ANTARA AKU, GUS MUS, DAN IWAN FALS

9.10.11

Tabir gelap yang kini hinggap lambat laun mulai terungkap. Labil tawamu tak pasti tangismu. Jelas membuat aku sangat ingin mencari. Apa yang tersembunyi di balik manis senyummu. Apa yang tersembunyi di balik bening dua matamu.....

Bahasa cinta Gus Mus dan Iwan Fals

Melihat acara di Kick Andy kemaren kita dapat dengan jelas melihat bahasa cinta yang hendak disampaikan oleh kedua tokoh tersebut. Jika Bang Iwan bergerak dengan menggunakan media lagu maka Gus Mus bergerak dengan menggunakan kata-kata dan lukisan. Sedangkan aku?

Tulisan di blog ini lebih terkesan urakan dan cengengesan jauh dari kesan ngayomi. Ya.. bisa jadi apa yang tertuang dalam blog ini adalah bahasa blak-blakan. Bang Iwan dan Gus Mus lebih sering bermain kata dengan kedalaman tafsir seperti dalam syair Iwan Fals yang sudah aku posting di SINI.

“saya tak bisa menyalahkan Anda?” adalah kalimat diplomatis yang diutarakan Gus Mus ketika diserang dengan pertanyaan menyudutkan tentang keyakinan dan memang demikianlah seharusnya. Aku pun tak punya wewenang untuk menghakimi keyakinan Anda. Karena sejatinya kita masih berproses untuk mencari dan mencari.

“jadi maksud Anda, pendalaman mereka mengenai agama masih dangkal?” -Andy

“walau itu dari Anda, saya setuju” –Gus Mus

Hahahaha.... tampaknya Gus Mus lebih berusaha untuk “keluar” daripada “ikut bermain” di lingkaran setan yang sering berujung pada perdebatan panjang di forum-forum dunia maya. Ah... andai saja aku bisa ngopi bareng panjengengan di kedai Pak John, Gus....

TANAH GERSANG BAU GARAM (REMBANG)

Tanah gersang, bau garam
aku kau keluar dari rahimnya
seorang putra garam tanah gersang
menyusu dari putingnya, tidur dalam dekapannya

lalu kita bertumbuh dari saripatinya
saripati tanah gersang bau garam
kita bernjak dewasa, serupa kristal-kristal garam yang matang
berkilatan cahaya berharap terbang menggantikan bintang
dan kita pun mulai beranjak menelusuri peta garis tangan kita masing-masing
menjelma jadi butir-butir garam bersenyawa dengan lautan tak bertuan

putra garam tanah gersang, menimba ilmu di lautan
menjilati tiap jengkal per jengkal keruh beningnya
menyusur palung mencari mutiara-mutiara di dalamnya

Putra garam tanah gersang
kini paham pasang surut kehidupan
terbang jadi bintang bukan lagi harapan
kita pun dapat menjelma sesuka hati, tak lagi hanya sebutir kristal garam di tanah gersang
menanggalkan atribut-atribut tanah gersang bau garam bukan lagi persoalan

namun, tak sadarkah kita bahwa kita lahir dari rahim tanah gersang bau garam?
pantaskah kita mendongakkan kepala, mengutuki riwayat-riwayat musim gersang di tanah kita?
sekalipun kita tanggalkan, kita tetap jadi putra garam tanah gersang.

Batam, 30 Agustus 2009.

Artikel terkait

0 komentar