INILAH MASALAH ORANG TUA DAN ABG(Remaja)-NYA

15.11.11

 Oleh: Mata Elang

Entah kenapa, berawal dari posting ABABIL kemaren saya jadi tertarik untuk membuat artikel sejenisnya. Ya, barangkali artikel ini akan berguna untuk orang tua yang merasa kesal, capek, dan sumpek terhadap abegenya, remajanya yang sulit diatur. Melihat model pergaulan jaman sekarang, saya rasa kekhawatiran orang tua terhadap tumbuh kembang anak remajanya cukup beralasan. Boleh jadi, kebanyakan orang tua malah tak tahu menahu model-model pergaulan remaja jaman sekarang. Dikiranya jaman gaul sekarang ini sama seperti tahun 70-an. 

Jika saya mencoba flash back ke masa remaja saya dan membandingkannya dengan masa remaja anak jaman sekarang, bedanya sudah sangat jauh sekali. Mungkin bisa dikatakan bahwa masa remaja saya dulu adalah peralihan dari tradisional ke teknologi. Jika dahulu permainan-permainan “padang bulan” seperti gobak sodor, loncat tali, jerotan, bentengan, bekelan, gundu, engklek, dan segala macamnya masih eksis, sekarang anak-anak remaja justru tak mengenal permainan itu sama sekali. Mereka lebih kenal dengan PS (playstation), game online, internet, dan lain sebagainya. 

Jangan salah, pada jaman saya remaja permainan berbasis teknologi justru saya ikuti juga perkembangannya. Secara berturut-turut permainan berbasis teknologi itu muncul dari mulai gembot, nitendo, sega, sampai PS. Bahkan sebelum handphone marak seperti sekarang ini, dulu saya pun sempat mengenal pager. Jadi, bisa Anda bayangkan perbedaan yang sangat jauh tentu menjadi sebuah keniscayaan jika masa remaja jaman sekarang dibandingkan dengan masa remaja angkatan 70-an.

Apakah perbedaan itu cukup berpengaruh? Tentu saja. Permainan-permainan tradisional kebanyakan dimainkan dengan beregu, artinya di sana interaksi mereka dengan teman sebayanya turut memberikan dampak positif terhadap kemampuan bersosialisasinya. Ingat, jaman dahulu bukan hanya ada permainan-permainan tradisional, bahkan dalam lingkup pergaulan social yang lebih luas, mereka juga berinteraksi dengan para orang tua, tetangga-tetangganya seperti pada saat diadakan acara kerja bakti, ronda, kelompok remaja karang taruna, bahkan pada masa remaja saya dulu masih sempat saya melihat pembangunan rumah atau masjid yang dilakukan secara swadaya. 

KELUHAN-KELUHAN MEREKA

Berikut ini saya mencoba mengembangkan imajinasi terkait keluhan-keluhan mereka, para orang tua dalam menghadapi anak remajanya yang sudah mulai sulit diatur (mungkin lebih tepatnya, keluhan mereka kepada psikiater). Ya, dulu saya sering membaca artikel-artikel beginian di majalah ibu saya. Sering juga saya membaca masalah para pembaca yang curhat perihal seksologi (wow… mantabs ya hehehe). Nah, kira-kira model percakapannya seperti berikut ini:

ABEGE saya sulit diatur

Bu, kapan berakhirnya masa remaja anak? Sebab saya sudah tak tahan lagi menghadapi kelakuan anak saya yang sekarang menginjak usia 18 tahun. Ia sulit sekali diatur, banyak maunya. Bila tidak dituruti kemauannya, ulahnya macam-macam. Menjadi tambah tidak sopan pada orang tua, malas belajar, kerja pun tak mau, keluyuran sepanjang hari tak ingat waktu, dan masih banyak lagi ulah darinya.

Nasehat apapun sepertinya tak mempan, masuk kuping kiri keluar kuping kanan. Menghadapi anak model begini, kami merasa bingung dan sedih, tidak tahu harus berbuat apa lagi. Padahal bagi orang tua sudah barang tentu bkeberhasilan si remaja menjadi impian dan kebanggaan. Pada usia begini sudah tentu ia tidak dapat dikerasi, karena jika itu dilakukan, ia akan berontak dan kenakalannya semakin menjadi-jadi. 
Sebaliknya, jika ia dinasehati baik-baik pun tidak mau mendengar, mungkin malah menjadi besar kepala. Bagaimana ini Bu? Apakah sebaiknya menuruti kemauan mereka atau tidak? Apakah mereka dapat berubah dan sadar dengan sendirinya sesuai pertambahan umur mereka? Kira-kira sampai usia berapa anak laki-laki saya menjadi sadar akan dirinya? Apakah semua remaja harus melewati masa berontak dan menjengkelkan ini? Tolong Bu, saya sudah pusing sekali?

