KENAPA BERPIKIR TIDAK BOLEH?

10.10.11


Sebuah refleksi dialog Gus Mus-Iwan Fals

“silahkan Anda berpikir paling gila sekali pun, tapi jangan berhenti belajar. Orang-orang yang berhenti belajar adalah mereka yang menganggap dirinya sudah pandai sehingga merasa benar sendiri”

“saya manusia saja”

Beberapa kalimat di atas adalah dialog Gus Mus yang terekam dalam memori otakku. Seperti pada posting artikel yang entah lalu, berpikir sejatinya memang diharuskan bagi Anda yang beragama Islam. Dalam beragama sekalipun, seorang muslim harus menggunakan pikirannya. Lhoh, beriman itu kan keyakinan tho mas? Kok pakai berpikir segala? Hm… coba kita perhatikan ayat berikut ini:

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (lantas berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. QS. Ali Imran (3): 190-191

Jika kita lihat ayat di atas maka adalah benar bahwa berpikir ini harus dilakukan oleh setiap muslim. Jangan hanya ikut-ikutan saja, jangan hanya membebek. Singkat kata jangan taklid buta dalam beragama. Bahkan perkara berpikir ini adalah landasan iman yang akan mengantarkan si manusia sampai dalam tataran haqqul yakin seperti sudah saya posting di sini.

Sebenarnya saya tak suka menukil-nukil ayat seperti di atas. Akan tetapi sebagian besar saudara kita itu biasanya selalu nanya: dalilnya mana? Ironisnya, menurut mereka itu alam ini bukanlah ayat. Padahal apa yang di pelajari Sang Rosul? Apakah Al Quran? Lha wong Al Quran nya belum turun kok, baru iqro doang. Yang di-iqro apa sih?

Jangan berhenti belajar

Nah, kalau ini adalah wejangan Gus Mus agar si manusia tidak gumedhe, keminter, dan kemlinthi. Kalau hal ini kita dapat lebih jelas melihatnya dalam perguruan-perguruan silat. Bocah yang baru level satu itu malah kadang gayanya minta ampun. Sebaliknya, Guru besarnya justru malah suka diam dan kadang tersenyum sendiri melihat muridnya. Dan memang, semakin kita tahu, justru semakin membuat kita tahu bahwa kita tak tahu. Hahaha… memang kehidupan dunia ini komedi sekali. Lucu…

“saya manusia saja” nah, perkataan Gus Yang ini hampir mirip dengan cerita nyata yang sudah saya posting di sini. Perkataan Gus Mus memang lebih mudah dipahami dibanding dengan perkataan Bang Iwan waktu menjawab pertanyaan. Beberapa teman saya bertanya, maksudnya Iwan Fals itu bagaimana sih?

Ya… baiklah. Tadi sudah saya singgung mengenai “saya manusia saja”. Sedangkan apa yang dikatakan oleh Bang Iwan itu sebenarnya adalah lanjutan jika kemanusiaan itu diinjak-injak. Semula bagi Bang Iwan ia akan langsung melawan, tapi setelah membaca puisi Gus Mus beliau jadi tahu bahwa tidak langsung hajar saja ketika kemanusiaan diinjak-injak. Ada tiga tahapan menentang, menghujat, baru melawan. Berikut ini adalah puisi Gus Mus yang dijadikan lagu oleh Bang Iwan:

Aku Menyayangimu
Lirik: KH. Mustofa Bisri (Gus Mus)
Lagu: Iwan Fals


Aku menyayangimu karena kau manusia
Tapi kalau kau sewenang wenang kepada manusia
Aku akan menentangmu
Karena aku manusia

Aku menyayangimu karena kau manusia
Tapi kalau kau memerangi manusia
Aku akan mengutukmu
Karena aku manusia

Aku menyayangimu karena kau manusia
Tapi kalau kau menghancurkan kemanusiaan
Aku akan melawanmu
Karena aku manusia

Aku akan tetap menyayangimu
Karena kau tetap manusia
Karena aku manusia

Aku akan tetap menyayangimu
Karena kau tetap manusia
Karena aku manusia

Aku akan tetap menyayangimu
Karena kau tetap manusia
Karena aku manusia

Aku akan tetap menyayangimu
Karena kau tetap manusia
Karena aku manusia

Artikel terkait

0 komentar