Langkah Laju Roda Pedati

4.10.11

Sudahsudahlah, kau takkan mampu mengatamkan baitbait cinta di mukamuka semesta ini. Bahkan debudebu di bulu hidungmu pun belum sempat kau eja makna. Kau cukup menapakkan kakimu saja. Kaki yang kau pahami sebagai kendara laju roda pedati. Pelanpelan saja. Tak perlu risau terik menekik pun gerimis yang lamislamis. Sederhana saja. Pahami laju langkahmu, maka kau pun kan tahu jejakjejak yang dulu menyisa setapak.

Jika cinta telah berbuah di dadamu, tetaplah dalam langkah laju roda pedatimu. Bagikan cintamu kepada siapa saja, itu lebih “menerangkan” hatimu dibanding kau buat jejaring labalaba. “kedewasaanmu” dapat kau ukur di lingkup kerak kulit bumi yang nyata. Bukan dalam perut bumi, bukan dalam lautan tak bertuan. Maka jikalau sesekali kau lelah, maka sejenak berhentilah. Mampirlah di cafecafe yang ada, dan bertapalah di sana. Kau kan banyak temukan pelajaran berharga. Jika kau dapat mengerti, pastinya kau kan tersenyum saat jasad tak lagi mengurungmu pada dimensi ketiga ini.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Seorang pemuda keras kepal tangannya, mengutuki seorang berjubah putih

“kau sesat, kau sesat” teriaknya menggelorakan lautan. Orang berjubah putih itu tak menghiraukan pemuda yang mengutukinya. Ia pergi berlalu begitu saja.

Tepat diperempatan jalan pemuda itu bertemu dengan seorang anak kecil.

“hai bang, tolong aku. Aku punya sebuah batu dan coba kau tanyakan berapa harganya di pasar seberang”

“dengan senang hati dek”

Pemuda itu berputar-putar di pasar, menyakan harga sebuah batu. Lalu ia kembali.

“maaf dek, batumu ini tak berharga”

“masak sih bang, coba tanyakan ke toko sana”, anak itu menunjuk sebuah toko perhiasan yang cukup mewah. Pemuda yang baik hati itupun segera bergegas ke toko yang dimaksud.

“Pak, batu ini kira-kira berapa harganya?”

“coba saya lihat dulu. Hm… wow… ini adalah batu yang lama kucari. Puluhan tahun aku mencari batu jenis ini ternyata kau menawarkannya padaku, aku berani menawarnya 1 milyar. Bagaimana pemuda, apakah kau sungguh berniat untuk menjualnya padaku???”

“Tunggu dulu Pak, batu ini bukan milikku. Akan saya tanyakan dulu pada yang punya”. Lalu ia bergegas kembali ke anak kecil tadi. Tapi sesampainya di sana ia tak menemukan anak itu. Ia tanya ke orang2 sekitar, bahkan mereka tak pernah melihat anak kecil itu.

“aku tlah salah menilai”, pemuda itu bergumam sendiri.


Bogor, 15 januari 2010
MATA ELANG

Artikel terkait

0 komentar