MEDIA OH MEDIA….

24.11.11

Barangkali media adalah partner penguasa yang paling ampuh. Sekali penguasa tak bisa bekerjasama dengan media, dapat dipastikan kekuasaannya hanya akan bertahan sebentar saja. Oleh karena itu aku pun lantas ingin menjadi terkenal. Ya… terkenal, jadi public figure, idolanya orang banyak, dikerubuti wartawan, diminta foto bersama, dan seterusnya dan sebagainya. Tanpa itu maka jika aku berkuasa, kekuasaannku itu terasa hambar. Kekuasaanku menjadi semu. Kekuasaanku tanpa taji. Bahkan tak pantas disebut penguasa.

Oh… betapa aku ingin menjadi sorotan media. Di shooting ke sana ke mari. Bahkan, lagi makan pun di shooting, lagi tidur di shooting. Masyarakat akan patuh kepadaku. Tak peduli aku kompeten atau tidak, tiap kali ada masalah apapun pendapatku akan selalu didengar. Masalah korupsi aku dimintai pendapat, masalah bencana aku dimintai pendapat, masalah anu masalah itu aku pun tetap dimintai pendapat. Ya.. karena orang terkenal itu lebih hebat darpada orang berilmu, dibanding professional, dibanding saleh, dibanding bermoral, dibanding apa saja. 

Mungkin para wali, para avatar, jikalau mungkin Imam Mahdi pun nanti harus berguru padaku. Itu jelas sekali, karena kalau mereka tidak terkenal mana mungkin omongannya akan didengar. Yang penting itu terkenal. Di sorot media, nampang di Koran-koran, alias jadi seleb. Ayo, taruhan saja tiap kali ada pemilihan yang dipilih masyarakat itu yang terkenal. Yang jadi panutan masyarakat itu yang terkenal. Ustad yang didengar itu yang terkenal… oh…..

Tapi sayang, tampangku itu sangat pas-pasan. Dibilang tampan yang ngga masuk, dibilang jelek juga ngga masuk itungan. Prestasiku hanya jadi petani gurem, paling pol juga diundang jadi peserta lomba balap karung di acara tujuh belasan. Dulu aku pernah juga ingin jadi anak gaul. Dugem di diskotik-diskotik Jakarta atau Batam. Tapi sekali lagi sayang, entah aku salah kostum atau memang tampangku juga ngga masuk itungan anak gaul, aku ngga diijinkan masuk. 

Percaya atau tidak, tampang itu juga masuk investasi di jaman sekarang. Investasi untuk jadi terkenal, dikerubuti media, jadi seleb. Pendapat orang tampan sama pendapat orang jelek itu bobotnya jauh lebih berat orang tampan. Kalau mau jadi ustad gantengin dulu paras muka, jangan pas-pasan. Tapi kalau terlanjur jelek, jelekin aja sekalian, bikin konyol sekalian karena media pasti mau meliput. Otomatis, Anda akan terkenal, dan sekali lagi orang terkenal itu penguasa, omongan Anda didengar di mana-mana. Oh… betapa menyenangkan menjadi orang terkenal…..

Tapi aku cukup bersyukur. Sebelum aku menjadi orang terkenal, seseorang telah memberitahuku. Dulu beliau sudah terkenal tapi dengan percaya diri beliau malah mengundurkan diri dari keterkenalannya. Beliau dengan kesadaran dirinya merasa tak mampu dan tak cukup kompeten untuk terus menjadi terkenal. Ya… karena memang orang terkenal itu memiliki tugas yang teramat berat. Bersama redaktur, copy editor, dan editor sampai jajaran satpam di industry media massa itu sebenarnya adalah sang pencerah. Lokomotif kemajuan peradaban yang memiliki konteks dan skala nilai sebuah tugas mulia yang tak terbatas. 

Mereka pada hakikatnya agent of change, ya pendidik, ya guru, ya agamawan, ya spiritualis, ya futurology, ya apa saja yang baik-baik dalam urusan kemajuan umat manusia. Media massa itu bukan industry. Memang ia harus diselenggarakan dan dijadikan secara industry, tetapi para pelaku media massa sangat sadar bahwa industry bukanlah factor primer dalam tugas peradaban mereka. Industry hanyalah teknisnya saja, tapi ideologinya adalah segala hal yang menyangkut prinsip kemajuan dan kemaslahatan manusia, masyarakat dan Negara. Sekali lagi mereka pada hakikatnya dan pada kenyataannya adalah GURU SEJATI umat manusia, merekalah Ulama, Ayatolloh, Pembimbing, Pengasuh, Pendidik, dan Penuntun kehidupan masyarakat, dari balita sampai manula.

Oleh karena itu, aku pun jadi tak pede untuk menjadi terkenal. Aku jadi tak pede untuk ikun andil dalam jajaran lokomotif penggerak peradaban manusia. Ya.. karena tugas yang akan kuemban itu sangatlah berat. Padahal sebelumnya aku sudah membulatkan tekad untuk jadi terkenal, partner media massa. Aku sudah rela didandani apapun asal aku dishooting. Aku rela diskenarioi acting jogged gaya anjing. Bahkan aku sudah rela untuk “diapa-apain” oleh para pembesar di jajaran penggerak media massa. Asal mengorbit dan jadi terkenal bukankah itu tak masalah?

Artikel terkait

2 komentar

  1. Benar kata mas, apa apa pasti dimintai pendapat, dikit dikit pasti dia, walaupun dia gak tau apa apa tentang hal itu, tapi dia yang disorot. Jadi terkenal emang enak deeh, gak perlu pinter, gakperlu kuliah. haha

    ReplyDelete
  2. jadi orang terkenal tanggung jawabnya besar mas... mending yang bersahaja saja. sederhana, ramah, dan banyak senyum...

    ReplyDelete