIIIK !! “Kalau RAJIN KORUPSI?”. “BURUUUK !!” “Kalau MALAS MEMFITNAH ORANG?”. Peserta menjawab lagi, BAIIIK !!!. “Kalau RAJIN FITNAH ORANG?”. “BURUUUK !!! Saya tanya lagi, “Kalau MALAS IBADAH?”. Peserta menjawab, BURUUUK !!!. Saya tanya lagi, “Kalau MALAS SEDEKAH?. Peserta menjawab, BURUUK !!. Jadi, MALAS itu BAIK atau BURUK? RAJIN itu BAIK atau BURUK? Mereka bingung. Iya ya? Nah loh. Satu kata akhirnya. TERGANTUNG !!! MALAS DALAM HAL APA DULU? RAJIN DALAM HAL APA DULU?

Dari contoh tersebut jelas MALAS dan RAJIN ini pada dasarnya NETRAL. Dan karena netral baik dan buruknya tergantung situasi dan kondisinya, tergantung konteksnya. Lha kalo udah tau gini terus masih berpikir MEMBUANG RASA MALAS ya saya kira itu “rodho gendheng”. Lha wong itu perangkat kelengkapan kita kok mau dibuang. Sekarang, bayangkan kalau anda TIDAK PUNYA RASA MALAS” dan anda “TERLALU SANGAT SANGAT RAJIN”. Bisa-bisa anda workaholic dan memforsir tubuh anda. Saat rekreasi jalan-jalan di pantai, anda tetap saja memikirkan pekerjaan di kantor, saking rajinnya. Tapi juga sebaliknya jika TERLALU MALAS ya BAHAYA!! Anda akan sering menunda pekerjaan dan akhirnya semuanya berantakan. Di satu sisi malas bisa menurunkan kualitas kita, di sisi lain sangat membantu kita agar bisa beristirahat total.

Nah karena ketidaktahuan saat seseorang malas ia berperang dengan rasa malas itu secara frontal dan berupaya membuangnya. Bahkan ia membenci dirinya. Ia melabeli dirinya sebagai PEMALAS. Kemudian ia sering melakukan afirmasi, SAYA RAJIN, SAYA RAJIN !!! Saya tidak tau bagaimana dengan anda, tapi saya pribadi merasa MENDERITA dengan cara ini. Memang badan bergerak, tapi jiwa ditekan terus menerus. Kita tidak bisa menipu diri kok bahwa kadang kita menganiaya diri sendiri atas nama BERPIKIR POSITIF. Kita tidak menyadari bahwa sebenarnya kita sedang MELAWAN diri sendiri.

Salam Hakikat ...
ARIF RH
(The Happiness Consultant)

sebenarnya ini masuk dalam artikel yang pernah aku posting dengan judul: PENYAKIT PALING AKUT


Sebagai pelengkap, silakan Anda baca artikel DI SINI , DI SINI, dan DI SINI
Semoga dapat dipahami secara bijak.

12.3.12

NERIMO ING PANDUM DAN MELEPAS

Oleh: Mata Elang

Sebelum cuap-cuap bebas mengenai falsafah jawa yang satu ini, aku secara pribadi mengajak Anda untuk berdoa sejenak sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing guna keselamatan bangsa ini. Di dalam posisi yang serba “sulit” seperti sekarang ini kita haruslah legowo untuk bisa nerimo ing pandum. Jangan ikut-ikutan ngedan karena jaman yang edan ini. Barang siapa menabur pasti akan menuai. Keadilan Tuhan terletak di hukum-hukum alamNya. Tak peduli Anda agama apa, memegang kepercayaan yang mana, hukum alam bertindak tak pandang bulu. Sebenarnya ini amatlah sederhana, mematuhi hukum alam berarti mematuhi Tuhan (entah Anda menyebutnya dengan apa, baca lagi artikel DI SINI). Jangan melawan, atau Anda akan kandas. (Al Fatehah send….)

