Pengamen cilik dan pejabat teras

2.5.11

Mau nulis apa ya???? Kok bingung begini. Hah mungkin ini otak udah mbulet mumet. Liat manusia-manusia pada bingung nyari makan kok lucu ya. Bahagia katanya kalo dapet banyak duit, emang begitu ya???? Waktu lagi nulis ini lagu pengamen cilik keluar dari speaker simbaddaku. Pake kentrung, biasa lagu pengamen yang sering nemplok di angkot-angkot kota Bogor. Wah mending ini aja yang dibahas. Pas baget kaitannya antara bahagia dan duit. Rasa-rasanya kok pengamen-pengamen ini lebih bahagia ya. Dan ternyata pengamen-pengamen kecil ini tampaknya lebih kaya dari orang-orang Century. Ah masak iya???. Lhah emang bahagia dan kaya itu kan letaknya di hati. Masak????

Sore itu langit cerah. Biru mengembang sejuta bayang. Di sudut lanskap kutemukan sorot mata seorang bocah. Dengan asyik ia menghabiskan minuman di depan rumahnya, istananya, beralaskan bumi beratapkan langit.

T: “haus dek?”

J: “iya mas, mau mas?? Enak nih, mumpung masih satu gelas tuh”

T: “makasih dek”

Gila nih bocah, seharian mengamen serba kekurangan namun jauh di dalam lubuk hatinya ia begitu kaya. Karena manusia yang kaya itu berarti adalah mereka yang sanggup memberi. Apalagi apabila ia sanggup memberikan harta yang paling disayanginya (pikirku).

T: “tidur dimana klo malem??”

J: “di mana aja mas yang penting bisa nyeyak”

Busyet enak banget nih bocah. Aku aja klo malem akhir-akhir ini sering insomnia. Jadi kalong tepatnya. Tidur pagi melek malem. Ya okelah, coba kita analisis secara lebih lengkap. Di sini ada unsur kata: kaya, bahagia, duit, dan memberi.

Kaya. Apa itu arti kaya. Kalau dipikir-pikir kaya itu lebih dari cukup, dalam artian ada sumberdaya yang lebih dan itu berarti dapat dibagikan. Anak ini punya dua gelas minuman. Satu sudah setengah ia minum, satunya lagi ditawarkan padaku. Dalam konteks ini berarti ia sudah merasa cukup. “hartanya” berlebih, maka ia bagikan. Berarti ia kaya. Hm….

Pejabat itu pakaiannya wah, mobilnya banyak, istrinya cantik, rumahnya mewah. Tapi kok pelit banget ya???. Bahkan semua proyek digasak. Bisnis-bisnis dimonopoli. Ini berarti kebutuhannya belum semua tercukupi. Ia masih kurang. Ia perlu ditolong sepertinya. Disantuni. Weit, masak iya. Lhah klo orang udah banyak harta begitu siapa yang bisa menyantuni??? Hahahahaha

Bahagia. Apa definisi bahagia??? Jika bahagia didefinisikan dengan punya banyak duit ternyata pejabat yang pakaiannya wah, rumah wah, istri cantik masih perlu disantuni tuh. Di awal tadi aku sebutkan bahwa sepertinya pengamen kecil ini lebih bahagia. Mungkin. Mungkin ia telah paham akan lakonnya sebagai pengamen kecil. Jika demikian maka kata bahagia bukan melulu soal punya duit ato enggak. Bukan melulu punya harta berlimpah ruah. Jadi bahagia itu adalah mereka yang bisa mensyukuri apa-apa yang telah menjadi rejekinya. Bahkan kebahagiaan itu semakin bertambah manakala ia sanggup memberi. Memberi itu terangkan hati. Hati yang bening adalah pintu masuk bagi makanan jiwa. Kenapa memberi bisa mendatangkan kebahagiaan????

Ingat, manusia itu lahir tak membawa apa-apa. Oleh karena itu yang kita bawa sekarang hanyalah barang titipan. Barang titipan yang suatu saat diambil oleh yang empunya. Masak sih??? Gw kan dapet semua ini berkat usaha??? Hmmmm…. Jika pikiran Anda demikian maka samahalnya Anda adalah Qorun. Sebuah kisah yang diceritakan dalam kitab suci orang Islam. Tapi gw kan bukan orang Islam dan gw kagak percaya itu yang namanya kitab suci!!!!! Waduh susah neh jelasinnya. Oke kita bahas dari pendekatan yang lain. Tadi kukatakan bahwa manusia lahir tidak membawa apa-apa. Bahkan sejak lahir ia hanya bisa menerima. Hanya diberi. Diberi melulu. Diberi air susu, diberi perlindungan, diberi kasih sayang, dll. Setuju???? Dan nanti jikalau manusia mati ia juga gak bawa apa-apa lagi, betul???? Iya-iya tapi kan harta ini bikin bahagia, bikin hidup layak???? Yayaya, memang harta itu bagian dari kebahagiaan, tapi itupun bagi orang yang mampu memahaminya. Bukankah manusia itu tak pernah merasa puas??? Oleh karena itu jika sudah punya motor pengen mobil, udah punya mobil satu pengen dua, dst. Padahal alat pemuas kebutuhan jumlahnya terbatas. Jikalau setiap pemenuhan kebutuhan diartikan sebagai bahagia, jadi manusia gak akan pernah bisa bahagia donk??? Udah dapet ini pengen itu, dapet itu pengen ini. Susah ya jadi manusia. Ikan aja kalau udah kenyang diem kok. Lhah ini manusia ternyata laper melulu. Laper, laper, laper, laper terus itu namanya nafsu. Udah punya istri cantik mau yang laen. Abege kayaknya manteb nih, bahenol bok??? Masih rapet, aih ajib!!!!. Hahaha suit suit. . . . cinta atau nafsu???? Nafsu atau cinta???

