LIFE IS NEVER FLAT

23.7.11

Cacatan ringan buat Fajar Apriyanto



HIDUP HANYALAH SENDAU GURAU BELAKA,
MENGAPA ENGKAU TAK IKUT BERMAIN?


Terkadang kita tanpa sadar masuk dalam sebuah lingkaran setan kejemuan hidup. Kita merasa bahwa kita tak seberuntung orang-orang. Mendadak kita berpikir bahwa kita adalah manusia paling sial di muka bumi ini. Orang-orang sudah melaju jauh di depan kita. Ada yang sudah mapan bekerja, bahkan ada juga yang sudah menikah. Kita menjadi heran, ada apa dengan kita? Apakah ada yang salah?

Jawabannya tentulah tidak ada yang salah dan memang tidak ada yang patut dipersalahkan. Sebenarnya, dalam situasi yang seperti ini, kita mendapatkan undangan khusus dari Tuhan. Setidaknya untuk memahami makna sebenar-benarnya dari desain cantik kehidupan. 


 
Yin-Yang: dualitas kehidupan
Di dalam hidup akan hadir dua sisi yang saling melengkapi. Tidak pernah ada satu sisi yang bisa berdiri sendiri tanpa ada sebuah sisi yang lain sebagai penyeimbangnya. Ya, selama masih ada di dunia, dua sisi ini selalu hadir sekaligus di setiap kehidupan kita. Jika ada satu sisi saja yang absen, maka otomatis akan pincanglah jalannya.

Ada hitam ada putih, ada baik ada buruk, ada pria ada wanita, ada pahala ada dosa, ada surga ada neraka. Lihat, betapa semuanya sudah didesain secara seimbang, kiri-kanan. Begitu pula setiap kejadian yang hadir di depan mata kita, di setiap detik kehidupan kita adalah sebuah desain yang seimbang. 

Inilah buah khuldi kehidupan, buah pengetahuan. Desain serba imbang ini sewajarnya akan mengantarkan kita ke dalam sebuah pemahaman tentang wujud ke-Esa-an Tuhan. Buah pemahaman inilah yang disebut sebagai kesadaran.

Maka dari itu, ada sebuah kalimat bijak: sesungguhnya dibalik sebuah kejadian, selalu terselip hikmah di dalamnya. Nah, hikmah itulah kesadaran. Orang-orang tua kita pun selalu bilang: nak, jika engkau sedih jangan terlalu sedih. Jika engkau senang jangan terlalu senang. Pada intinya hidup adalah pergantian episode senang dan sedih. Layaknya sebuah putaran roda pedati. Kadang di atas kadang terlindas. Sayangnya, tak setiap orang mampu membaca filosofi ini. Pergantian episode senang-sedih itu harusnya akan mengantarkan kita ke poros roda. Poros kehidupan.

Apakah masih membingungkan kawan? Coba lihat lagi symbol yin-yang. Lihat, di dalam hitam ada lingkaran kecil berwarna putih, demikian juga sebaliknya. Apa artinya? Saat kita baru dalam tahap awal dalam menempuh kehidupan maka kita hanya tahu hitam-putih.  Mereka yang baru sampai tahap ini tak bisa mengerti bahwa selalu ada kemungkinan yang sebaliknya di setiap kejadian. 

Selanjutnya, jika kita sudah melangkah lebih jauh lagi, kita akan tahu bahwa sisi hitam dan putih itu hadir sekaligus di setiap peristiwa. Orang yang sudah sampai pada tahap ini tidak akan terlalu sedih berlebihan jika ia sedang dilanda peristiwa yang tidak mengenakkan, begitu pun sebaliknya. Semakin sering orang mengalami pergantian episode ini maka ia akan semakin berserah diri. Orang seperti inilah yang sudah memahami secara bulat filosofi yin-yang. Orang Jawa menyebutnya topo ngeli yaitu mengalir bersama arus kehidupan. Jangan pernah melawan atau kita akan kandas. 

Jika kita sudah memahami dan merasakan sendiri permainan senda gurau kehidupan ini, maka tak akan ada rasa sedih. Tak akan ada rasa kecewa, iri, dengki dan konco-konconya itu. Bukankah senda gurau itu akan selalu membuat kita senang dan bahagia? Bukankah kebahagiaan itu yang sebenarnya dicari oleh setiap anak bernama manusia? Hidup adalah senda gurau bukanlah kataku, bukanlah kata orang bijak. Akan tetapi itu kata Tuhan di dalam Al Quran.

LOMPATAN KUANTUM
  

Judulnya tampak mengerikan ya? “kuantum”, istilah apa itu? Tidak.. tidak. Aku tidak akan membahas secara panjang lebar mengenai fisika modern. Namanya juga catatan ringan, jadi tak sepantasnya jika pembahasan kita terlalu mendetail dan terkesan berat.


Baik kawan, aku hanya ingin mengingatkan tentang desain agung hukum tarik-menarik di jagat raya ini. Begini ceritanya, kita sejatinya adalah energy yang bergetar-getar. Badan kita ini kalau dipecah-pecah sejatinya berwujud energy yang bergetar-getar. Ah masak?


