Ketika niat telah dibengkokkan

28.7.11

Malam itu aku tak bisa tidur, aku begitu gelisah. “duh Gusti, aku harus bagaimana?”. Kulangkahkan kaki kecilku keluar dari rumah kayu itu. Aku beranjak keluar manapaki butir-butir pasir yang dihempas gelombang. Aku memilih menyendiri di malam itu. Seperti kebiasaanku dulu. Menyendiri manakala hati ini sedang gundah. 

Kunyalakan sebatang sigaret di tengah dinginnya malam. Angin laut memang tak begitu kencang berhembus. Akan tetapi, yang namanya laut di malam hari tetaplah dingin. Kucari selembar triplek yang berserakan. Kurebahkan tubuh kecilku di atasnya. Aku menerawang bintang gemintang, juga bulan perak yang tampak meneduhkan. 

Aku teringat waktu awal pertama kali datang ke pulau ini. Ya, dulu aku berdoa kepada Tuhan. “duh Gusti, tempatkalah diriku ini di tempat dimana aku bisa mengamalkan ilmu dariMu”. Tuhan tak bohong, selang tiga hari aku ditawari untuk menjalankan proyek penelitian di Pulau Seribu. Sungguh, aku sangat girang. 

Pagi sekali, lebih tepatnya sebelum subuh. Aku berangkat dari rumah kontrakan. Rencananya aku akan survey lokasi bersama mantan dosen pembimbingku. Selain itu, juga ada kepala komisi pendidikan dan seorang dosen nutrisi ikan. 

Ternyata perjalanan siang itu tak berjalan mulus. Kami ketinggalan boat. Dengan terpaksa kami menyusun rencana sembari bersantai ria di Pantai Ancol. Saat itu, si pemilik perusahaan datang menghampiri kami, dan memutuskan menyewa kapal saja untuk menuju pulau.

Ikut bersama rombongan bos-bos besar tak menciutkan nyaliku. Aku berlagak cool saja, seolah sudah biasa. “jikalau aku minder, mana ada yang akan menghormatiku?” kataku dalam hati.

Singkat cerita, kami sudah berada di pelabuhan. Siang itu sangatlah panas. Angin berhembus kencang. Parahnya, kapal itu ternyata juga sekalian dipakai untuk membawa logistic kebutuhan perusahaan. Benar saja, kapal kelebihan muatan. Sesampainya di tengah laut mesin kapal jebol. Big Bos (orang tua pemilik perusahaan) marah-marah kepada pemilik kapal. 

Cukup lama kami terombang ambing di tengah laut. Menunggu kapal bantuan dari pulau. Sembari menunggu, aku melihat sekeliling. Menatap horizon nun jauh di sana. Aku sempat ragu, mungkin ini pertanda buruk. Sudah lebih dari setengah jam kapal bantuan tak kunjung datang. 

Kapal terseret arus, menjauhi pulau. Kami benar-benar tak bisa berbuat apa-apa di tengah kondisi seperti ini. Kami tak membawa jangkar. Kapal bantuan sudah dihubungi. Katanya sudah berangkat. Akan tetapi, sudah lebih dari setengah jam bahkan mau satu jam ia masih tak kelihatan, Suaranya pun tak terdengar. Sempat juga kami memasang bambu yang ujungnya diikatkan sebuah plastik. Berharap itu dapat menjadi pertanda keberadaan kami. 

Di tengah kekhawatiranku, sekejap hatiku kembali yakin. Saat kulihat ke arah langit, sederetan awan tiba-tiba tampak hidup. Mereka tampak menari-nari digerakkan sang angin. Sungguh cantik. Tepat di puncak keraguanku, Sang Maha Kuasa tampak menorehkan namanya di langit sana. Seolah Ia mengisyaratkan padaku: teguhkan niatmu!!!

Tampaknya, rombongan terlalu sibuk memikirkan kapal yang rusak. Mereka terlalu gelisah dan tak sempat melihat ukiran cantik di atas sana. Ada yang tidur, baca koran, dan ada yang terus saja menggerutu, mengutuki pemilik kapal sewaan yang mogok itu.

