PEMBODOHAN PALING SEKARAT DI ABAD 21

26.10.11

Oleh: Mata Elang

Sejak adanya revolusi industry di Inggris, dunia telah disetir oleh segolongan manusia yang merasa memiliki kuasa atas kehidupan. Perasaan ini adalah cikal bakal kapitalisme global yang sampai sekarang telah sukses mengurung Negara-negara berkembang menjadi pusat eksploitasi yang tak berkesudahan. Dalam system seperti ini, maka masyarakat akan terbagi menjadi dua golongan, atas-bawah, produsen-konsumen, jual-beli dan seterusnya. Singkat kata, situasi inilah awal mula kata kaya-miskin masuk dalam kamus peradaban manusia.

Jika saja situasi ini kita teropong dari kacamata hukum alam, sebenarnya tak ada yang salah. Ini adalah bagian dari buah khluldi kehidupan dimana manusia akan tersadarkan dari dua kutub polaritas yang terbentuk. Di dunia Barat sendiri, bentuk-bentuk protes akan system perbudakan modern ini sedang menggejala dan makin terkuak ketidak-efektifannya setelah Barat limbung di lambung perekonomiannya. 

Demo Sistem Kapitalis

Gambar besar

Saya akan mencoba menunjukkan kepada Anda sebuah gambar besar yang kini sedang berlangsung di bumi kita. Hal utama dan yang paling pokok mendorong manusia untuk bergerak sebenarnya adalah terletak di perut. Urusan perut inilah yang mulanya memberikan daya dobrak super ekstra untuk membuat manusia bergerak. Dalam agama pun urusan perut ini pulalah yang selalu digambarkan sebagai sumber penyakit (sabda Nabi).

Ya, urusan perut telah menggerakkan manusia dalam tataran awal peradaban sebagai masa berburu dan meramu. Kemudian secara berturut-turut masuklah dalam masa pertanian, industry, pekerja pengetahuan/informasi, serta kini masa kebijaksanaan yang sedang kita mulai. Kita sepertinya akan menjadi saksi sebuah peristiwa besar yang sedang bergulir. Dalam pengamatan saya pribadi, alam pun akan mengikuti dengan perubahan besar yang bisa jadi efeknya juga akan menimpa manusia. Secara lebih lengkap, hal ini sudah saya tulis secara tersirat di artikel berjudul KAPAL NUH YANG RETAK.

Secara kasat mata, energy negative yang terakumulasi di alam semesta telah menyebabkan hokum keseimbangan mulai beraksi. Sejak masa industry hingga pekerja pengetahuan/informasi saya pastikan banyak akumulasi energy negative yang terpancar akibat rintihan batin para pekerja keras di tempat kerja mereka masing-masing. Hal ini tentu menimbulkan tabungan energy negative secara kolektif di alam semesta. Peristiwa perang, teroris, dan bencana-bencana alam yang akhir-akhir ini menggejala dalam pandangan saya adalah bukti bahwa semesta sudah mulai menyeimbangkan dirinya.

Masa industry telah mendorong kita meletakkan derajat manusia jauh di bawah  mesin. Hal inilah yang saya katakan sebagai perbudakan zaman modern. Banyangkan, betapa menggelikannya ketika dalam sebuah proposal bisnis alat-alat dimasukkan dalam investasi sedangkan manusia dimasukkan dalam pengeluaran/biaya. Sungguh, bagi saya ini adalah perbudakan di jaman modern. Manusia tidak dinilai berdasarkan martabat kemanusiaannya melainkan dipandang sebagai barang yang dapat dibongkar pasang sesuai kebutuhan (lihat outsourching). Inilah awal mula rintihan jiwa para pekerja keras menggeledek dan muncrat ke alam semesta. 

Di tempat kerja, lantas terjadilah hal yang sering saya lihat dalam perusahaan yaitu ABS (asal bapak senang). Pengalaman ini ternyata tak hanya berlaku di lembaga pemerintahan saja, saya pun juga melihat hal ini di perusahaan swasta tempat saya dulu menjalankan proyek penelitian. “asal bapak senang” adalah jargon yang sudah menjadi rahasia umum berikut praktek-praktek “menghabiskan dana” alias korupsi. Jika dalam lembaga pemerintah dikenal dengan cara babat habis anggaran dana maka diperusahaan swasta disebut korupsi bersama-sama, asal perusahaan masih untung dan bisa kongkalikong sesama pengawas-pekerja hal ini saya jamin akan terjadi. 

Akan tetapi kegiatan “babat dana” itu kadang juga tak berjalan dengan mulus. Hal ini menjadi lumrah saja karena tak setiap orang mau diajak bekerja sama dan sama-sama ingin dapat porsi yang banyak. Maka dari itu tak heran jika dalam berbagai jenis organisasi itu banyak terdapat kecemburuan-kecemburuan antara satu divisi dengan divisi yang lainnya. Bukankah demikian? Hehehe…

Jeritan-jeritan mereka

“aku terperangkap dalam rutinitas yang menjemukan”

“hasil kerjaku tak dihargai oleh bos, sialan”

“aku merasa tak berguna, ada atau tidak diriku sepertinya juga tak berpengaruh bagi sekelilingku”

“aku merasa tak berkembang”

“ada sesuatu yang hilang dari hidupku, hidupku terasa statis dan monoton”

“aku merasa seperti mesin, banyak deadline, kerja lembur, capek”

“divisi anu enak benar, kerja sedikit bayaran banyak, ini tak adil”

Itulah jeritan-jeritan yang sering saya dengar dari para pekerja baik di instansi pemerintah ataupun di perusahaan swasta. Kebanyakan seperti itu, mungkin hampir 90 persen para pekerja keras. Saya tak bisa menolak bahwa ada sebagian kecil dari mereka yang sungguh menikmati apa yang mereka lakukan. Tapi itu hanya sebagian kecil, sedikit sekali. Ya, karena Anda memiliki kemampuan yang lebih daripada melakukan aktifitas-aktifitas monoton dan menjemukan di sana. 

Di bawah kaki kapitalisme, tridarma perguruan tinggi bertekuk lutut, angkat tangan, dan hanya menjadi slogan usang….

Artikel terkait

0 komentar