LINTANG BERKHOTBAH DI PUNCAK KAKI LANGIT

11.10.11


Tiap senja hampir melumat bangkai matahari Lintang selalu tampak takzim di atas batu hitam di lidah sungai. Di sini segalanya terkuak dan tersimpan seperti lipatan kemeja dalam lemari kayu. Langit, sungai, pepohonan, cericit burung, bunga, putik, sampai suara gemeretak di ujung DNA segalanya hening.

Lintang terus saja bergeming dalam istirahnya, menatap arus sungai yang nampak seperti gerbong kereta berjalan berderet-deret menyusur lembah demi lembah. Seperti sedang berpikir tentang sesuatu yang berat, ia sesekali mengedip-kedipkan matanya. Namun demikian raut wajahnya masih tampak berkilau-kilau sekilau namanya, terang teduh. Ia mungkin tampak sedang mewiridkan aksara-akasara ganjil padahal jauh di dalam hatinya ia sedang tertawa. Sebuah tawa yang tak terdengar telinga awam. 

“kenapa kau Lintang, kenapa kau bersedih?”, Elang menghampirinya. Ia tampak heran dengan perilaku Lintang yang tampak aneh di sore ini. Tak seperti biasanya ia selalu mengumbar senyumnya dengan hias warna emas sang mentari yang meronta dimakan senja.

“Kau ingin tahu apa yang kurasakan Elang?, makanlah buah ini!”, ia mengeluarkan buah kecil sebesar duku.

“ah, pahit sekali, buah apa ini?”

“wahai sahabatku Elang, lidahmu belum sampai. Lidahmu belum sampai pada makna rasa. Lidahmu masih terpedaya selimut rasa Elang. Tempat ini bukanlah lembah kaki langit, ini adalah puncak kaki langit. Rasaku bukan lagi rasa dalam lidah. Rasaku ada dibalik rasa itu. Sejak Kitab turun bersama cahaya, ia berkata: bacalah! Tidakkah kau tahu banyak orang membaca tapi tetap bebal. Segala lengkung aksara ia baca tapi jiwanya kosong. Sungguh, betapa banyak orang yang membaca tapi hanya jadi makhluk hafalan, serupa hardisk di computer bututmu itu. Ia hanya tersimpan tanpa pernah jadi makna. Ia bahkan mengendon layaknya sampah tak berguna. Wahai Elang, temani aku agar aku tak girang sendirian…..”

Lintang semakin nyerocos dalam diamnya. Sedetik tampak muram, sedetik tampak riang. Riang tapi muram. Duka tapi suka, seperti Khidir menceramahi Musa. 

“turunlah kau ke kota sampai pelosok desa. Telusuri gedung-gedung pencakar langit itu. Jelajahi rimba raya. Telan habis kampung-kampung sungai, kain gombal petani sampai jas Armani. Jam matahari sampai Patek Philippe. Kutang si mbok sampai dompet Louis Vuitton. Telan habis semua. Kalau perlu kau tungganggi gerobak pedati dan masukkan ke dalam kerongkongan Mercedes S500. Telan semuanya, cari maknanya. Jangan berhenti… jangan berhenti cari terus sampai kau keluar dari gambarnya. Di matamu, di lobang hidungmu, sampai di muka pantatmu itu”

Elang Nampak keheranan melihat Lintang nyerocos kesurupan. Mendadak langit memerah serupa ruby berpendar-pendar. Lintang seolah menghilang ditelan bayangannya sendiri. Namun suaranya terus melengking, tercurah menghantam segala yang ada. Lantas ia pergi begitu saja meninggalkan Elang yang masih tampak kebingungan, kemudian hilang mengikuti surup yang semakin redup.

“oh… bangsaku…. Kenapa kau lambat menafsir?”, Elang bergumam sendiri.

Artikel terkait

0 komentar