NERIMA ING PANDUM SEBAGAI JURUS TINGKAT TINGGI

Janganlah skeptic dulu dengan falsafah jawa yang satu ini. Banyak aku temui orang jaman sekarang terutama yang kecanduan motivasi tak bisa dengan jernih mencerna jurus tingkat tinggi ini. Mereka menganggap nerima ing pandum sebagai sebuah keadaan yang memble tanpa usaha, malas dan kesemuanya berkonotasi negative (artikel DISINI akan menjelaskannya). Ya, aku memakluminya jika mereka masih masuk dalam kelompok yang baru mengenal hitam-putih. Untuk kelompok yang masih begini jelas tak akan sanggup mencerna apa-apa yang aku utarakan. Setidaknya Anda harus masuk ke dalam kelompok yang sudah memahami filosofi yin-yang dimana di dalam hitam ada putih, di dalam putih ada hitam. (ingat, keseimbangan juga merupakan hukum alam, untuk yin-yang artikelnya ada DI SINI).

Mari sekarang akan aku ajak Anda untuk memahami jurus nerima ing pandum. Untuk bisa menerima maka tangan Anda haruslah kosong yang berarti sebelumnya Anda telah melepas sesuatu. Tangan yang menggenggam tentulah tak bisa digunakan untuk menerima. Dengan demikian, apakah Anda masih berpikir bahwa nerima ing pandum itu sebagai sesuatu yang pasif? Jika ya, Anda salah besar. 

Hal ini bisa aku kaitkan juga dengan prinsip doa. Sebelum Anda bisa menerima, maka doa yang Anda utarakan haruslah Anda lepaskan. Ibarat seorang pemanah, maka lepaskanlah tali pengekangnya. Bidik sasaran yang tepat, arahkan, tarik, dan lepaskan. Ini penting karena nyatanya banyak dari kita yang tak mau melepas doa. Busur panah doa ditarik kuat sekali tapi tak dilepaskan. Alih-alih doa terkabul justru batin menjadi tersiksa karena perasaan was-was dan menanggung beban. 

RUMUS HASIL SEBAGAI SEBUAH KONDISI YANG SINAMBUNG

Berikut ini adalah rumus hasil yang sudah aku tuliskan dalam buku aneh bin ajaib yang penulisannya diilhami juga dari nasehat Napoleon Hill keh keh keh

KONDISI + RESPON = HASIL (KONDISI BARU)  dst…….

Dari rumus di atas dapat Anda lihat variabel mana yang aktif? Secara sepintas jelas sudah bahwa kita hanya bisa mengintervensi sebuah hasil dengan mengambil respon yang tepat. Kita tak dapat mengubah kondisi masa lalu. Yang dapat kita upayakan adalah memberikan respon yang positif untuk mempengaruhi hasil agar menjadi positif pula. 

Sebuah kondisi hanya dapat Anda terima, nerima ing pandum. Kondisi bangsa yang semrawut seperti sekarang ini juga hanya dapat kita terima. Untuk ke depan, respon yang kita berikan akan menjadi sebuah kondisi baru lagi. Apakah lebih baik atau lebih buruk itu tergantung dari respon yang kita berikan (emosi yang kita lepas, doa yang kita lepas, usaha yang kita lepas sebagai reaksi atas kondisi). Bukankah analogi ini mudah untuk dimengerti?

Orang yang tidak dapat nerima ing pandum aku pastikan hanya akan memperburuk keadaan atau kondisi. Jika Anda marah, segera sadari saja marah itu agar ia tak menjadi beban batin. Suatu contoh, ketika Anda mendapati kondisi di mana anak Anda terjerat kasus narkoba, respon apa yang pertama kali Anda berikan? Marah? Aku maklumi tapi jika marah Anda tak segera Anda sadari maka aku khawatir Anda malah akan berbuat hal yang dapat membuat Anda menyesal seumur hidup (contohnya, menghajar anak Anda sampai mati). Bagaimana, apakah Anda dapat melihat benang merah di sini?

Nerima ing pandum adalah jurus tingkat tinggi yang erat kaitannya dengan tingkat kesadaran manusia. Ia menentukan keefektifan kita dalam menggunakan energy guna mengambil respon yang tepat atas suatu kondisi. Reaksi marah, frustasi, dan kecewa hanya akan menguras energy dan justru dapat memperkeruh keadaan jika tak segera disadari. 

Untuk dapat memberi hasil yang berbeda maka juga dibutuhkan respon yang berbeda. Anda tidak akan dapat memperoleh kondisi yang berbeda jika respon Anda selalu sama. Lihat, dengar, dan rasakan kondisinya, berikan keputusan secara bijak.



