Per-ingat-an Isra Mi’raj

21.7.11


Oleh: Dodi A. Setiawibowo

Peringatan Isra Mi’raj seharusnya tak dilakukan pada tanggal tertentu saja, melainkan setiap hari bahkan sepanjang hayat. Ya, peristiwa di luar rasio kepala manusia yang dialami oleh Sang Rasul Agung dan sering menimbulkan perbedaan tafsiran dalam pemaknaannya itu, harusnya diper-ingat-i setiap hari.

Umat muslim di Negara ini tampaknya lupa bahwa sejatinya Mi’raj adalah sebuah “pertemuan” yang dilakukan oleh setiap orang mukmin di setiap sholatnya. Itulah yang diajarkan oleh Sang Rasul Agung berdasarkan sabdanya: “shalat itu adalah mi’rajnya orang-orang mukmin”. Itupun masih dalam tahap minimal, karena sejatinya, seperti yang dikatakan Al Quran: kemanapun kamu menghadap di situlah “wajah” Tuhan, maka “pertemuan” dan per-ingat-an itu semestinya terjadi sepanjang hayat, bukan sekedar seremonial belaka.

Belum mendirikan sholat
Jika kita melihat di bumi Indonesia yang sekarang ini semakin semrawut, banyak kekerasan, korupsi, kemiskinan, dan pemiskinan, maka sudah dapat dipastikan bahwa kebanyakan umat Islam di Negara ini belumlah mendirikan sholat. Alasannya jelas, karena sholat itu tujuannya untuk meng-ingat Tuhan dan efeknya mencegah perbuatan keji dan munkar, maka sudah dapat dipastikan bahwa ternyata sholat yang setidaknya dilakukan 5 kali sehari itu belum tercapai esensi per-ingat-annya.

Kebanyakan dari kita ternyata baru dalam tahap melakukan sholat yang kemungkinannya masih diembel-embeli pahala dan indahnya bidadari sorga. Bukankah hal yang demikian itu sangat kontras dengan niat yang diucapkan sebelum takbiratulihkram? Hal ini perlu kita cermati mengingat dewasa ini banyak oknum-oknum yang mengaku beriman malah melakukan bom bunuh diri. Ironisnya , di masjid lagi. 

Sejatinya, kalau saja setiap diri dari kita ini mampu memper-ingat-i minimal setiap kali sholat bahwa kita sedang bermi’raj maka perilaku keji dan munkar akan jauh, jauh, dan jauh pergi dari kehidupan keseharian kita. Selanjutnya, karena setiap diri dari kita ini juga merupakan elemen terkecil penyusun Negara, maka sudah pasti Negara itu akan berwajah ramah. Yang lebih elok lagi, ketika setiap diri dari kita ini mampu mencermati esensi dari sholat itu sepanjang hayat maka sifat Ar Rahman dan Ar Rahhim itu tentu akan merembes ke dalam setiap makhluk di bumi ini. Tak hanya kepada sesama manusia, melainkan hewan, tumbuhan, dan bahkan batu sekalipun.


Mi’raj bukan hanya milik orang suci
Semoga saja sekarang permasalahnnya menjadi jelas. Mi’raj sebagai sebuah keyakinan “pertemuan” seorang mukmin di setiap sholatnya sangat menentukan penampakan luar di kehidupan kesehariannya. Maka dari itu, setiap diri dari kita harusnya mau dan mampu merefleksikan hasil per-ingat-annya itu ke dalam kehidupan keseharian. Mi’raj bukan hanya milik orang-orang suci sekelas nabi. Mi’raj adalah kebutuhan setiap hamba yang mengaku bertuhan.

Bukankah sila pertama Pancasila kita adalah Ketuhanan Yang Maha Esa? Jika demikian adanya, ternyata kita baru pada tahap mau mengamalkan sila pertama. Jadi tidak menjadi sebuah keheranan, jika pengamalan sila kedua, ketiga, keempat, dan kelima masih jauh panggang dari api. Bagaimana tidak, jika pondasi dasar berketuhanan belum dibangun, maka pengamalan Pancasila pada sila-sila berikutnya tentu ibarat mendirikan bangunan tanpa pondasi alias susah sekali.

Muslim dan mukmin
Jika kita jeli, tentu kita bisa menyimpulkan diri kita sendiri, apakah muslim atau mukmin. Kedua kata ini perbedaannya sangat mendalam. Muslim adalah sebutan orang yang memeluk Islam, sedangkan mukmin adalah sebutan orang Islam yang beriman. Hal yang demikian itu diterangkan di dalam Al Quran dengan jelas pada surat 49:14 ;Orang-orang Arab itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah (kepada mereka): ”Kamu belum beriman, tetapi katakanlah kami Islam, karena iman itu belum masuk ke dalam qalbumu.

Di setiap ayat lain ketika muncul perintah untuk mendirikan sholat maka selalu diawali dengan: “hai orang-orang yang beriman…”. Di lain sisi sabda Nabi: “shalat itu adalah mi’rajnya orang-orang mukmin”, secara jelas hal ini menunjukkan kita bahwa orang mukminlah yang memenuhi syarat untuk bias mi’raj. Nah, kira-kira jika kita melihat banyaknya orang yang sholat tetapi Negara tampak awut-awutan seperti ini, kita ini masuk tahapan muslim atau mukmin? Sepertinya pertanyaan ini bisa kita jawab sendiri.

Artikel terkait

0 komentar