Jas Merah

2.8.11

Apa itu yang disebut bangsa????

Jika kita menilik ledakan emosi manusia-manusia di bumi Asia dan Afrika dulu. Jika kita lihat dengan mata kita catatan catatan sejarah mengenai kaum-kaum tertindas di sebagian belahan bumi itu. Kita akan menemukan bahwa sekelompok manusia-manusia yang menggeledek kala itu sama-sama tertindas, sama-sama terinjak-injak, sama-sama diperas hak-haknya, terpasung kebebasannya, dan aneka macam rupa kebiadaban yang dilakukan oleh negeri-negeri penjajah. Oleh karena itu, tercipta rasa senasib sepenanggungan, tercipta rasa saling empati, dan segala rasa yang mendarah daging diwariskan selama berpuluh-puluh tahun bahkan sampai ratusan tahun (bangsa Indonesia). Rasa yang tertimbun berlipat-lipat dalam dadanya sekelompok manusia itu menjadikannya bara api yang berkobar-kobar. Sebuah semangat untuk lepas dari segala penindasan dan membentuk satu masyarakat yang mandiri.

Dari kenyataan yang demikian itu maka Otto Bauer dan Ernest Rinan kemudian menekankan arti bangsa lebih pada kehendak untuk hidup bersama. Sedangkan Ki Bagoes Hadikoesoemo atau Tuan Munandar lebih menekankan pada "persatuan antara orang dan tempat". Menurut Guibernau bangsa adalah kelompok manusia yang memiliki unsur-unsur penting pengikat, yaitu: psikologi (sekelompok manusia yang memiliki kesadaran bersama untuk membentuk satu kesatuan masyarakat – adanya kehendak untuk hidup bersama), kebudayaan (merasa menjadi satu bagian dari suatu kebudayaan bersama), teritorial (batas wilayah atau tanah air), sejarah dan masa depan (merasa memiliki sejarah dan perjuangan masa depan yang sama), dan politik (memiliki hak untuk menjalankan pemerintahan sendiri). Kemudian, menurut RAWINK bangsa adalah Sekumpulan manusia yang bersatu pada satu wilayah dan memunyai keterikatan dengan wilayah tersebut. Dengan batas teritori tertentu dan terletak dalam geografis tertentu.

Oleh karena itu jelaslah bahwa bangsa Indonesia yang terbentuk seperti sekarang ini dulunya mempunyai sejarah yang panjang. Mereka memiliki ikatan rasa yang teramat dalam. Ikatan rasa itu terpupuk dan mengendap dalam dadanya dan kemudian terciptalah bangsa Indonesia. Sejarah itu jelas terlihat dari Sumpah Pemuda. Sumpahnya manusia-manusia yang ingin merdeka dan memiliki ikatan rasa yang dalam, memiliki ikatan psikologi yang sama, dan ingin membentuk masyarakat dan pemerintahannya sendiri. Itulah sekelumit sejarah adanya bangsa Indonesia.

Jadi, jikalau sekarang ini kita lihat dan tampak sekali bahwa ada sebagaian dari saudara-saudara kita yang “bergejolak” ada sebagian dari keluarga kita yang khilaf mencederai keluarganya sendiri, maka dapat dipastikan bahwa saudara-saudara kita itu lupa akan sejarah. Lupa pada leluhurnya sendiri. Lupa akan moyang-moyang yang melahirkannya. Lupa akan perjuangan pahlawan-pahlawan yang menyebabkan kita dapat semerdeka sekarang. Generasi muda sekarang telah dininabobokkan oleh keadaan. Rasa kebersamaan, ikatan psikologis sebagai suatu bangsa yang dulu telah diproklamirkan menjadi sumpah pemuda telah dilunturkan. Sejarah… sejarah… kawan. Jangan sampai kita ini lupa akan sejarah. Ingat di dalam Al Quran sendiri itu sebagiannya adalah kisah-kisah. Secara tersirat kita itu disuruh mempelajari sejarah. Mempelajari hikmah-hikmah yang dapat dipetik di sana.

Jas Merah : Jangan sekali-kali lupakan sejarah


Artikel terkait

0 komentar