Dia telah berdiri
Coba berlari
Tak pernah dia jelang
Hidup yang inginkan
Kilau hari-hari
Dan birunya langit
Terhapus rasa indah
Terpejam oleh lelah
Dalam lelahnya mata
Nikmat dunia menjelma
Sejenak dia berharap
Malam tanpa batas
Bunda s'lalu tanamkan
Jangan pernah menyerah
Jalani dan panjatkan
Kelak syukur kau ucapkan pada diri Nya
Kumohonkan
Mudahkan hidupnya hiasi dengan belai Mu
Sucikan tangan-tangan yang memegang erat harta
Terangi harinya dengan lembut mentari Mu
Buka genggaman yang telah menjadi hak mereka

10.3.12

SENI KEMALASAN DAN BAWAH SADAR


Oleh: Mata Elang

Mungkin masih banyak dari kita yang belum paham sepenuhnya dengan aktifitas bawah sadar. Padahal di sana merupakan gudang penyimpanan program dan emosi yang jika isinya buruk niscaya akan buruk pula kinerja dan respon pikiran kita. Contoh sederhana adalah tanggapan Anda terhadap kata “malas” yang aku populerkan dalam blog ini. Apa yang terbesit dalam pikiran Anda ketika Anda mendengar kata “malas”? aku yakin Anda langsung membayangkan orang yang tidak produktif, menganggur, dan atau sukanya santai. Dalam kamus pun “malas” didefinisikan sebagai tidak mau bekerja atau mengerjakan sesuatu. Yang jadi permasalahan itu adalah apakah “malas” itu Anda konotasikan positif atau negatif? Aku yakin pasti kebanyakan dari Anda mengkonotasikan “malas” sebagai hal yang negatif karena norma umum itu telah disepakati oleh masyarakat. Nah, pemaknaan yang melibatkan emosi itu sudah terekam di bawah sadar Anda sehingga tiap kali Anda mendengar kata “malas” maka sikap antipati Anda muncul. Anda mengikuti persepsi umum yang berlaku dalam masyarakat. Namun aku akan beritahu Anda bahwa yang umum itu belum tentu benar. 

Untuk hal yang demikian ini Anda boleh tak bersepakat denganku. Akan tetapi ijinkanlah aku bercerita kepada Anda saat kopernicus mempopulerkan bahwa bumi itu bulat. Jelas bahwa nasib kopernicus tak seberuntung diriku karena saat beliau mempopulerkan bahwa bumi itu bulat ia pun dihukum pancung hehehe. Apakah Anda setuju kalau bumi itu bulat? Pasti Anda akan menjawab ya, namun apakah Anda akan tetap menjawab ya jika Anda hidup semasa kopernicus? Besar kemungkinan Anda tak akan setuju dengan apa yang diutarakan oleh beliau. Bahkan mungkin Anda akan ikut mencibir si kopernikus dan membebek mengikuti pandangan gereja. Jadi, sekali lagi aku katakan kepada Anda bahwa pendapat yang umum itu belum tentu benar. 

Itulah cara kerja bawah sadar. Sebuah pemikiran dapat masuk ke bawah sadar Anda melalui repetisi atau pengulangan. Sejak kecil Anda selalu dididik untuk menjadi anak rajin dan bekerja keras sedangkan malas dikonotasikan sebagai hal yang negative. Akibatnya, sampai sekarang pun orang tak akan mampu memahami seni kemalasan ini keh keh keh. 

Merombak makna malas

Dengan malas, maka banyak terjadi penemuan penemuan penting. Tak percaya? Oke aku kasih contoh. Orang yang malas itu kecenderungannya santai. Karena sangat santai maka yang berkembang di otaknya adalah imajinasi. Mulailah timbul pertanyaan pertanyaan dalam diri. Lihat burung, ia bertanya bagaimana caranya bisa terbang, maka terciptalah pesawat terbang. Lihat matahari pagi, timbul pertanyaan mengapa matahari bisa bersinar? Maka terciptalah lampu. Tepatnya, ide kreatif seringkali selalu muncul dan ditangkap oleh mereka; para pemalas. Bukan para pekerja keras. Bukan orang yang selalu sibuk sampai-sampai tak sempat untuk sekedar melihat matahari terbit dan tenggelam. Mengenaskan.

