MOTIVASI LUAR DAN MOTIVASI DALAM

19.11.11

Oleh: Mata Elang

Mohon maaf, dalam posting KESEPIAN EKSISTENSIAL bukan maksud saya untuk menakut-nakuti Anda. Saya hanya menulis apa yang mengalir di tempurung otakku saja. Saat pengen nulis ya saya tulis. Okelah, sekarang saya akan kasih bocoran kepada Anda terkait dengan postingan artikel tersebut. Hal ini erat kaitannya dengan judul yang sengaja saya gunakan dalam artikel ini, motivasi luar dan motivasi dalam.

Anthoni Robbin
Di era new age sekarang ini, banyak kelompok-kelompok organisasi yang yang memanfaatkan jasa motivator untuk mendongkrak kinerja organisasi mereka. Mulai dari sekolah sampai perusahaan besar mendatangkan para motivator kenamaan yang sedang naik daun di negeri ini. Tak tanggung-tanggung, bahkan para puncak pimpinan dari perusahaan tersebut ada yang ikut dalam seminar-seminar yang dipunggawai oleh motivator hebat sekelas Anthoni Robbin.

Namun sayang, jika Anda tak menyadari perihal motivasi luar dan motivasi dalam maka semangat yang membara dalam diri Anda saya pastikan hanya bertahan sampai beberapa bulan saja. Seminar-seminar motivasi itu bukan tak berguna, tapi Anda perlu menyadari bahwa motivasi yang sesungguhnya berada di dalam diri Anda sendiri. Itulah lecutan dari Ruh Anda, Ruh Al Quds yang dalam agama Nasrani disebut Roh Kudus. 

Kenapa kok diam saja dari tadi? Berapa IPK mu? Ya sudah, berapa nilai E mu? 

Empat, jawabnya…

Ya sudah, kalau dapat empat nilai E emang kenapa? Dunia nggak kiamat. Lu masih hidup. Kuliah bukan cari ijasah, tapi cari ilmu. Yang tahu nilai kelebihan dan kekurangan dari diri lu ya diri lu sendiri. Bukan orang lain. Orang nggak kuliah trus dianggap madesu itu anggapan orang lain. Itu bukan realita yang sebenarnya. Di dunia ini sebenarnya manusia dibikin senang melulu. Nggak ada yang namanya gagal, yang ada hanya belajar. Orang yang gagal sebenarnya adalah orang yang berhenti belajar. Orang yang sudah merasa hebat dan paling benar. 

Lu jangan tiru gw atau si gendhut yang suka pakai SKS (system kebut semalam) tiap kali mau ujian. Lu bukan gw bukan si gendhut. Lu harus jadi diri lu sendiri, jangan meniru orang lain. Terinspirasi boleh, tapi jangan tiru persis. Lu bukan gw. Yang tahu lu siap atau enggak pas mau ujian ya lu sendiri. 

Dialog di atas adalah kisah nyata yang pernah terjadi antara saya dan saudara saya. Bayangkan, nilai E nya empat di semester pertama. Istimewa… sesuatu banget. Dari sana saya mencoba membangkitkan lagi semangatnya yang mendadak terjun bebas dan kandas ke tanah. Saya mencoba mengusik perhatiannya agar dia mau melihat dirinya sendiri. Ini penting, karena motivasi sebenarnya ada di dalam dirinya sendiri. Kata-kata yang saya lontarkan hanyalah pancingan agar dia mau melihat dirinya sendiri. Menyadari kelebihan dan kekurangannya sendiri.

Mencemoohnya dengan kata-kata negative seperti; “gimana sih lu?”, “bodoh banget?”, “lu ngapain aja?” dan sebagainya dan seterusnya hanya akan membuat dirinya menolak realita. Hal itu akan melukai batinnya dan kemungkinan terburuknya dapat menyebabkan ia mengalami frustasi paling akut. Sesaat setelah dialog itu saya segera mengangkat hanphone mungilku, mengabari orang rumah agar tak memarahinya. Reward and punishment adalah bentuk paling rendah dari pendidikan. Inilah pembeda utama antara motivasi luar dan motivasi dalam.

