JALAN KESUKSESAN TANPA KERJA KERAS

2.10.11

Sudah berulang kali saya bilang bahwa kerja keras adalah pangkal kebobrokan, kerusakan dan bencana. Oh, apakah Anda merasa jengkel dengan pernyataan ini? Saya tak mengada ada. Banyak tokoh besar yang saya temui adalah mereka yang bukan pekerja keras, tapi justru maniak dan master-master pemalas. Merekalah para pemegang sabuk hitam seni kemalasan. Hukum tarik menarik telah sukses mengantarkan saya kepada mereka. Simak omongan mereka berikut ini:

“ngapain kerja keras, goblok kamu”, Bob Sadino

“bisnis adalah hobi saya”, Jaya Setiabudi

Hm… apakah Anda ingin tahu alasannya. Alasan terdalam dari hal ini hanya bisa Anda dapatkan jika saja Anda mau mendalami dunia spiritual. Anda harus menyelam dalam lubuk hati yang terdalam. Di sana Anda akan mendengar suara hati Anda sendiri. Dalam bahasa sufi maka disanalah letak “amr” (tanggung jawab) atau dapat dikatakan itulah peran Anda dalam kehidupan kali ini. Itulah lakon Anda. Itulah amal ibadah utama Anda. Itulah yang mendasari hadist Nabi: jika kau serahkan pekerjaan tidak pada ahlinya, maka tunggulah kehancurannya. Ya, setiap manusia memiliki “amr”nya sendiri-sendiri.

Telanjanglah Nak….

“nak, coba lihat wajahmu!!!”

“tidak bisa eyang”

“lihat wajahmu”

“tidak bisa eyang”

“lihat wajahmu”

“tidak bisa eyang”

“nak, kau punya mata bukan? Kenapa kau tak bisa melihat wajahmu? Nak, kau harus “telanjang” !!!!”

Baiklah, saya akan beritahu Anda rahasianya. Ada dua komponen yang harus Anda sadari terlebih dahulu yaitu kesenangan dan permainan. Hal yang mendasari konsep ini saya gali dari sebuah ayat: Hidup ini adalah senda gurau belaka. Nah maka dari itu, prinsip permainan dan kesenangan inilah pangkal dari segala keberhasilan. 

Melalui kesenangan dan permainan para penemu telah menghasilkan karya-karya gemilang. Lampu pijar, pesawat terbang, ilmu genetika, dan sebagainya adalah hasil-hasil dari kesenangan dan permainan. Coba bayangkan, apa yang dihasilkan oleh para pekerja keras? Mereka seringkali hanya dianggap robot. Tempat kerja sekarang ini lebih mirip sebagai tempat perbudakan modern. Anda termasuk salah satu diantaranya jika Anda selalu mengatakan: “asyik si bos kagak ada”, “asyik, mandornya lagi cuti” dan sebagainya dan seterusnya. Bagaimana? Apakah Anda juga sering mengucapkan hal demikian?

Perhatikan, ciri dari sebuah “arm” adalah bermanfaat untuk orang banyak. Bermanfaat untuk memahayu hayuning bawana (mempercantik kecantikan dunia). Filosofi ini berisi ajaran Tri Satya Brata. Pertama, rahayuning bawana kapurba wakistaning manungsa (kesejahteraan dunia tergantung manusia yang memiliki ketajaman rasa), yang menunjukkan keharmonisan hidup antara manusia dengan alam baik dalam lingkup dunia sebagai kewajiban hamengku bumi ataupun seluruh alam semesta sebagai kewajiban hamengku buwana

Kedua, darmaning manungsa mahanani rahayuning Negara (tugas hidup manusia adalah menjaga keselamatan Negara) sebagai sebuah kewajiban hamengku nagara karena kita memang hidup bersuku-suku dan berbangsa-bangsa yang diwadahi dalam sebuah Negara. Ketiga, rahayuning manungsa dumadi karana kamanungsane (keselamatan manusia oleh kemanusiaannya sendiri). 

Menemukan “amr” adalah menemukan diri. Menemukan diri adalah menemukan Tuhan. Man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu, barang siapa mengenal dirinya maka ia akan mengenal Tuhannya. Jadi, pantaslah jika dikalangan sufi disebutkan bahwa awal beragama adalah makrifat.

Artikel terkait

0 komentar