Tek.. tek.. tek.. tek.. tek.. tek suara berisik di kejauhan membuyarkan lamunanku. Secepat itu pula kumpulan awan tadi berarak kembali. “itu dia kapalnya?” salah seorang pegawai berteriak kegirangan melihat nun jauh di sana tampak sebuah benda bergerak-gerak mendekati kami. Ya, aku juga melihatnya. Sebuah kapal kayu kecil tampak mendekati kapal yang tengah terombang ambing ini.

---ooo0O0ooo---

Malam semakin dingin, kulihat jam di handphoneku. Sudah hampir pagi. Aku terpaksa harus kembali ke dalam rumah. Masih saja aku tak bisa tidur. Kunyalakan televisi. Kulihat acara dini hari. Tak ada apa-apa. Mungkin stasiun televisi sudah sama mati. Hanya ada gambar semut di layar itu. Cuma ada satu stasiun yang masih tayang. Aku lupa chanelnya. Mungkin juga ini adalah acara pamungkas di stasiun TV itu. Biasanya, acara pamungkas kalau tidak lagu nasional ya kultum.

Aku rasa ada yang aneh di sini. Aku memang sudah sering melihat Arifin Ilham di televisi. Ia terkenal dengan dzikir akbarnya, dengan majelis Adzikra-nya. Tapi kali ini benar-benar aneh. Bukan Arifinnya yang aneh, tapi isi ceramahnya yang aneh. Katanya; niat saja tak cukup. Niat itu akan terus di uji kualitasnya. Teguh niat, itulah kunci ketetapan hati.
 
Keanehan tak berhenti di situ saja. Sejak kejadian itu, mimpi malam-malamku berisi hal-hal yang aneh. Ada dua mimpi yang memaksaku untuk segera mengambil keputusan. Mimpi pertama aku tampak marah-marah, dalam mimpi itu aku ingat betul bahawa aku marah dan sesaat setelahnya aku segera naik kapal, pulang dengan wajah muram. Mimpi kedua aku melihat bahwa salah seorang karyawan yang juga sedaerah denganku tenggelam waktu menjalankan tugasnya di keramba. Ia berhasil selamat, namun salah satunya kakinya putus disambar ikan barakuda yang besarnya mencapai seorang manusia dewasa. 

Belakangan aku menyadari bahwa memang aku kecewa. Dan untuk mimpi kedua adalah pertanda bahwa ibu dari bawahanku itu sakit yang mengakibatkan beliau harus dirawat di rumah sakit. Semula karyawan itu tak mau kuajak pulang. Ya, aku tak memaksa. Sehari sebelum aku pulang, ia sms kepadaku. Waktu itu ia sedang berada di Pulau Kelapa untuk memindahkan keramba. Keramba di lokasi ini sangat tidak cocok untuk budidaya. Oleh karena itu, habis rapat dengan petinggi-petinggi perusahaan beserta para konsultan akhirnya diputuskan untuk memindahkan keramba itu ke Pulau Kelapa.

“Mbah, sesuk nak arep bali aku enteni yo” (Mbah, besok kalau mau pulang tunggu aku ya)
“lhah, kenopo?” (lhah, kenapa?)

“Aku bar entuk kabar, emakku mlebu rumah sakit. Penyakite kambuh. Aku kudu bali” (aku baru dapat kabar, ibuku masuk rumah sakit. Penyakitnya kambuh. Aku harus pulang)
Goodbye Pulau Seribu

Siang itu aku sangat girang bukan kepalang. Entah mengapa, padahal aku memutuskan keluar dari perusahaan itu. Keluar dari sebuah kemapanan dan kenyamanan akan kebutuhan hidup berupa materi.

“maaf Pak, saya di sini niatnya untuk penelitian, bukan bekerja nyari duit”

Itulah alasan yang sebenarnya selalu menghantui tidur-tidur malamku di pulau itu. Untuk mempertahankan sebuah niat maka mau tak mau aku harus keluar, harus… tidak bisa tidak. Ya, aku mengorbankan sebuah kenyamanan dan mengambil sebuah zona ketidakpastian. Namun bukankah hidup ini serba tak pasti?

