ADA “SURGA” DALAM PENJARA

30.11.11

Ijinkanlah aku cuap-cuap sedikit mengenai permasalahan yang diangkat dalam acara Indonesia Lawyers Club dengan tema: ada “surga” dalam penjara entah beberapa hari yang lalu. Pada intinya sesi acara tersebut menyoroti realita yang selama ini ada dalam Lembaga Pemasyarakatan di Indonesia. Ya.. realita yang ada di lembaga pemasyarakatan itu adalah bahwa di sana terdapat pula kelas-kelas penjara dalam arti ada ruangan-ruangan khusus yang disewakan layaknya kamar hotel sebagai tempat terpidananya. Hal ini tentu saja membuat iri para napi yang nggak punya duit. Jadi, tetap saja seperti yang sudah aku posting kemarin dalam artikel yang mengupas tentang KEABABILAN kita, korupsi adalah seni tingkat tinggi untuk memenuhi hasrat keababilan itu.

KEUANGAN YANG MAHA KUASA

Dalam hal ini uanglah yang berbicara. Tak perlulah berkoar-koar asal ada uang, sumpal saja mulutnya. Ya, sekarang ini masyarakat kita sepertinya nggak bisa menerima kenyataan bahwa ternyata realita dalam penjara itu jauh dari bayangannya. Sejak mencuatnya kasus Syarifuddin masyarakat dipaksa membelalakan mata  untuk menerima kenyataan yang sebenarnya sudah menjadi rahasia umum. Pokoknya asal punya duit semuanya jadi aman terkendali. 

Belum selesai sampai di sini, kita juga dihadapkan kenyataan bahwa di dalam penjara ada napi yang masih bisa berbisnis narkoba. Hal ini sungguh aneh bin ajaib. Bayangkan, di balik jeruji besi masih bisa berbisnis oh… sungguh hebat nian masyarakat kita. Hal semacam ini sebenarnya juga sudah menjadi rahasia umum. Kasus yang terjadi di Kedungpane barangkali dapat dijadikan bukti kecil bahwa hal yang demikian sungguh ada dan terjadi di republic ini. 

Masih terkait dengan keuangan yang maha kuasa mari kita coba telisik bagaimana kehidupan seks para napi di sana? Apakah Anda bisa membayangkannya?. Jangan heran jika Anda menemui juga bisnis lendir di sana. Para napi yang punya duit lagi-lagi akan dapat enaknya karena mereka bisa pesan PSK dan sewa kamar. Untuk sewa kamar sendiri juga akan dikenakan tarif-tarif khusus sesuai dengan kelasnya; ada ekonomi, bisnis, dan eksekutif. Untuk safety seks jangan kuatir karena ada pula yang jual kondom hehehe… benar-benar surga.

Lantas, bagaimana dengan yang nggak punya duit? Gampang, ada toilet dengan harga sewa murah dengan durasi 20-30 menit. Lhah, kalau nggak bisa jajan PSK? Wah… kalau yang ini jalan satu-satunya kalau mau tetep keluar masuk ya cari lubang belakang. Tentu Anda sudah dapat menebak bahwa yang dijadikan objek adalah mereka para napi muda. Tak ada pilihan enak bagi para napi belasan tahun itu karena pilihannya hanya dua: babak belur atau dibegituin? Lantas apa imbalannya? Tentu mereka akan mendapat jaminan keamanan dari para napi penguasa yang berada di sana. Minimalnya jatah makan dan rokok aman terkendali.

Jadi sekali lagi ini adalah kenyataan bahwa memang uang itu maha kuasa. Hal-hal yang dibicarakan dalam Indonesia Lawyers Club dalam pandangan aku pribadi tak lebih dari sekedar pengungkapan saja tanpa solusi. Tak usah ribut ngatur tetek bengek undang-undang ini itu segala. Tak perlu bangun LP baru (ujung-ujungnya juga dirobohkan dan dibangun mall). Semua itu tak akan manjur karena akar permasalahannya tak berada di sana. Akar permasalahan selalu berada dalam tataran lebih dalam dari masalah. Layaknya sakit demam tak akan sembuh dengan minum pil turun panas. Demam adalah indikasi adanya penyakit tertentu. Ia bukanlah penyakit itu sendiri. Singkat kata demam adalah akibat dan akibat itu akan otomatis lenyap ketika sebabnya dilenyapkan. Lantas apa yang menyebabkan adanya “surga” di dalam penjara? Apa yang menyebabkan tindak kejahatan?

Mekanisme sebab-akibat ini jika kita runut maka ujung-ujungnya akan berkumpar di ranah pribadi. Ranah pribadi ini sangat dipengaruhi oleh factor internal dan eksternal dirinya. System nilai dalam diri seseorang itu jika kita runut lagi maka ujung-ujungnya akan mengerucut ke dalam pemahaman akan kesejatian diri. Hal itu masuk dalam factor internal sedangkan factor internal itu sendiri akan sulit dieksplorasi jika saja factor eksternal yang pada ujungnya membuahkan norma ternyata dimonopoli oleh ababil. Ya… bukankah kita ini sekumpulan ababil? Normanya norma ababil karena kita yang ababil ini tentu saja melahirkn norma ababil. Jadi, hal ini akan masuk dalam lingkaran setan yang terus menerus berputar. Mengerikan….

Apakah agama dapat memberikan solusi?

Jawabannya bisa ya bisa tidak. Ya, jika agama itu dipahami secara dewasa. Agama sebagus apapun tetap akan menjadi agama mandul jika yang memahaminya adalah ababil. Lihat saja pembunuhan-pembunuhan yang mengatasnamakan Tuhan. Lihat saja bom bunuh diri yang konon langsung dapat kapling tanah di sorga. Jika Anda berminat melihat keababilan kita dalam beragama silahkan searching sendiri di google. Banyak video-video yang mengungkap hal ini. Masak iya kalau Anda nggak mau mengikuti apa yang aku yakini maka Anda akan aku gorok? Memang kita itu aneh bin ajaib, ambil contoh saat timnas Indonesia lawan Malaysia kira-kira apa doa yang diucapkan oleh masing-masing tim dan suporternya? Tuhan mungkin jadi bingung. Taruhlah ada petani dan Anda sedang mengadakan hajatan besar. Anda pengen nggak ada hujan dan acara berjalan lancar sedangkan petani minta agar turun hujan. Wah… padahal “barang siapa yang berdoa padaKu niscaya akan aku perkenankan bagimu”. Bagaimana memahami ayat tersebut?

Tanyalah pada rumput yang bergoyang….

Artikel terkait

2 komentar

  1. awal tahun 2012 saya akan membuka kemedia video Sindikat Paspor Palsu n Potret Imigrasi
    Wasallam. Syaripudin S pane

    ReplyDelete
  2. ya, monggo aja mas Syaripudin S pane jika nurani ingin bicara. salam anget.

    ReplyDelete