Kembali Kepada Kodrat

21.7.11


Aku merasa berbahagia sekali ketika beberapa orang pembaca buku pertamaku merasakan manfaat dari pemikiran seorang “pemalas” sepertiku. Ya, aku tahu bahwa apa yang kupaparkan adalah pendapat kaum minoritas alias keluar dari pakem. Pandangan umum yang menjejali mayoritas penduduk Indonesia bahkan dunia seakan sudah menjadi “kebenaran” yang mutlak. Semenjak kecil kita selalu dijejali doktrin kerja keras banting tulang oleh mereka yang sudah merasa sukses.

Ini adalah pembodohan massal yang hampir merata di seluruh dunia. Doktrin itu sedemikian melekat karena sekali lagi semenjak kecil dimana anak lebih peka untuk membuka pintu bawah sadarnya, ia sudah diinstall program yang salah (lebih jelas anda dapat membacanya disini). Akibatnya sangatlah jelas, gelombang pembebek alias para pekerja keras sedemikian mengenaskan melakukan apa yang tidak menjadi panggilan jiwanya. Upaya penyadaran yang sangat frontal dan bertentangan dengan paham itu jelas akan menuai badai kritik karena kaum minoritas dimana-mana selalu tertindas. 

Jika kita mau lebih jeli sedikit saja, kita akan tahu bahwa apa yang dilakukan oleh para penyandang gelar sukses itu sebenarnya adalah kesenangannya. Mereka sama sekali tidak bekerja keras. Lhah, bagaimana bisa dibilang bekerja keras kalau ia menyenangi apa yang ia lakukan. Dedengkot Young Entrepreneur Academy, Jaya Setiabudi seorang pengusaha “sukses” pernah berseloroh kepadaku bahwa apa yang ia lakukan sebenarnya adalah hobinya, nah lo….

Artikel terkait

0 komentar