Pertanyaan lebih dalam yang biasanya muncul di pikiran para pemalas yaitu: darimana semua ini berasal? Lebih dalam lagi, mengapa aku ada? Mengapa aku hidup? Siapa aku? Maka kata Sang Rosul Agung:

Siapa yang mengenal dirinya, ia mengenal Tuhannya,”
 
dan sebagaimana dikatakan dalam Al Quran :
“Akan Kami tunjukkan ayat-ayat Kami di dunia ini dan dalam diri mereka agar kebenaran tampak bagi mereka.”
 [QS 41 : 53]

Aku ngikutin Sang Rosul lho ya. Aku nggak mengada-ada lho. Bukankah dulu Sang Rosul Agung itu sukanya “nongkrong” di Gua Hira? Berarti Sang Rosul pemalas juga bukan? Kerjaannya Cuma “nongkrong” saja. Sama juga sepertiku, nongkrong di gubuk sawah, di pintu waduk, di tepi laut, di pinggir jalan juga pernah. Wah tunggu, jangan marah dulu. Di sini yang jadi permasalahan adalah mengenai pemaknaannya saja. Seperti pemaknaan yang ditujukan oleh kebanyakan orang terhadap para pemalas. Jadi, bagaimana? Jangan anggap remeh pemalas, pemalas itu sudah betul seperti dicontohkan Nabi. Mengilhami beliau sesuai dengan tindak tanduknya.

Sebenarnya yang dilakukan Rosul di Gua Hira apa sih? Apa benar cuma “nongkrong” begitu saja. Aku kok curiga, jangan-jangan ada sesuatu yang lebih dari sekedar “nongkrong”. Dan anehnya lagi, katanya wahyu pertama itu juga turunnya di Goa Hira, tempat nongkrongnya Sang Rosul Agung. Sepertinya aku ini terlalu dungu memikirkan hal serumit itu. Atau aku ini terlalu malas hingga sempat-sempatnya memikirkan hal yang tak penting seperti itu. Apa benar demikian?

Hubungan malas dan melepas

Jika kita mau mencermati lebih lanjut maka “malas” yang berarti tidak melakukan apa-apa ini sebenarnya erat hubungannya dengan melepas. Seni kemalasan ini pun adalah sarana untuk memasuki gerbang bawah sadar. Maaf saja, malas bagiku teramat penting untuk dipraktekan. Belakangan ini aku pun sedang bersemangat mencari benang merah antara seni kemalasan dan meditasi budha. Dan ternyata klop sekali, silakan baca lagi kisah seorang Ajahn Brahm DI SINI. 

Jika kita kaitkan dengan ayat yang aku sodorkan di atas, maka seni kemalasan ini akan mengantarkan kita kepada ayat-ayat di dalam diri sehingga kebenaran akan nampak. Pikiran Anda akan menjadi sedemikian jernih untuk mengambil keputusan terhadap segala problem kehidupan dengan cara yang bijaksana. Semakin dalam Anda menyelam ke dalam diri maka Anda pun akan menyadari bahwa kebahagiaan yang ditawarkan oleh dunia ini sebenarnya kebahagiaan yang semu. Dunia kita ini humor sekali. Hahaha… Anda mungkin tak mengerti apa yang aku katakan. Tapi inilah kenyataannya, kita hidup di alam ilusi. Praktekkan seni kemalasan maka Anda akan menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya. 

Nb: berikut ini adalah “kebenaran” yang lebih diamini banyak orang karena pengkondisian

  • Untuk bisa bahagia saya harus punya banyak harta
  • Untuk bisa punya banyak harta saya harus bekerja keras
  • Untuk bisa dihormati orang saya harus berpendidikan
  • Saya harus buru-buru karena waktu sangatlah terbatas
  • Saya perlu menunjukkan keunggulan saya di atas orang lain
  • Saya harus bersaing
  • Saya harus menang dan Anda kalah
  • Orang yang berpenampilan rapi adalah orang baik
  • Orang yang spiritual pasti miskin

Semua itu telah terekam di bawah sadar kita sehingga seolah-olah menjadi “kebenaran”. Sungguh, selama ini kita tidak memandang sesuatu dengan apa adanya melainkan dengan persepsi kita.

