MEMBUMIKAN SYAIR IWAN FALS “SEPERTI MATAHARI”

26.8.11


Sudah sejak lama aku mencari tahu perihal makna dari syair Bang Iwan “Seperti Matahari” yang kesan awalnya sudah terasa “melangit”. Seiring pertambahan usia akupun baru bisa mengerti apa yang hendak beliau ungkapkan dalam syair lagu tersebut. Berikut ini adalah syairnya:

Keinginan adalah sumber penderitaan
Tempatnya di dalam pikiran
Tujuan bukan utama
Yang utama adalah prosesnya
Kita hidup mencari bahagia
Harta dunia kendaraannya
Bahan bakarnya budi pekerti
Itulah nasehat para nabi
Ingin bahagia, derita didapat
Karena ingin, sumber derita
Harta dunia jadi penggoda
Membuat miskin jiwa kita
Ada benarnya nasehat orang-orang suci
Memberi itu terangkan hati
Seperti matahari yang menyinari bumi
Mari kita bedah perlahan-lahan. 

Keinginan adalah sumber penderitaan
Tempatnya di dalam pikiran
Tujuan bukan utama
Yang utama adalah prosesnya

Kenapa keinginan adalah sumber penderitaan? Keinginan adalah ujung pangkal dari perlambang tarikan bumi alias hawa nafsu, orbitnya adalah ego alias kepuasan si aku. Dan yang namanya nafsu mau tak mau harus dipenuhi kemauannya. Jika saja si nafsu ini tak terpuaskan maka marahlah si aku. Marah adalah wujud dari hawa nafsu yang tak terpuaskan. Seringkali aku lihat orang tua yang marah nggak ketulungan jika anaknya melakukan suatu perbuatan yang tak sesuai dengan kemauan orang tua. Hal yang demikian itu jelas menggambarkan bahwa tak jaminan semakin tua umur seseorang ia akan menjadi lebih bijak. Aku mengamati betul hal ini. Pola didik orang tua terhadap anak dapat aku lihat dari beberapa kasus yang terjadi terhadap teman-temanku. Pada intinya pola didik dengan kebijaksanaan memberikan output yang lebih baik dibandingkan dengan pola didik keras atau acuh tak acuh.

Tujuan bukan utama, yang utama adalah prosesnya. Penjabaran satu kalimat ini sangatlah panjang. Akan tetapi akan aku usahakan dengan sesingkat-singkatnya dengan kalimat innalillahi wa innailaihirojiun atau meminjam idiom Jawa, sangkan paraning dumadi. Segala yang ada adalah dariNya dan akan kembali kepadaNya. Nah sudah jelas bukan tujuan manusia? Lalu bagimana menempuh kehidupan dunia? Nah, justru di sanalah terjadi proses itu. Proses yang bagaimana? Ya proses kesadaran akan kesejatian diri. 

Kita hidup mencari bahagia
Harta dunia kendaraannya
Bahan bakarnya budi pekerti
Itulah nasehat para nabi

Syair lanjutan di atas dapat semakin memperjelasnya. Coba Anda jawab pertanyaan berikut ini: sebenarnya yang orang cari dalam bekerja itu apa sih? Pertanyaan itu sempat dilontarkan oleh seseorang kepadaku saat umurku menginjak seperempat abad. Hm… apakah sudah ketemu? Orang bekerja itu sebenarnya yang dicari apa sih? Apakah uang? Uang buat apa? Buat makan? Makan buat apa? Makan buat hidup. Hidup buat apa? Apakah buat makan? Makan buat hidup atau hidup buat makan? Lalu untuk apakah hidup? Mencari bahagia… dan orang yang mencapai puncak kebahagiaan adalah mereka yang pernah mencapai puncak penderitaan. Baca juga Life is never flat. Tapi tunggu dulu... lihat kelanjutan syairnya.

Ingin bahagia, derita didapat
Karena ingin, sumber derita
Harta dunia jadi penggoda
Membuat miskin jiwa kita

Ingin bahagia, derita didapat. karena ingin sumber derita. Paradok. Untuk syair lagu di atas sudah aku post keterangannya dalam tarikan kebumian dan tarikan kelangitan di sini.

Artikel terkait

0 komentar