Biasanya manusia sadar akan hidup ketika ia sudah kakek-kakek atau nenek-nenek. Atau lebih tepatnya lagi saat ia ingat mati. Maka tak jarang kebanyakan orang yang sudah mapan dan menyadari akan hal ini mereka ingin mengabdi. Mengabdi setulus-tulusnya kepada masyarakat. Karena pada dasarnya kita ini adalah abdi. Tugas abdi adalah memberikan pengabdian. Samahalnya, jika Anda percaya pada Tuhan mengabdi kepada masyarakat pada dasarnya adalah mengabdi pada Tuhan. Menjaga keseimbangan alam, menjadi greenpeace, pecinta alam pada hakekatnya adalah mengabdi pada Tuhan. Ini adalah ibadah yang utama. Bukan ibadah, kalau orang pergi haji tapi tetangganya kelaparan. Tanya kenapa?????

T: eh dek, ngamen seharian dapet brapa???

J: ngga tentu mas, kadang banyak kadang dikit. Antara 10.000-30.000 lah. Itu udah lebih dari cukup wat makan sehari kok. Kalau bulan ramadhan ma musim kampanye tuh paling enak mas. Kadang kita diajak makan bareng.

T: lha kamu pernah diuber-uber satpol PP ngga???

J: wah sering mas, hahaha. Enak juga sih wat selingan maen petak umpet ma satpol PP. tapi mereka galak tuh mas, jadi jangan mpe ketangkep. Masnya ni udah kerja ato belum???

T: aku ni mahasiswa dek???

J: owh… mahasiswa ya, yang sering demo di depan istana itu ya???? Aku kemaren ketemu ma mahasiswa juga lho mas. Ia duduk di jembatan sana. Stress katanya. Dapet kerjaan susah. Aku suruh ngamen aja mas, tapi mungkin ia malu ya. Masak lulusan perguruan tinggi jadi pengamen hahahaha. Tapi sebenarnya ngga papa toh mas. Lha wong aku ni klo ga dikasih juga ga maksa. Aku mending jadi pengamen mas daripada hanya minta-minta. Aku masih bisa nyanyi. Suaraku kan merdu hahahahaha. . . minumnya diabisin mas. Sayang kalau kebuang. eh mas, itu para mahasiswa kok suka demo kenapa sih???

Busyet ni bocah. Pengen tahu aja. Bayangkan pengamen aja punya rasa ingin tahu yang besar. Ini orang Indonesia Bung!!!! Cerdas walau makan cuma pake ikan asin doank padahal tanah airnya begitu kaya. Aku jadi teringat kata-kata Soekarno:

“kita ini kaya, kaya, kayaraya Saudara-saudara. Berbesarhatilah, ber-imagination. Gali, bekerja, gali, bekerja. Kita adalah satu tanah air yang paling cantik di dunia”.

Sungguh sangat disayangkan sebuah negeri yang sangat kaya ini masih banyak orang miskin. Hidup tidak layak. Buktinya masih sering bahkan sepertinya makin banyak saja kujumpai pengamen-pengamen kecil seperti ini. Sedang di balik istana sana, dibalik gedung wakil rakyat sana. Manusia-manusia mengenakan pakaian wah, mobil wah, rumah wah, gila. Kontras sekali dengan kehidupan bocah kecil ini. Dimana ini yang salah???? Belajar dari anak pengamen ini jelas pokok intisari sebab ada pada diri kita sebagai manusia. Jika kiblat, iman, Tuhan kita adalah nafsu maka cita-cita masyarakat yang adil makmur sejahtera tak akan pernah tercapai. Sebaliknya jika nafsu, ego telah dapat kita atur. Maka takkan ada yang namanya kasus Century. Takkan ada makelar hukum. Semua orang ingin keadilan saudara-saudara. Dan mengadili itu sangatlah berat. Maka jangan mengadili orang lain jika Anda belum sanggup “mengadili” diri sendiri.

Artikel terkait

0 komentar