4.3.12

MELEPAS


Entah ini pertanda apa, sejak beberapa hari yang lalu aku memposting artikel kemalasan paling menggugah DI SINI, secara bertubi-tubi hari-hariku diintai oleh satu kata: MELEPAS. Ya.. melepas, mulai dari saat aku ngasih nasehat ke teman yang lagi ada masalah, baca update status para suhu, waktu dengerin lagu, baca buku, semuanya ada kata MELEPAS. Apakah ini isyarat? Entah…

Isyarat atau firasat bagaimanapun itu kadang juga bikin gelisah. Bagaimana tidak, walau kita terkadang diberi isyarat oleh alam atas kejadian tertentu nyatanya kita tak bisa berbuat apa-apa untuk mengubahnya atau mengantisipasinya. Apalagi isyarat tentang kepergian. Mungkin deretan kata MELEPAS yang belakangan ini selalu muncul menghampiriku juga merupakan pertanda bahwa kita akan ada banyak kehilangan. Ya, betapa tidak. Beberapa bulan ini kita telah kehilangan banyak kyai-kyai sepuh. Sungguh ini aneh bagiku. Orang-orang baik, diambil hampir secara serentak. Entah apa yang akan menimpa bangsa ini.

Belajar menerima

Satu-satunya hal positif yang dapat aku pelajari dari kata MELEPAS ini ya belajar menerima. Bagaimanapun jika Tuhan mengijinkan terkadang kita akan otomatis bertindak secara refleks untuk mengatasi permasalahan yang ada. Sebaliknya, jika tidak, mungkin adanya isyarat atau firasat itu dapat menjadikan kita lebih tabah dalam menghadapi sebuah kehilangan. Kehilangan sendiri selalu mengingatkan kita bahwa nyatanya kita tak memiliki sesuatu apapun. Semuanya datang dan pergi. Semuanya hanya numpang  lewat. Kata mbah-mbahku hidup ini pun juga hanya numpang lewat, mampir ngombe. Oleh karena itu jika datang kemalangan janganlah terlalu bersedih, jika datang kesenangan janganlah terlalu bahagia. 

Dalam skala yang lebih luas sebaiknya kita juga harus bisa belajar menerima akan akibat dari KEABABILAN keluarga kita sebangsa dan setanah air. Carut marutnya dunia perpolitikan, hilangnya rasa kemanusiaan, hilangnya rasa empati sesama keluarga sendiri, keegoisan diri yang semakin parah, dan berbagai macam tindakan ababil lainnya mungkin akan mengakibatkan KEHILANGAN BESAR entah itu dari angin, api, air, atau pun tanah. Bagaimanapun prinsip keseimbangan adalah hukum alam universal yang secara otomatis akan berjalan bak mesin autopilot. Jika kita sebagai manusia sudah sedemikian bebal, niscaya alamlah yang akan berbicara. 

Ps:
Beberapa bencana itu juga kelihatan aneh. Beberapa hari berita kebakaran mencuat sedang di lain sisi berita banjir juga tak mau ketinggalan untuk dicatat. Belakangan ini ada kabar bahwa gunung-gunung pada “bangun” lagi dan angin pada ribut, entah berebut apa?

Saat menulis artikel ini aku sedang demen sama lagunya coldplay-Fix You, sepertinya pas banget. Mari saling melengkapi dan kembali menumbuhkan cinta kasih di antara kita. We are oneness.

When you try your best but you don't succeed
When you get what you want but not what you need
When you feel so tired but you can't sleep
Stuck in reverse

And the tears come streaming down your face
When you lose something you can't replace
When you love someone but it goes to waste
Could it be worse?

Lights will guide you home
And ignite your bones
And I will try to fix you

And high up above or down below
When you're too in love to let it go
But if you never try you'll never know
Just what you're worth

Lights will guide you home
And ignite your bones
And I will try to fix you

Tears stream down your face
when you lose something you cannot replace
Tears stream down your face
And I

Tears stream down your face
I promise you I will learn from my mistakes
Tears stream down your face
And I

Lights will guide you home
And ignite your bones
And I will try to fix you

Beberapa kata yang aku kasih bold adalah kata kunci yang perlu kita renungi. Mari merenung....

27.2.12

MALAS ITU PANGGILAN DARI SORGA


Oleh: Mata Elang

Malas itu adalah panggilan dari sorga. Malam ini aku kembali tetirah di kamar cintaku untuk membikin artikel yang luar biasa dahsyat ini. Dalam sebuah kontemplasi yang mendalam aku menemukan kembali inti kemalasan yang sungguh klop dengan hukum-hukum alam. Ya, setelah beberapa hari ini aku cukup bekerja keras memikirkan ini itu ternyata eh ternyata aku hampir saja melupakan seni kemalasan, permainan, dan senda gurau ini. Namun bagaimana pun itu Tuhan yang begitu pemurahnya tak lupa memberikan radar malas ini kepada tiap hambaNya yang sedang capek kelelahan karena kerja keras. Bah… persis seperti itulah, apa yang dihasilkan dari kerja keras beberapa hari ini adalah kecapaian dan tepat saat itu radar malas alias panggilan dari sorga ini kembali menyapa diriku…

