NERIMO ING PANDUM DAN MELEPAS

12.3.12

Oleh: Mata Elang

Sebelum cuap-cuap bebas mengenai falsafah jawa yang satu ini, aku secara pribadi mengajak Anda untuk berdoa sejenak sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing guna keselamatan bangsa ini. Di dalam posisi yang serba “sulit” seperti sekarang ini kita haruslah legowo untuk bisa nerimo ing pandum. Jangan ikut-ikutan ngedan karena jaman yang edan ini. Barang siapa menabur pasti akan menuai. Keadilan Tuhan terletak di hukum-hukum alamNya. Tak peduli Anda agama apa, memegang kepercayaan yang mana, hukum alam bertindak tak pandang bulu. Sebenarnya ini amatlah sederhana, mematuhi hukum alam berarti mematuhi Tuhan (entah Anda menyebutnya dengan apa, baca lagi artikel DI SINI). Jangan melawan, atau Anda akan kandas. (Al Fatehah send….)


NERIMA ING PANDUM SEBAGAI JURUS TINGKAT TINGGI

Janganlah skeptic dulu dengan falsafah jawa yang satu ini. Banyak aku temui orang jaman sekarang terutama yang kecanduan motivasi tak bisa dengan jernih mencerna jurus tingkat tinggi ini. Mereka menganggap nerima ing pandum sebagai sebuah keadaan yang memble tanpa usaha, malas dan kesemuanya berkonotasi negative (artikel DISINI akan menjelaskannya). Ya, aku memakluminya jika mereka masih masuk dalam kelompok yang baru mengenal hitam-putih. Untuk kelompok yang masih begini jelas tak akan sanggup mencerna apa-apa yang aku utarakan. Setidaknya Anda harus masuk ke dalam kelompok yang sudah memahami filosofi yin-yang dimana di dalam hitam ada putih, di dalam putih ada hitam. (ingat, keseimbangan juga merupakan hukum alam, untuk yin-yang artikelnya ada DI SINI).

Mari sekarang akan aku ajak Anda untuk memahami jurus nerima ing pandum. Untuk bisa menerima maka tangan Anda haruslah kosong yang berarti sebelumnya Anda telah melepas sesuatu. Tangan yang menggenggam tentulah tak bisa digunakan untuk menerima. Dengan demikian, apakah Anda masih berpikir bahwa nerima ing pandum itu sebagai sesuatu yang pasif? Jika ya, Anda salah besar. 

Hal ini bisa aku kaitkan juga dengan prinsip doa. Sebelum Anda bisa menerima, maka doa yang Anda utarakan haruslah Anda lepaskan. Ibarat seorang pemanah, maka lepaskanlah tali pengekangnya. Bidik sasaran yang tepat, arahkan, tarik, dan lepaskan. Ini penting karena nyatanya banyak dari kita yang tak mau melepas doa. Busur panah doa ditarik kuat sekali tapi tak dilepaskan. Alih-alih doa terkabul justru batin menjadi tersiksa karena perasaan was-was dan menanggung beban. 

RUMUS HASIL SEBAGAI SEBUAH KONDISI YANG SINAMBUNG

Berikut ini adalah rumus hasil yang sudah aku tuliskan dalam buku aneh bin ajaib yang penulisannya diilhami juga dari nasehat Napoleon Hill keh keh keh

KONDISI + RESPON = HASIL (KONDISI BARU)  dst…….

Dari rumus di atas dapat Anda lihat variabel mana yang aktif? Secara sepintas jelas sudah bahwa kita hanya bisa mengintervensi sebuah hasil dengan mengambil respon yang tepat. Kita tak dapat mengubah kondisi masa lalu. Yang dapat kita upayakan adalah memberikan respon yang positif untuk mempengaruhi hasil agar menjadi positif pula. 

Sebuah kondisi hanya dapat Anda terima, nerima ing pandum. Kondisi bangsa yang semrawut seperti sekarang ini juga hanya dapat kita terima. Untuk ke depan, respon yang kita berikan akan menjadi sebuah kondisi baru lagi. Apakah lebih baik atau lebih buruk itu tergantung dari respon yang kita berikan (emosi yang kita lepas, doa yang kita lepas, usaha yang kita lepas sebagai reaksi atas kondisi). Bukankah analogi ini mudah untuk dimengerti?

Orang yang tidak dapat nerima ing pandum aku pastikan hanya akan memperburuk keadaan atau kondisi. Jika Anda marah, segera sadari saja marah itu agar ia tak menjadi beban batin. Suatu contoh, ketika Anda mendapati kondisi di mana anak Anda terjerat kasus narkoba, respon apa yang pertama kali Anda berikan? Marah? Aku maklumi tapi jika marah Anda tak segera Anda sadari maka aku khawatir Anda malah akan berbuat hal yang dapat membuat Anda menyesal seumur hidup (contohnya, menghajar anak Anda sampai mati). Bagaimana, apakah Anda dapat melihat benang merah di sini?

Nerima ing pandum adalah jurus tingkat tinggi yang erat kaitannya dengan tingkat kesadaran manusia. Ia menentukan keefektifan kita dalam menggunakan energy guna mengambil respon yang tepat atas suatu kondisi. Reaksi marah, frustasi, dan kecewa hanya akan menguras energy dan justru dapat memperkeruh keadaan jika tak segera disadari. 

Untuk dapat memberi hasil yang berbeda maka juga dibutuhkan respon yang berbeda. Anda tidak akan dapat memperoleh kondisi yang berbeda jika respon Anda selalu sama. Lihat, dengar, dan rasakan kondisinya, berikan keputusan secara bijak.



Dia telah berdiri
Coba berlari
Tak pernah dia jelang
Hidup yang inginkan
Kilau hari-hari
Dan birunya langit
Terhapus rasa indah
Terpejam oleh lelah
Dalam lelahnya mata
Nikmat dunia menjelma
Sejenak dia berharap
Malam tanpa batas
Bunda s'lalu tanamkan
Jangan pernah menyerah
Jalani dan panjatkan
Kelak syukur kau ucapkan pada diri Nya
Kumohonkan
Mudahkan hidupnya hiasi dengan belai Mu
Sucikan tangan-tangan yang memegang erat harta
Terangi harinya dengan lembut mentari Mu
Buka genggaman yang telah menjadi hak mereka

Artikel terkait

0 komentar