ANTARA AKU, GUS MUS, DAN IWAN FALS (II)

14.10.11


Aku heran dengan judul sepele yang kutorehkan dalam artikel nggak bermutu beberapa hari yang lalu ternyata menjadi artikel yang paling dicari. Oh… sesuatu banget gitu lhoh… sepertinya memang benar seperti apa yang diungkapkan oleh Gus Mu itu sendiri bahwa kita merindukan Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi satu jua. Ah… kali ini aku nggak akan ngebahas topic yang berat-berat. Bhineka Tunggal Ika itu topic yang berat. Renaisance-nya Indonesia, puncak peradaban, kalau ditimbang beratnya mungkin lebih berat dari pahala jihadnya bom Solo.

Kita kembali ke topic. Ngomong-ngomong masalah judul, artikel panjang bin lebar yang aku kasih judul Rongrongan ideology pancasila juga cukup oke. Sempat beberapa minggu nangkring di puncak klasemen. Melihat kenyataan ini sepertinya masyarakat Indonesia yang “kebetulan” netter masih punya rasa kepedulian dengan Pancasila itu sendiri. Tapi aku masih menyimpan sebentuk keheranan. Kenapa dari sekian banyak klak klik klak klik itu tak ada satu pun yang mengajukan komentar? Apakah emang bahasanya ketinggian atau gimana? 

Ya udah santai aja, agar topic bahasan kita kali ini tak terlalu melenceng dari judul maka kita bahas wawasan kebangsaan saja. Kita mulai dengan realita bahwa aku dan Anda itu satu bangsa. Orang-orang yang berasal dari satu bangsa maka sedikit banyak lebih memiliki ikatan batin jika dibandingkan dengan hubungan kita dengan bangsa lain betul? Kenapa? Karena dulunya kita pernah merasa senasib sepenanggungan. Lebih tepatnya waktu kita dijajah bangsa asing. Ini realita.

Akan tetapi kini kita telah dijajah kembali. Dijajah secara budaya, dijajah secara ekonomi, dan dijajah secara spiritual. Ironisnya, keterjajahan ini belum mendatangkan Renaisance-Indonesia kedua. Nggak papa sih, karena semua sudah ada waktunya. Mari kita kembali ke topik akibat keterjajahan. Sebagai sebuah bangsa, kita tidak lagi orisinil karena keorisinilan kita sudah dikebiri oleh bangsa lain. Akibatnya kita menjadi tidak PD, kehilangan kedirian alias tidak punya jati diri sebagai sebuah bangsa. Efek domino dari hal ini akan merembet ke banyak hal. Dari dipuja-puja bangsa kini dihina-hina bangsa. Tak punya harga diri dan kekayaannya banyak yang dicaplok oleh bangsa lain. Hal ini jelas kontras jika kita kaitkan dengan pembukaan undang-undang dasar yang bercita-cita menghapuskan penjajahan di atas dunia. 

Bangsa Indonesia dahulu tampaknya lebih merdeka jika dibandingkan dengan sekarang. Perlu kita ingat bahwa kemerdekaan itu bermula dari kemerdekaan jiwa. Wah, yang ini erat kaitannya dengan sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. Ya… dulu Ketuhanan Yang Maha Esa tapi sekarang sudah ganti menjadi keuangan yang maha esa. Inilah bukti bahwa sebagai bangsa kita juga dijajah secara spiritual. Banyak dari kita beragama tapi malah menjadikan agama sebagai berhala. Tuhan turun tahta jadi kitab, nabi turun tahta jadi hadist. Maka dari itu jangan pula salah tafsir jika ada hadist yang berbunyi begini: 

“Musa berkata, ‘Ya Tuhanku, ajarkanlah kepadaku sesuatu untuk berdzikir dan berdo’a kepada-Mu.’ Allah berfirman ‘Katakan hai Musa, La Ilaha Illallah.’ Musa berkata lagi, ‘Ya Tuhanku, semua hamba-Mu mengucapkan ini.’ Allah pun berfirman, ‘Hai Musa, andaikata ketujuh langit dan penghuninya, selain Aku, serta ketujuh bumi diletakkan pada daun timbangan, sedang ‘La Ilaha Illallah’ diletakkan pada daun timbangan yang lain, maka ‘La Ilaha Illallah’ niscaya lebih berat timbangannya’.” (Hadits riwayat Ibnu Hibban dan Al-Hakim)

Hadist itu jangan diartikan sempit. Kalau Cuma ngomong La Ilaha Illallah semua orang juga bisa. Jadi, landasan sila pertama ini haruslah mengejawantah terlebih dahulu. Berhala itu ada banyak, termasuk diri kita sendiri. Ketidak orisinalnya diri kita adalah wujud paling halus dari ketidakpahaman akan sila pertama ini. Kok bisa? 

Artikel ini terpaksa aku biarkan menggantung karena aku lagi nyruput kopi. Pagi-pagi minum kopi, sesuatu banget gitu lhoh….

Artikel terkait

0 komentar