Saat semesta mulai ngambek

Satu hal yang perlu Anda sadari saat Anda mulai keluar dari jalur kemalasan ini adalah saat tubuh Anda mulai ngambek untuk diajak kerjasama kesana kemari. Biasanya saat yang demikian itu pula perasaan Anda juga akan semakin kalut, cemas, dan marah. Lebih tepatnya, perasaan yang kurang enak itu adalah indikasi bahwa semesta mulai ngambek dan tak mendukung Anda dalam daya mencipta yang sudah built in dalam diri setiap manusia. Dapat juga dikatakan bahwa Anda tidak lagi masuk dalam zona euporia yang berarti keluar dari performa puncak (baca lagi DISINI).

Mari kita kaitkan dengan hukum alam. Sebelum itu baiknya kita tinjau dulu cara Tuhan dalam menciptakan semesta raya ini. Di dalam kitab disebutkan bahwa Tuhan mencipta semesta ini dalam enam hari dan mulai hari ketujuh Tuhan pun “beristirahat”. Luar biasa…. Apakah Anda bisa mencerna pengetahuan yang maha cerdas ini? Dalam Islam ada yang disebut sebagai insan kamil, manusia paripurna dimana ia hanya menjadi wayangnya Tuhan. Bahasa tasawufnya ia menjadi tajjali Tuhan atau citra Tuhan. Nah, performa puncak erat kaitannya dengan hal ini. Daya cipta yang luar biasa hanya bisa kita ekspresikan saat kita dengan lapang dada mau menjadi wayangnya Tuhan Sang Maha Dalang. Persis di sinilah semesta akan dengan senang hati mau membantu Anda.

Sebuah ilham ajaib muncul begitu saja saat aku mulai kecapaian. Ada dorongan yang luar biasa dahsyat yang memaksaku untuk sejenak beristirahat akibat keluar dari jalur malas dan mengantarkanku untuk jalan-jalan melepas kepenatan sampai pada akhirnya semesta mempertemukanku dengan ajaran dari Ajahn Bram. Hohoho rupa-rupanya semesta sedang ingin mengingatkan diriku lewat buku karangan Beliau SUPERPOWER MINDFULNESS. 

Menentang hukum alam, mengkhianati Tuhan

Karena hukum alam merupakan hukum hasil karya Tuhan maka jelas bahwa menentang hukum alam berarti mengkhianati Tuhan. Dan seperti yang sudah disinggung dalam blog super malas ini, hukum alam itu sifatnya malas. Mulai dari hukum gravitasi, hukum tarik-menarik yang super malas itu (minta, bayangkan, terima), hukum polaritas, hukum getaran, dan seabrek hukum-hukum alam yang lain semuanya didesain dengan prinsip malas. 

Aku tak mau berpanjang lebar dengan hal ini. Baiknya kita tengok hukum gravitasi dan tarik menarik sebagai contohnya. Hukum gravitasi memungkinkan sebuah benda jatuh dari ketinggian dengan jalur terkecil. Batu yang Anda lempar ke atas akan jatuh ke bumi dengan membentuk garis lurus bukan zigzag. Nah, saat tujuan Anda seolah-olah tidak didukung oleh semesta, Anda perlu menginstropeksi diri Anda sendiri. Alih-alih membentuk jalur lurus, mungkin Anda sedang salah jalur dengan membentuk jalur zigzag dalam upaya mencapai tujuan Anda.

Sama halnya dengan hukum gravitasi, hukum tarik-menarik lebih jelas lagi dalam mengungkap hal ini. Jika hukum gravitasi hanya dapat dijadikan analogi saat Anda sudah keluar jalur alias kecapaian karena kerja keras, hukum tarik menarik berkaitan langsung dengan perasaan Anda. Buku Ajahn Brahm telah mengingatkanku akan hal ini. Aku akan kutipkan beberapa paragraph yang ada di buku tersebut. Simak kisah beliau di bawah ini:

Membuat kesepakatan dengan pikiran

Saya melewatkan masa retret musim hujan saya yang keenam sebagai bikhu dengan mengucilkan diri sepenuhnya di wilayah pegunungan terpencil di dataran tinggi Thailand Utara. Setelah beberapa saat, meditasi saya mulai berantakan. Semakin keras saya berusaha menundukkan pikiran gelisah saya, pikiran malah jadi semakin liar mengembara. Pemikiran-pemikiran tak berkebhiksuan seperti nafsu dan kekerasan akan menguasai pertahanan saya dan bermain semaunya dalam pikiran saya. Segera saja, hal itu tak tertangani lagi, tetapi saya tidak punya teman untuk menolong saya. 

