BAHASA SINDIRAN ATAU BAHASA SENTILAN?

26.8.11


Dalam beberapa posting artikel sengaja aku menggunakan bahasa sentilan. Namun lain waktu akupun menggunakan bahasan sindiran halus. Kedua pola bahasa ini aku rasa diperlukan karena tak setiap orang mampu merenungi sindiran-sindiran halus yang dalam tradisi Jawa sangat sering digunakan untuk tidak menyakiti perasaan si lawan bicara. 

Namun sayangnya, di jaman yang serba cangih ini banyak orang tak mampu mengerti bahasa sindiran. Makna konotasi dan denotasi kian tercampuraduk sehingga menimbulkan semacam kerancuan sendiri. Ah, atau mungkin otakku ini yang terlampau bodoh sehingga betapapun manisnya kata konotasi atau denotasi tak mampu tercerna oleh otakku. 

Contoh sederhana mungkin aku ini terlampau dungu untuk mengartikan kata “korupsi”. Aku menjadi terbengong-bengong ketika seorang pejabat Negara mengutil uang rakyat dengan alasan “cinta keluarga”, “uang balas jasa”, dan segudang kata manis lainnya. Sedangkan banyak orang-orang bawah yang “kere ayem” selalu bilang ke aku saat nyogati dinner dengan lauk “daging” padahal jelas-jelas tempe dan tahu. Aku menjadi linglung sendiri. Apakah kamus bahasa Indonesia sudah direvisi ataukah memang dari dulu aku ini nggak lulus SD. Ini kata denotasi atau konotasi?

Sedang pada tahap lanjut, akupun menjadi bingung ketika orang tua bilang kepada anaknya: “Nak, nanti kalau sudah lulus kuliah jadi pegawai negeri aja ya di kampung. Sawah bapak sudah tak siapkan untuk di jual”. Si anak pun lantas bertanya: “lhoh, mau jadi pegawai negeri kok perlu jual sawah segala pak”. “jaman sekarang kalau mau jadi PNS kan harus bayar nak”. “yang begitu itu apa istilahnya nggak nyogok Pak”. “lhoh, ya ndak tho nak, itu kan sodakoh”.

Duh Gusti, otakku semakin terasa jelas ketumpulannya. Mungkin usiaku sudah mulai menua dan kecerdasan otakku tak mampu lagi secemerlang dulu. Atau mungkin saja otakku ini lagi ngambek dan pengen diistirahatkan. Nggak usah mikir yang rumit-rumit. Terkadang juga timbul sekelebat bayangan hitam bertanduk yang ngomong kepadaku: “hei kau ngapain ngurusin orang lain, ngurusin diri kamu saja sendiri. Sok perhatian kamu”. Lantas hatiku berontak: “Tuan, bagaimana kamu bisa diam saja. Apa kamu nggak merasa hutang budi sama pendahulu-pendahulumu? Kalau para pendahulumu itu nggak polah tingkah sampeyan itu juga nggak bakal ada di dunia lho”. Waduh… hei kau hati, pikiran, dan setan sana kalian semua. Sana berdiskusi saja dulu, aku mau tidur dulu. Nanti kalau aku sudah bangun kasih tahu saja aku ya. Pokoknya setuju…. Kayak yang di gedung-gedung dewan itu lho. Kalau boleh aku minta dikasih bunga tidur yang ehem-ehem dong. Itu lho kayak anggota dewan yang keasyikan nonton video ehem-ehem. Aih nikmatnya…

Artikel terkait

0 komentar