PERBINCANGAN KEDAI KAKI LANGIT

26.8.11


“aku tahu duniamu, Andre… dunia gemerlap. Dan kaupun pasti cukup terkejut saat melihat kedai kaki langit ini. Manusia terlahir dalam dunianya sendiri-sendiri Ndre dan dalam percumbuannya dengan wajah peristiwa, hanya orang yang sadarlah yang dapat mengambil hikmah. Memang, terkadang kita hanyut dalam sebuah keasyikan yang seolah surga, padahal itu semu belaka. Di sini tak ada anggur-angur mewah, tak ada sloki-sloki arak dan kau tak perlu mengeluarkan segepok uang jutaan rupiah hanya untuk sebuah kenikmatan semu belaka. Hahaha…”

Andre terkejut mendengar awal pembicaraannku di kedai kaki langit. 

“kau tak usah heran dan malu Ndre. Aku pun tahu pola kehidupanmu dulu, tapi kau cukup kuat untuk menahan godaan dan tak terjerumus lebih dalam. Sebenarnya, mantan kekasihmu yang minggat itu adalah tangan Tuhan yang menyelamatkanmu dari candunya dunia gemerlap itu. Janganlah kau marah kepada mereka semua, mereka adalah bagian dari kehidupanmu. Mereka adalah bagian dari fragment hidup yang kini telah mendewasakanmu.”

“apa kau juga tahu bahwa…”

“ya, kau mau aku bercerita pada bagian yang mana? penculikan ke Bali, hotel-hotel bintang 5, villa-villa pegunungan, music “geleng-geleng” dengan segala tamburnya, atau ….”

“cukup, sudah-sudah stoooop…. Jangan kau menelanjangiku Elang. Aku malu….”

“ya… ya… ini sebagai gambaran bahwa nanti kau pun akan melihat apa-apa yang pernah kau lakukan di dunia. Semua yang pernah kita sentuh akan menjadi saksi. Alam semesta ini adalah “kamera” hidup yang merekam seluruh tingkah polah kita. Mulai dari hal yang membanggakan sampai hal yang tabu sekalipun dan seorang yang arif adalah mereka yang dalam setiap perbuatannya merasa seolah-olah melihatNya atau sadar bahwa ia dilihatNya”

Lalu angin pun berhembus, mengendapkan segala perbincangan kami, merefleksikan diri kami masing-masing. Lintang hanya terlihat senyum-senyum sendiri di dalam. Entah, sepertinya ia dapat mendengar apa yang kami perbincangkan. Sejenak ia keluar sambil membawakan nampan berisi tiga gelas kopi manis di atasnya.

“tahukah kalian, pada tingkat keheningan tertentu tak ada jarak dan waktu. Kita menyatu dalam kesatuan layaknya gula dalam kopi ini. Beruntunglah jika kalian memiliki pengalaman kehidupan yang kadang mungkin terasa pahit dan terasa manis. Seperti halnya kopi ini, seberapa manis kopi ini tentu akan memiliki tingkat kemanisan tertentu, disamping rasa pahit yang wajib kalian rasakan terlebih dahulu. Life is never flat, jika hidup kalian datar-datar saja niscaya kalian akan selamanya menjadi anak-anak.”

Perbincangan sore ini telah mengantarkan kami pada keheningan itu. Tak ada perkataan lagi. Kami menikmati kebersamaan dalam bahasa diam. Kami seolah hilang, antara ada dan tiada.

Artikel terkait

0 komentar