Suatu hari dalam keputusasaan, saya menyatakan sebuah tekad di depan arca Buddha besar di aula utama. Saya membuat kesepakatan: satu jam setiap hari, dari pukul tiga sampai empat sore, saya akan mengizinkan pikiran saya yang ugal-ugalan ini untuk berpikir apa pun yang disukainya. Seks, kekerasan, roman, bahkan fantasi-fantasi paling sinting pun diperbolehkan selama satu jam itu. Sebagai balasannya, saya meminta pikiran saya untuk tinggal bersama napas selama sisa waktu pada hari itu. 

Rencana itu tidak benar-benar berjalan sebagaimana yang saya rencanakan. Selama sebagian besar waktu pada hari pertama, pikiran saya tetap sama berontaknya dari sebelumnya. Pikiran menolak bersepakat mengikuti napas saya. Pikiran menyepak dan melonjak-lonjak dengan liarnya bagaikan kuda liar di rodeo. Lalu pada pukul tiga sore, saya berhenti berjuang. Saya menyandar pada tembok pondok saya untuk mengistirahatkan punggung saya yang nyeri, menjulurkan kaki-kaki saya ke depan untuk meredakan lutut saya yang pegal, dan member izin pada pikiran saya untuk berbuat apa saja yang dimauinya. 

Herannya, selama enam puluh menit selanjutnya, pikiran saya mengikuti setiap napas dengan begitu mudahnya. Seolah-olah pikiran tidak ingin melakukan apapun selain hanya bersama napas! Pengalaman itu mengajarkan saya perbedaan antara melepas dengan berusaha melepas. Ini adalah salah satu pelajaran yang paling dramatis dalam hal melepas.

Luar biasa…. Tidakkah radar malasku bekerja dengan tepat? Panggilan dari sorga ini seolah-olah telah mengingatkanku akan seni kemalasan lewat tulisan menggungah dari seorang Ajahn Brahm. Perhatikan kata yang aku cetak tebal! Ini mirip dengan keadaan sesaat sebelum aku memenuhi panggilan dari sorga untuk berjalan-jalan ke gramed. Pikiran yang gelisah itu sengaja aku istirahatkan dan dalam sekejap aku telah disadarkan bahwa aku sedang ke luar dari jalur kemalasan. Belakangan aku menyadari bahwa beberapa hari ini aku terlalu disibukkan dengan pikiran dan lupa untuk menikmati mentari terbit dan tenggelam. Tepat saat itu juga mendadak aku pun senyam-senyum sendiri karena setelah searching di mbah google, buku malas masterpiece blog ini yang super aneh itu sudah limited stok dan yang lebih membahagiakan lagi adalah ada seseorang  yang menulis resensinya DI SINI. Kebahagiaan seorang penulis adalah ketika buah pikirnya diapresiasi oleh para pembacanya. Waw, malas benar-benar panggilan dari sorga…. Keh keh keh keh…. Kamsia kamsia Lord, semesta, dan Ajahn Brahm….. 

Dengan pikiran yang bebas dari nafsu keinginan
Dan dengan mempertahankan jiwa yang tenang
Kuamati siklus kehidupan yang sedang berkembang biak
Kuamati masing-masing akan kembali pada akar asalnya
Kembali ke akar asalnya berarti kembali ke alam yang tenang
Jadi mereka kembali kepada takdirnya masing-masing
Kembali kepada takdirnya berarti telah mengikuti hukum alam
Mengikuti hukum alam berarti telah mencapai pencerahan
Bila tidak mengikuti hukum alam berarti orang itu akan berbuat sewenang-wenang
Mau menampung semuanya baru bisa disebut adil
Jika sudah berbuat adil baru mau melayani semuanya
Mau melayani berarti telah berbakti kepada Tian (Alam Semesta)
Mau melayani berarti sudah mengikuti prinsip Dao (Kebenaran/Tuhan)
Bila mengikuti prinsip Dao baru mampu bertahan lama
Selama hidupnya tidak akan mengalami bahaya
-Lao Zi-