PENYAKIT PALING AKUT ITU BERNAMA….

14.10.11

Oleh: Mata Elang

Penyakit ini sebenarnya adalah pembunuh paling mematikan yang menyebabkan seorang manusia bisa mati, bahkan tak pernah hidup. Dan memang, penyakit ini kini menggejala dan makin naik daun tak hanya di bumi nusantara melainkan hampir merata di permukaan bumi kita. Jangan harap ada dokter sakti yang sanggup mengobati penyakit itu karena satu-satunya dokter yang tahu kadar keganasan penyakit itu adalah diri kita sendiri. Ya, walaupun orang lain dapat mendeteksi penyakit itu, namun itu baru sebatas diagnosis kasar dan tentunya ia tak bisa memberikan resep obat yang cespleng untuk menyembuhkannya.

Sejak dulu –bahkan mungkin pada era peradaban awal, penyakit ini sudah menggejala. Malah sekarang mungkin sudah tak terhitung berapa jumlah pasti varian-varian terbarunya. Berbagai macam ramuan obat telah diracik oleh para suci namun tak jarang justru ramuan obat itu malah menyebabkan penyakit bertambah akut. Ironisnya, penyakit itu sedemikian gampang dapat menular dan menjangkiti manusia lain tanpa kita sadar bahwa kita telah menularkan ataupun ditulari penyakit itu. Mungkin sedari tadi Anda bertanya: penyakit model apakah itu? Apakah penyakit ini sudah terendus ilmu kedokteran modern?. Baiklah, supaya Anda tak penasaran akan saya beritahu nama penyakit itu kepada Anda. Penyakit itu bernama : PENOLAKAN DIRI.

Apa? Tidakkah ada nama yang lebih keren? Macam mana yang Anda maksud?

Oh, saya suka Anda bertanya. Walau mungkin Anda kesulitan mencerna penjelasan ini, rasa keingintahuan Anda yang menggebu-nggebu itu patut saya hargai. Begini penjelasannya….

Penyakit ini sebenarnya terbentuk secara kolektif. Bahkan mungkin orang tua kita tanpa sadar menularkan penyakit itu pada kita. Supaya lebih mudah kita pahami bersama, saya akan memberikan contoh kepada Anda. Apakah Anda pernah jatuh cinta? Dan lantas Anda dimarahi orang tua Anda? Nah, saat itulah Anda mulai terjangkiti virus penolakan diri. Anda merasa tak dipahami dan perasaan itu mulai mengendon dalam diri Anda sehingga Anda bertindak tidak dalam kerangka keorisinalitas pribadi Anda sendiri. Seringkali pada tahap itu kita menjadi bunglon. Anda menjadi bukan diri Anda yang orisinil tapi Anda menjadi orang lain. Kita sekarang ini bahkan hidup dalam pandangan orang lain.

“Rama dan Sinta sudah berpacaran setengah tahun. Selama itu mereka terlihat sangat serasi sekali. Waktu berlalu, almanak-almanak  telah tanggal satu persatu. Sampai pada suatu masa, menikahlah mereka. Tapi apa lacur, mahligai perkawinan itu hanya bertahan tak lebih dari dua tahun. Keserasian mulai tak terlihat setelah mereka menikah. Mereka sering ribut bahkan saat tengah malam sekalipun. Rama mulai melihat sosok Sinta yang asli demikian juga sebaliknya. Sifat-sifat asli yang mereka sembunyikan selama berpacaran mulai mencuat satu demi satu. Bahtrera rumah tangga itupun retak dan tenggelam di tengah lautan”

Perhatikan, itulah contoh dari realita kehidupan di sekeliling kita. Rama dan Sinta nyatanya tak dapat memahami cinta mereka sendiri. Entah, makanan apa itu cinta? Apakah Rama dan Sinta dalam cerita tersebut benar-benar saling mencintai? 

Jika kita mencermati, awal mula masalah yang timbul antara kedua pasangan itu bermula ketika mereka tak sanggup melihat realita bahwa ternyata pasangan masing-masing tidak seperti apa yang dirasakan saat masih pacaran. Dengan kata lain, masing-masing tidak menjadi dirinya sendiri. Mereka menjadi imajinasi dari sosok pasangan masing-masing yang sudah barang tentu tidak asli. Mereka hidup dalam kepura-puraan. Singkat kata, mereka sama hidup dalam kepalsuan dan tidak menjadi dirinya sendiri apa adanya.

Pengembangan lebih lanjut dari virus penolakan diri ini dapat kita kaitkan pada berbagai bidang. Seringkali para pemuka agama menakut-nakuti kita dengan menekankah bahwa jerat perangkap terbesar bagi orang beriman adalah kesuksesan, harta, kekuasaan, dan popularitas. Akan tetapi sebenarnya bukan itulah biang pangkalnya. Mungkin itu hanyalah realitas di permukaan, tapi sebenarnya yang menjadi perangkap itu adalah penolakan diri. Orang yang tidak mampu menerima dirinya adalah orang yang terperangkap dalam jerat maut. Orang yang tidak mampu menerima dirinya adalah orang yang hidup dalam alam mimpi, bahkan tak pernah “hidup”. Beberapa ajaran dengan sangat gamblang menjelaskan itu lewat hukum reinkarnasi. Mereka akan terus hidup dalam kematian sebelum mampu mempurifikasi jiwanya sendiri. Mereka akan kembali lahir karena memang belum “hidup”. Dan hanya jiwa-jiwa yang “hidup” lah yang layak kembali kepadaNya. 

Kita dapat melihat hal yang sebaliknya jika orang mampu menerima dirinya sendiri. Orang yang mampu menerima dirinya sendiri tentu tak akan tergoda dengan jabatan dan kekuasaan karena ia sadar bahwa ia tak memiliki kemampuan di bidang tersebut. Orang yang mampu menerima dirinya tak akan tergoda dengan harta karena ia sudah menerima hidupnya yang sudah maksimal ia upayakan. Dan seterusnya dan selanjutnya. Singkat kata mereka bertindak dalam orbit dirinya sendiri dan tak terpengaruh dengan berbagai pandangan orang lain di sekitarnya. Mereka bergerak dalam iramanya sendiri. 

Keterangan:
Lebih lanjut, pemahaman ini akan mengarah kepada penjelasan kesepian eksistensial, dharma, dan Cinta Sejati.

Artikel terkait

2 komentar

  1. lhah mas klo masuk dalam orbitnya sendiri lama-lama dikira jadi apatis lho,tidak peduli dengan lingkungan lhah,terlalu memikirkan diri sendirilah,alias egois dsb??
    lha itu gimana mas????

    ReplyDelete
  2. coba dipahami lagi mbak artikel di atas.

    ReplyDelete