Coba kita ingat-ingat lagi pelajaran SMA kita. Tubuh kita terdiri dari system organ. Organ terdiri dari sel. Sel terdiri dari unsur-unsur. Unsur-unsur terdiri dari atom-atom. Atom terdiri dari sub atom. Sub atom terdiri dari proton dan electron. Proton dan electron jika dipecah lagi maka menjadi quark. Quark jika dipecah lagi maka wujudnya adalah energy yang bergetar-getar.

Batu, air, udara, pikiran, perasaan semuanya yang ada di alam raya ini adalah energy yang bergetar-getar. Lhoh, kalu dasarnya sama tapi wujudnya kok bisa beda-beda. Ya, yang berbeda hanyalah frekuensinya saja. Suara sejatinya adalah getaran dan telinga kita hanya mampu menangkap getaran yang frekuensinya antara 20-20000Hz. Cahaya juga getaran berfrekuensi tinggi dan mata kita pun hanya mampu menangkap warna cahaya dengan frekuensi tertentu saja.


Ya, lalu apa hubungannya dengan lompatan kuantum? Hehe.. yang aku maksudkan di sini adalah bagaimana kita menyadari apa yang kita rasakan. Ingat, perasaan dan pikiran kita akan memancarkan gelombangnya ke alam semesta dalam wujud gelombang otak dan gelombang hati. Selanjutnya, gelombang itu akan bergabung dengan gelombang sejenis dan hukum tarik menarik akan mengembalikan gelombang sejenis kepada kita dalam wujud peristiwa nyata. Jadi jangan heran jika di Al Quran juga dinyatakan: orang yang baik untuk orang yang baik juga, orang yang jahat untuk orang yang jahat juga. 


Secara tidak langsung, aku hanya ingin bilang bahwa apa yang kita rasakan sekarang sejatinya adalah akibat dari apa yang kita rasakan sebelumnya. Ini ada hubungannya dengan senda gurau yang sudah kita bahas sebelumnya. Setiap pernik peristiwa yang menghampar di kehidupan kita harus dapat kita endapkan dan kita ambil makna positifnya. Dengan begitu, perasaan positif kita akan memancar ke alam semesta dan akan menarik hal-hal positif ke dalam kehidupan kita.


Bagaimana kawan, apakah sudah bisa dimengerti? Sepatutnya jika kita merasakan sesuatu yang tidak mengenakkan maka kita harus bertanya: ada hikmah apa di balik ini semua? Jika apa yang kita lakukan tidak membuat kita bahagia maka tinggalkan saja. Wah, ekstem ya? Tidak juga kok, ini hanya masalah pilihan seperti pilihan saat kita mau mengambil makna positif atau negative dari sebuah peristiwa. Selama manusia tidak menyadari apa yang ia rasakan, maka selama itu pula ia akan kebingungan. 


Semua hal yang kita pilih harusnya adalah hal yang membuat kita bahagia. Inilah kunci dari komitmen, dan komitmen inilah kunci dari sebuah lompatan kuantum. Jangan lupa, saat kita masih berwujud sperma kita dengan kekuatan penuh berlari ke arah sel telur karena kita tahu bahwa setelah itu ada lompatan kuantum, reaksi fusi antara dua buah sel yang akan menjadikan kita mewujud menjadi manusia. Kita hidup di dunia, tempat bercocok tanam kebaikan demi evolusi roh kita, kembali kepadaNya. 


Sampai sini dulu kawan, jika tertarik lebih jauh lagi maka pelajari lagi spiritualitas. Kita adalah roh yang berevolusi, kehidupan di dunia ini hanyalah ladang bercocok tanam kebaikan. Di dalam diri kita ada “lakon” yang kita panggul. Tiap manusia lakon-nya berbeda-beda. Ada yang jadi penyair, pelukis, chief, peneliti, pengusaha, direktur, relawan, pengajar, pemuka agama, penulis, dan sebagainya dan seterusnya. Kesemuanya itulah yang mendasari hadist:

“jika kalian menyerahkan suatu pekerjaan tidak kepada ahlinya, maka tunggulah kehancurannya”


LIFE IS NEVER FLAT. Dus, kesedihan adalah undangan, kebahagiaan adalah undangan. Kosong adalah isi, isi adalah kosong. Puncak kebahagiaan akan dialami oleh mereka yang pernah mengalami puncak penderitaan. Sadari semuanya untuk menemukan lakon hidupmu. Itu adalah jalan paling mudah yang Tuhan berikan untukmu. Aku yakin kau sudah cukup untuk mengerti apa yang aku utarakan. Memang tidak setiap orang mampu mencerap apa yang kita bahas ini. Biasanya, mereka yang sudah berumur kurang lebih 40 tahun akan mengalami ketakbermaknaan hidup, dan pokok bahasan ini secara sekilas adalah pokok bahasan yang mereka cari itu. Kita sudah membahasnya bersama-sama.

 tulisan ini untuk Fajar yang masih berkutat dengan penelitian, sabar sob...

Artikel terkait

0 komentar