“sebelas januari bertemu…” klek

“hallo mas, maaf kalau mau ikut ke Ancol, waktunya sekarang. Kapal boat sudah berangkat dari Pulau Tidung. Masnya segera saja ke Pulau Payung Besar. Nanti kita bertemu di sana. Jangan telat ya mas. Maaf, kami ada rapat mendadak di Ancol”

Hah, aku kelabakan. Jadwal keberangkatan kapal dipercepat, sedangkan itu adalah satu-satunya kapal yang menuju Ancol. Dengan segera aku mengemas semua barang-barangku dan memberitahu Pak Dedy. Beliau adalah seorang yang menjabat sebagai pengawas di perusahaan itu. Sebenarnya, kedudukanku setara dengannya. Namun mau bagaimana lagi, bawahanku taunya aku sedang mengerjakan proyek penelitian di sana. (Perihal dimasukkannya diriku ke dalam perusahaan, tak aku ceritakan di sini.  Maaf, demi kultur dan etika yang berlaku di masyarakat maka hal itu kurang bijak untuk dipaparkan. Yang pasti, masalah itu terkait dengan prinsip dan niat.)

“kenapa Lang? Bukannya berangkatnya kapal jam satu siang?”

“tidak Pak, tadi saya baru dapat kabar bahwa keberangkatan kapal dipercepat karena ada rapat mendadak di Ancol.”

Yah, masih saja aku tak dipercaya oleh beliau, maka mau tak mau beliau aku minta untuk menelpon sendiri dan berbicara langsung dengan orangnya.

“ow… begitu ow.. begitu, ya ya ya.”

Kata-kata itu yang terakhir aku dengar dari percakapannya di telepon. Dan akhirnya detik itu juga aku diijinkan untuk pulang. Segera setelah aku berpamitan, bergegaslah aku menuju kapal kayu perusahaan untuk diantar ke Pulau Payung Besar. Aku tak sendiri, beberapa pegawai perusahaan ikut pulang denganku. Merekapun segera membuntuti langkahku.

Bunyi mesin kapal tak karuan. Sama seperti degub jantungku yang was-was. Apakah aku akan terlambat? Ah, kapal kayu ini terlalu lambat. Waktu seolah mulur menjadi semakin lama. Tiap detik sangatlah berarti buatku. Aku semakin gelisah. Mungkin karena hatiku ingin segera meninggalkan pulau itu. 

Kutolehkan pandangan mataku ke arah Pulau Tidung. Dan yah.. itu dia kapal boatnya. Sebuah benda putih tampak melaju kencang membelah lautan. Nampak dalam pandanganku buih putih tersembul di belakang kapal. Jejak kapal itu begitu jelas, menandakan cepatnya benda itu melaju.

Kapal kayu ini tak mungkin bisa mencapai Pulau Payung Besar mendahului kapal boat itu. Tak perlu perhitungan fisika yang njelimet untuk meramalkan ini. Diperhatikan saja sudah kelihatan. Kekhawatiranku tak terbendung lagi. Aku hanya bisa pasrah melihat semua ini terjadi. Seolah rencanaku kandas.

Namun tunggu dulu. Sesampainya di tikungan karang, tiba-tiba benda putih itu memperlambat laju kecepatannya. Tampak buih-buih putih tak menggunung seperti yang kulihat sebelumnya. Hatiku kembali bersorak. Yesss…

Kapal boat mencoba menyebelahi kapal kayu ini. Akhirnya kedua kapal ini berhenti. Berdempetan di antara keduanya. Setelah dikomando, aku dan beberapa karyawan lainnya bergegas untuk pindah kapal. Di tengah laut itu, aku merasa seperti seorang tahanan yang sedang diselamatkan oleh pasukan khusus sekelas pasukan katak di negeri ini. Duh Gusti, matur nuwun…

Di bangku tengah aku merebahkan tubuhku. Sejenak kutolehkan pandanganku ke Pulau Payung Kecil, menembus kaca-kaca kapal yang sedikit buram. Kapal boat melaju, pulau itu tampak semakin mengecil dalam pandanganku. Goodbye Pulau Payung Kecil, terimakasih telah kau ijinkan diriku sejenak menapak dan mengukir fragment hidupku di atas bulir-bulir pasir putihmu. Sampai bertemu kembali… 



Tips malas: bersenang-senanglah, jika apa yang kamu lakukan tidak menyenangkan, tinggalkan saja. Ikuti kebahagiaan tertinggimu.

Artikel terkait

0 komentar