MENZIARAHI DIRI

18.10.11


Mungkin ada tunas yang mulai berakar setelah hati seolah mati. Ada rindu yang bersandar. Aku cukup paham akan rasa dan kecewa. Aku cukup mengerti mana mawar mana kamboja. Ini hari, kulihat tunas itu bertumbuh, menjaring matahari…

Aku telah bepergian jauh. Jauh menapaki jengkal demi jengkal kerak bumi. Dari tanah gersang hingga hutan-hutan. Dari kampung-kampung urban hingga kota-kota metropolitan. Aku melihat orang lalu lalang, sama sepertiku. Mereka juga pergi, jauh sekali. Entah mau kemana? Entah mau mencari apa? Aku sendiri tak jelas arahku. Sejak para suci menasehati arah kedatangan dan arah kepulangan, aku masih saja hirau petuah mereka. Petuah yang berselimut kabut, tertutup tabir karena hidup kita pun sama berkabut. Aku ingin pulang sayang. Mungkin aku merindu ketika seperempat abad silam aku tidur dalam gua itu. Gelap dan nyaman, gelap tapi terang. 

Aku terhenyak tak karuan. Selama ini ternyata ada pekuburan di rumah tinggalku. Sudah lama aku menelantarkannya bahkan mungkin tak pernah tersentuh oleh tanganku. Tak pernah terlihat oleh dua buah bola mataku. Oh… sungguh mengenaskan. Ini sungguh sebuah ironi. Lama sudah aku bepergian tapi begitupun tak jelas jua kemana hendak aku mau pergi. Mungkin aku mencari pekuburan ini. Ya… orang-orang juga mencari kuburan mereka sendiri-sendiri. Aku semakin heran. Sekarang kulihat orang-orang jadi mayat. Aku sendiri pun mayat. Mayat-mayat yang mencari kuburannya masing-masing. Selama ini aku, kau, mereka mati. Aku tak pernah hidup. Dan memang benar, bahwa kita mati untuk hidup.



Artikel terkait

0 komentar