PERBINCANGAN ANDRE MAULANA DAN ELANG

1.12.11


Oleh: Mata Elang

“kau sudah kembali Ndre…, istirahatlah dahulu. Sudah kusiapkan secangkir kopi untukmu di atas batu sungai tempat kita menyapa senja. Ke sanalah dahulu nanti aku menyusulmu”, tanpa melihat sosok Andre, Elang langsung menyambutnya dengan sepotong kalimat.

“baiklah Elang, kutunggu kau di batu itu”

Di atas batu tubuh Andre tampak berkilau-kilau diterpa sengat teduh sang surya. Badannya yang tegap dan masih berpeluh itu tampak gagah dengan aroma kelelaki-lakian yang maskulin. Kini ia sedang menanti sahabatnya Elang. Tampaknya akan banyak hal yang ingin ia ceritakan selepas perjalanannya mengembara di luar sana.

“Elang, aku telah keluar masuk hutan di luar sana. Aku juga telah mengakrabi laut dengan gemuruh ombaknya, karang-karang yang keras, beserta ribuan tanda kehidupan di sana. Di puncak-puncak bukit aku mengakrabi angin, langit dan ribuan burung-burung yang terbang kesana kemari. Aku menemukan bahwa setiap bagian dari kehidupan dunia ini lebih terlihat nyata di sana. Aku sama seperti binatang-binatang di hutan itu. Aku sama seperti singa, babi hutan, kadal, serigala, dan anjing. Mereka berlarian ke sana ke mari mencari makanan dan tempat tidur. Sebagian binatang ke luar di malam hari dan sebagian lainnya ke luar di siang hari. Sebagian lagi lari karena takut terhadap yang lainnya. Itulah yang aku lihat di belantara hutan.

Berbulan-bulan aku hidup bersama mereka. Aku tinggal di gua-gua sebagaimana mereka juga tinggal. Aku berkelana ke sana ke mari mencari makanan. Aku minum bersama mereka di kolam-kolam kecil. Sungguh aku tak beda jauh dengan mereka. Aku bergaul dengan mereka dan mempelajari sifat-sifatnya, perilaku, perasaan, kecerdasan, dan kesadaran mereka masing-masing. Lantas, aku pun beralih ke laut. Di sana pun aku menemui hal yang sama. Aku berhenti dan melanjutkan mendaki ke bukit-bukit. Aku mempelajari burung-burung. Mereka pun sama. Sebagian memakan bangkai, sebagian memakan buah-buahan, sebagian memakan daging, cacing, dan sebagian lagi saling membunuh satu dengan yang lainnya. Aku mempelajari sifat dan tingkah laku mereka semua. 

Setelah itu aku turun lagi dari bukit-bukit itu. Aku pergi ke kota dan mempelajari apa yang ada di sana. Aku menemukan hewan berwujud manusia ini tingkah lakunya sama persis seperti makhluk-makhluk lainnya. Mereka juga berpergian kesana kemari, mencari makanan. Sebagian ada yang keluar malam-malam, sebagian lagi keluar di siang hari. Aku memasuki pasar-pasar, menyusuri jalanan malam. Aku keluar masuk diskotik, aku mengamati itu semua. Sama sekali tidak ada yang aneh dengan hewan berwujud manusia ini. Ia tidak memiliki perbedaan apa pun dengan binatang. 

Pada titik ini, aku menjadi sadar betapa sulitnya mencari sebenar-benar manusia. Betapa sulitnya mencari manusia sejati yang tergelar diantara seluruh makhluk yang ada. Lalu, aku jadi teringat perkataan Lintang, bahwa memang benar bahwa di dalam rumah jasad ini aku dapat melakukan perenungan yang sejati. Di jasad inilah surgaku, nerakaku, dan kerajaanNya. Kebebasanku ada di sini, perbudakaanku juga ada di sini. Kebahagiaan dan penderitaan keduanya ada di sini. Manusia hewaniah dan manusia ilahiah semuanya ada di sini. Sedangkan semua ini adalah semu belaka. Kebahagiaan yang aku dapat dari luar sana adalah semu, penderitaannya juga semu. Oh betapa selama ini aku sangat terpedaya Elang”
Angin berdesir menempa wajah mereka. Sriti-sriti beterbangan entah hendak mengabarkan apa. Kini lagit pun sudah memerah. Sang surya tampak tersenyum dengan bias kemerah-merahan melingkupi sekeliling wajahnya. 

“kini setitik api kebenaran telah kau nyalakan Ndre. Kau belajarlah dari kisah percintaanmu kemaren. Rasa sakit yang kau rasakan laksana api yang membakar nafsumu itu. Bayangkanlah bahwa seluruh dunia ini adalah segumpal kapas raksasa. Gumpalan itu sedemikian besarnya, tapi hampir-hampir tak ada beratnya. Sekali kau telah menyalakan api kebenaran yang ada dalam dirimu, saat itu pula gumpalan-gumpalan kapas yang kau bawa akan turut terbakar. Mungkin pada awalnya kau akan merasakan sakit. Tapi jika kau tetap menjaga nyalanya, maka perlahan-lahan rasa sakit itu sedikit demi sedikit akan hilang. Segala pikiran mengenai ras, label agama, dan ikatan hubungan darah, maupun segala macam keterikatanmu terhadap dunia dapat terbakar. Ingatlah saat kita lahir ke dunia ini kita tak memiliki apa-apa. Bahkan tubuh yang kita gunakan untuk belajar ini hanyalah pinjaman. Segala macam keterikatan pasti akan terasa sakit saat kita melepaskannya Ndre.”

“ya, kau benar Elang. Sekarang aku paham kenapa Lintang memanggilmu Elang. Aku telah melihat burung Elang di balik bukit sana. Ia telah mencabuti bulu-bulunya sendiri, kuku-kukunya sendiri untuk bisa “hidup” kembali. Ternyata selama ini kita telah menghidupi kesombongan, karma, maya, ilusi, hasrat, amarah, kekikiran, keterikatan, fanatisme, hawa nafsu, dusta, pencurian, pembunuhan, pembedaan antara “aku” dan “engkau”, “milikku”, “milikmu”, ikatan hubungan darah, pembedaan yang disebabkan oleh label agama dan pandangan filosofis, rasa iri, penghianatan, ketidakjujuran, kemunafikan, mementingkan diri sendiri, keraguan, keinginan dan segala macam monyet-monyet pikiran. Oh.. alangkah lucunya dunia ini”

“hahahahaha…”, mereka lantas tertawa bersama.

Suara ngengat dan jangkrik mulai terdengar. Sang malam pun kini telah datang. Kedai kaki langit seperti hilang ditelan keadaan.

Artikel terkait

0 komentar