Banyak perusahaan besar tidak mengetahui rahasia ini. Sejauh pengamatanku, satu-satunya perusahaan di Indonesia yang menerapkan motivasi dalam dalam pengelolaan perusahaannya adalah Kemchick-nya Bob Sadino. Sedangkan perusahaan asing yang menerapkan cara ini adalah Starbuck. Selain dua contoh tersebut, saya belum menemui yang lainnya. Hal yang umum diterapkan di sebuah perusahaan hanyalah motivasi luar yang selalu digambarkan dengan reward and punistment seperti kenaikan gaji, kenaikan pangkat, bonus dan lain sebagainya. Sebaliknya, jika karyawan tak mencapai target ada hukuman. 

Perbudakan Modern
Cara seperti itu bukanlah cara yang cerdas. Anda tak perlu setiap kali menendang pantat mereka atau mengiming-imingi mereka dengan berbagai macam bonus. Memang, hal tersebut dapat memberikan lecutan semangat, tapi hanya bersifat sementara dan tentu saja tak akan bertahan lama alias tak efektif. Alih-alih produktifitas meningkat, justru kaki Anda akan pegal sendiri, tenggorokan Anda akan serak-serak basah karena kebanyakan teriak, dan tentu saja bathin mereka justru akan terluka. Motivasi dari dalam tidak menggunakan cara-cara seperti itu. Motivasi dari dalam selalu menjurus kepada hal yang lebih dalam, jati diri. Motivasi dari dalam selalu menanamkan nilai permainan, pujian, pembelajaran, dan terutama sekali kecintaan.

Jika Anda pernah menangani perusahaan yang erat kaitannya dengan makhluk hidup (misalnya pertanian), maka tentu Anda sudah berpengalaman akan hal ini. Memarahi bawahan adalah tindakan paling buruk karena tanpa sadar Anda membuat tanaman/hewan yang anda pelihara menjadi sakit. Energy negative saat Anda marah membuat bawahan Anda jengkel. Hal yang demikian itu tentu akan berdampak pada kinerja dia saat merawat tanaman/hewan. Ini adalah nasehat yang masih saya ingat dari professor saya sewaktu masih kuliah. Kata beliau: saat mood kamu ngga bagus, jangan kasih makan ikan, nanti hasilnya nggak akan bagus. 

Nah, dalam menerapkan bentuk motivasi dalam maka Anda perlu memahami seni permainan dan kesenangan. Artikel mengenai hal tersebut sudah saya posting DI SINI DAN DISINI. Tanpa memahami prinsip itu, Anda tak akan bisa menggunakan teknik motivasi dalam. Secara otomatis saat Anda mencoba memahami motivasi dalam maka Anda pun mau tak mau belajar tentang ilmu jiwa. Ya, motivasi dalam erat kaitannya dengan ilmu jiwa. Oleh karena itu, jangan heran jika mendadak saya bisa jadi psikiater gadungan di artikel ABABIL LANJUTAN yang sudah saya posting DI SINI.

Untuk mempelajari perihal motivasi dalam inilah seni kemalasan yang sudah built in dalam kedirian Anda harus dioptimalkan. Seni kemalasan adalah seni tingkat tinggi yang dipraktekkan oleh para nabi dan orang-orang suci. Musa di bukit Tursina, Muhammad di Goa Hira, atau perhatikan apa yang ditulis oleh Lao Zi dalam kitab Dao De Jing:

Tidak keluar rumah sudah tahu masalah dunia
Tidak mengintip dari jendela sudah paham hukum alam
Makin jauh pergi mencari ilmu makin tahu sedikit
Maka
Sheng Ren tidak perlu keluar rumah sudah tahu banyak
Tidak menonjolkan diri sudah terkenal
Tidak melakukan apa-apa bisa berhasil
Lao Zi

Prinsip ini dikenal dengan prinsip wu wei (tidak melakukan apa-apa) dan dalam kajian filasafat, seni kemalasan tingkat tinggi ini sering pula dibahas. 

Rakus ulatmu janganlah kau pelihara. Segeralah menjadi kepompong karena di sana akan kau temukan jalan hidupmu, menjadi kupu-kupu.
Mata Elang

Artikel terkait

0 komentar