Ny P di S

Jawaban dari sang psikiater biasanya begini:

Ibu P yang sedang gusar,

Tentu sangat tidak menyenangkan jika Anda sudah bekerja keras banting tulang, sementara remaja hanya cuek saja. Apalagi jika mereka kerjaannya hanya baca komik dan lihat TV. Atau si remaja jadi pemberontak, tidak sopan, bolos sekolah, tawuran, dan sering keluyuran tanpa tahu waktu. Dikerasi salah, tak dikerasi juga salah. Maka dari itu, tidak menjadi sebuah keheranan jika orang tua pusing dan bingung. Apalagi jika mereka gemar mabuk-mabukan, penikmat pil “keparat”, bahkan kumpul kebo.

Akan tetapi benarkah ini adalah gejala umum atau hanya menimpa sekelompok abege saja? Ataukah jangan-jangan sebelum menginjak usia remaja mereka sudah menemui kesukaran yang lain? Misalnya karena orang tua yang bercerai. Lingkungan juga turut memberikan pengaruh yang cukup besar bagi perkembangan mental mereka. Remaja yang mendapat lingkungan yang tidak baik, misalnya geng yang hobi mabuk, kebut-kebutan, akan berdampak juga pada perkembangan psikologisnya. Didikan TV yang sejak kecil membanjiri mereka dengan adegan-adegan agresifitas dan sikap arogan juga ikut andil dalam membentuk pribadi remaja. Apalagi film-film biru yang saat ini mudah sekali diakses oleh mereka. Tentu saja, hal yang demikian itu juga memiliki andil yang cukup besar.

Yg lagi naik daun
Usia pendidikan yang paling mendasar sebenarnya diserap oleh manusia saat mereka berumur kanak-kanak atau seringkali disingkat balita sampai batita. Jika balita tidak pernah dilatih untuk menghargai orang tua dan belajar menolong, sukar diharapkan ia dapat tumbuh menjadi remaja ataupun orang dewasa yang sopan santun dan penolong. Bahkan bias jadi sebaliknya, dia belajar untuk tidak menghargai orang lain. Apalagi jika balita dibiasakan mendapatkan keinginannya karena berteriak dan mengamuk, maka kita sedang mendidiknya untuk menjadi seorang “kriminil” yang harus dipenuhi keinginannya. Bila ia tidak mendapatkannya, ia bisa mengamuk dan menggunakan kekerasan. 

Ibu P di S, saya khawatir masalah remaja Anda memiliki akar lebih dalam dari hanya sekedar “masuk usia remaja” saja. Cobalah diteliti, apakah gejala cuek dan tidak mau membantu orang tua itu hanya gejala sesaat atau sudah menjadi kebiasaannya. Apakah tiap kali keinginannya tidak dipenuhi ia jadi tidak sopan dan sering keluyuran? Atau hal itu hanya muncul sesekali saja?

Ah… saya bisa jadi psikiater gadungan nih kalau begini….

Saya rubah gaya bicara saya, nggak terlalu nyaman rasanya jika saya mencoba memberi jawaban khas ala psikiater. Baik, saya lanjutkan. Biasanya setelah memberikan sedikit empati kepada pengirim surat pembaca, sang psikiater akan melanjutkan dengan fakta dan data. Dengan fakta dan data itu beliau akan melanjutkan sesuai dengan konteks permasalahan sang pengirim surat, menjawab pertanyaan, dan terakhir mencoba memberikan solusi.

Ya, karakter kita mulai terbentuk semenjak kecil, lebih tepatnya pada saat balita sampai batita. Di sanalah seharusnya keteladanan orang tua diperlihatkan. Misalnya, bagaimana sikap orang tua terhadap pembantu, bagaimana mengunjungi tetangga, bagaimana menghadapi tamu, bagaimana kehidupan orang tua bermasyarakat. Bagaimana berempati kepada mereka yang kurang mampu, dan seterusnya dan sebagainya.

Nah, sampai di sini sisi budaya masyarakat juga akan mempengaruhi perkembangan nilai-nilai kepribadian si anak. Di sinilah tepatnya si anak mulai menghidupi norma-norma/ilusi yang berkembang di masyarakat. Tentu saja, jika orang tua kerja keras banting tulang ya secara otomatis peran pendidikan yang dicontohkan kepada mereka juga akan sangat minim. Inilah tepatnya lingkaran setan mulai tercerap ke dalam memori bawah sadar si anak di mana dalam artikel DI SINI sudah saya berikan gambaran prosesnya. Saya kira ini sudah terlalu panjang… pakar psikologi tentunya dapat lebih menjelaskan dengan bahasa yang lebih membumi.

Catatan:

Dalam perkembangan yang lebih lanjut, artikel ini dapat dijabarkan lagi sampai pengertian kodrat diri, pribadi atau dalam bahasa agama akan mengarah kepada kodrat dan iradat. Hal itulah yang harus dipahami benar sebagai orang tua sehingga mereka dapat benar-benar mendidik anak-anaknya, remajanya.

Artikel terkait

0 komentar