SUMPAH PEMUDA, DULU DAN SEKARANG

29.10.11


Oleh: Mata Elang

Tanggal 28 Oktober adalah hari diikrarkannya sumpah pemuda. Sumpahnya pemuda-pemuda Indonesia yang sepakat menyatakan diri sebagai satu bangsa, satu tumpah darah, dan satu bahasa. Dan jika kita mencoba merasakan ruh dari kalimat-kalimat yang tertuang dalam sumpah pemuda itu, maka sangat terasa sekali rasa kebersamaan yang berkobar-kobar dalam dada mereka. 

Saya masih dapat melihat ruh dari sumpah pemuda ini saat bertemu dengan mereka para relawan dari program Indonesia Mengajar. Rasa cinta tanah air yang membara itu terlihat jelas dalam sorot mata mereka. Ya, mengajar para putra-putri bangsa yang tinggal di pelosok nusantara adalah sebuah pengabdian yang saya rasa patut diacungi jempol.

Indonesia Mengajar
Masa depan bangsa ini ada di tangan pemuda

Sebuah bangsa yang benar-benar sadar tentu akan menyiapkan pemuda-pemudanya sebagai penerus bangsa. Yang tua sudah pasti akan lengser dan digantikan oleh yang muda. Tapi ironis, tampaknya pendidikan di Negara ini masih mahal, bahkan terkesan sebagai ajang bisnis semata. Maka jargon “orang miskin dilarang sekolah” masih relevan untuk diucapkan bahkan sampai detik ini.

Beberapa hari yang lalu saya sempat survey di sebuah yayasan yang masih peduli dengan nasib bangsa ini. Di sebuah asrama yang Alhamdulillah cukup representative, ratusan anak-anak dari keluarga yang kurang mampu belajar di sana. Mereka tampak sangat santun dan bahagia. Bahkan kepada saya, orang asing yang dandanannya “njenggo” ini mereka juga welcome seperti menyambut keluarga sendiri. 

Hal ini sangat berbeda dengan apa yang saya temui di sekolah-sekolah formal lainnya. Sudah menjadi rahasia umum bahwa control orang tua yang minim menjadikan mereka gampang tertular budaya “adu otot” atau budaya “sekitar selangkangan”. Ya, mereka yang sedang ngepop dengan sebutan “ababil” (abege labil) kini saya lihat semakit membludak saja jumlahnya. Singkat kata, sepertinya Negara ini salah urus.

tawuran pelajar
Akar masalah

Jika kita mencoba memetakan permasalahan dari realitas yang terjadi di Negara kita tercinta ini, maka akan banyak sekali factor yang saling kait mengait antara satu dengan yang lainnya. Akan tetapi, sejatinya sumber masalah yang paling pokok terletak di ranah pribadi/individu. Permasalahan seperti “budaya adu otot” dan budaya “sekitar selangkangan” hanyalah permasalahan turunan dari permasalahan tentang kesejahteraan keluarga. Sedangkan permasalahan keluarga ini jelas terjadi jika individu-individu, terutama sekali para orang tua tak memiliki kesadaran yang tinggi alias sama labilnya seperti anak-anaknya. Umurnya memang tua, tapi jiwanya masih kanak-kanak alias nggak dewasa (ini pernah disinggung oleh Gus Mus).

Membicarakan masalah ini, kita akan masuk dalam lingkaran setan yang terus berputar-putar. Permasalahan-permasalahan saling kait mengkait antara satu dengan yang lainnya. Masalah pemuda berawal dari masalah kesejahteraan keluarga. Masalah kesejahteraan keluarga erat dengan permasalahan ekonomi. Masalah ekonomi erat dengan kebijakan pemerintah, sedangkan penyelenggara Negara ini nyatanya juga berasal dari keluarga. Jadi, kembali lagi, jika kesadaran individu di dalam keluarga para penyelenggara Negara saja sudah nggak oke, maka jelaslah kebijakan-kebijakan yang ada pastinya juga semrawut dan mandul.

anggota dewan kita
jangan ngiler pak
tawuran anggota dewan
 
Berbicara masalah kesadaran berarti kita membicarakan sesuatu yang subtil, sesuatu yang dalam. Tak peduli latar belakang pendidikan Anda, SD-kah, SMP-kah, SMA-kah, S1, S2, S3, S pong-pong itu semua tak menjamin tingkat kesadaran. Perhatikan, tanpa pemahaman akan kesadaran maka segala ilmu pengetahuan yang tercerap berarti tak didasari oleh landasan yang kokoh. Kenyataan yang ada sekarang ini para pendidik (jelas yang dimaksud di sini adalah orang tua atau guru) hanya peduli dengan informasi dan ketrampilan. 

Tampaknya para pendidik itu melupakan sesuatu yang justru menjadi pondasi dasar atas ilmu pengetahuan, informasi, dan ketrampilan itu sendiri. Singkatnya mereka melupakan peserta didik itu sendiri. Mereka melupakan “pihak yang mengetahui”, oknum yang sebenarnya mengetahui pengetahuan, sang basis pengalaman. Siapa dia?

Apa yang Anda ketahui?

Saya mengetahui biokimia molekuler!

Bagus sekali, siapakah yang mengetahui biokimia molekuler?

Saya!!! Saya yang mengetahuinya!!!!

Siapakah saya itu?

Wah…. Saya tak tahu….

Jelas, setiap diri itulah yang menjadi basis dasar segala pengalaman. Itulah kesadaran diri. Di dalam Negara kita jumlah professor tak kurang-kurang, banyak orang pintar, banyak orang cerdas tapi jika tanpa kesadaran maka sama saja, lihat saja dagelan politik yang semakin komedi saja. Apakah masih membingungkan? Baca artikel di sini.

Artikel terkait

3 komentar

  1. Anggota dewan kita paling rajinnnn... rajinnnn tidurrr...

    ReplyDelete
  2. hahaha... mungkin lagi ngantuk mbak...

    ReplyDelete
  3. arep dadi opo negorone nak iseh diurusi wong-wong koyok ngono iku..

    ReplyDelete