SPIRIT OF THE EAGLE

31.7.11

Perbincangan kedai kaki langit

Semilir angin terasa cukup lembut di sore itu. Kembali aku terpikat oleh sunyi yang kedatangannya selalu saja menyergap dekap di kedalaman dadaku. Sayup-sayup cericit burung terdengar merdu dikejauhan sana. Tampaknya mereka baru saja mewiridkan seribu tasbih sehabis adzan ashar sore tadi. Kedai kaki langit, itulah rumah singgah lelaki sunyi. Tempat bersemayam segala rupa bentuk keheningan dan kedamaian. Sehening ilalang dalam memperdengarkan suaranya, sedamai ruang gerak semak-semak menjulurkan kaki stolonnya.

“Elang, ada apa gerangan kau kembali lagi ke sini? Bukankah di luar sana kau telah mendapatkan mainan baru?”

Suara Lintang tiba-tiba menyembul di kedalaman telingaku. Di sini, suara itu tampak lebih lembut dibandingkan jikalau aku berada di luar sana. Di tengah hiruk pikuk anak-anak manusia mengumbar bau keringat mereka. Sedetik dua detik aku tetap hening di kedai ini. Sehening perkawinan kekupu liar yang kulihat dengan takdzim di kejauahan sana. 

“kau tahu bukan, semegah-megah pesona di luar sana tak akan mampu mengalahkan kerinduanku akan tempat ini. Kedai kaki langit adalah tempat bersemayam segala rupa keheningan dan kedamaian. Aku tak akan mungkin melupakan tempat ini Lintang. Kedai ini ibarat gua garba ibu tempat aku tidur sebelum mata elangku mampu melihat dunia”

“ya, namun kenapa kau tak pernah sekalipun mengajak teman-temanmu di luar sana? Tidakkah mereka pun merindukan tempat seperti ini?”

“bagaimana bisa Lintang? Aku tak punya hak untuk mencampuri permainan mereka. Lagi pula tidakkah terlalu angkuh jika aku memaksa mereka? Kau mungkin lupa Lintang, aku pernah mengajak beberapa orang temanku mampir ke sini. Namun sebentar saja ia mengajakku pulang ke permaianan baru yang mungkin baginya terasa lebih menyenangkan”

Tiba-tiba saja langit terlihat mendung. Arak-arakan awan hitam tampak berdatangan di kedai kaki langit. Mungkin langit hendak menangis. Atau mungkin sudah waktunya bagi bumi untuk mandi. Menumbuhkan benih-benih ilalang dan semak-semak liar sebagai pertanda bahwa regenerasi harus segera dilakukan. Alam selalu memiliki siklusnya sendiri. Mereka tahu saat yang tepat untuk mendaur ulang diri mereka sendiri. Ataukah mereka merasa tersinggung dengan ucapanku tadi? Ah aku tak tahu.

Titik-titik hujan berjatuhan. Gemericik suaranya merembes di kedalaman hatiku. Kodok-kodok pun seolah mendapatkan surganya. Mereka terdengar riuh dalam orchestra dunianya. Beberapa terlihat oleh mataku, tampak dua pasang kodok bertindih-tindihan. Ini benar surga bagi mereka. Senggama mereka tampak terlalu indah di mataku. 

“kau lihatlah Lintang, si kodok telah mendapatkan surganya”

“hahahahaha…” kami pun tertawa.

Hujan telah mereda sebelum magrib. Kodok-kodok pun telah selesai bercumbu. Bumi telah selesai mandi. Dan sekarang bias warna pelangi tampak melengkapi keindahan di lembah kedai kaki langit. Kedai kaki langit, itulah rumah singgah lelaki sunyi . Tempat bersemayam segala rupa bentuk keheningan dan kedamaian. Sehening ilalang dalam memperdengarkan suaranya, sedamai ruang gerak semak-semak menjulurkan kaki stolonnya. Senja telah memasuki usia paling tuanya. Adzan magrib pun terdengar merdu di kejauhan sana.

“Elang, sekarang kau carilah nama akrab kata-kata!”, tutup sang Lintang di akhir perbicangan itu.

Pendakian bukit kaki langit

Andre Maulana itulah nama teman yang sekarang sedang berada di sampingku. Dari tadi ia terus berceloteh dalam keingintahuannya. Ya, kali ini aku membawa seorang teman dari hiruk pikuk permainan kota di luar sana. Ah bukan… aku tak membawanya, ia sendiri yang ingin tahu perihal kedai kaki langit, tempatku menyepi sembari menikmati secangkir kopi manis dan beberapa batang sigaret yang kubawa dari rumah permainan di luar sana.

Andre adalah sesosok pemuda tampan. Berumur dua puluh tahunan, dua tahun lebih muda dariku. Aku berkenalan dengannya sewaktu aku sedang asyik memancing di tepi laut sana. Perawakannya cukup tegap. Tangannya kekar, dadanya membidang lapang. Cukup lapang untuk seorang wanita bersandar di dada itu. Bahkan mungkin dada itu sudah layak disebut sebagai benteng pertahanan yang kokoh bagi seorang wanita untuk menyandarkan kelembutannya. Rumah singgah paling nyaman bagi hawa. Sang hawa yang selalu rindu untuk pulang dalam dekapan sayang. Tempat dimana dulu ia tercerabut dari benteng pertahan yang kokoh di dada itu. 

Namun tidak untuk sekarang. Sesekali tidak. Dada itu kini sedang rapuh. Degub suara jantungnya terasa asing bagi seorang wanita. Suaranya itu terlalu menggelora, sedetik meng-amuk bagai badai di lautan dan sesekali terhenti, sejurus kemudian meng-amuk lagi. Bahkan akupun sanggup mengendus jilatan-jilatan suara riuh dalam dada itu. Kembang kempis, ya.. kembang kempis layaknya ikan yang baru kukeluarkan dari habitat aslinya, megap-megap di daratan. 

“mari memancing kawan, apa kau tidak membawa kail?” tanyaku basa basi waktu itu.

“ya, silahkan memancing kak, aku di sini saja?”

“lautan memang seperti itu kawan, kadang menga-amuk dan kadang melempang datar layaknya karpet  tempat para raksasa raksesi tidur di istana mereka”

“hahaha… ada-ada saja kau kak, oh ya.. siapa gerangan namamu kak?”

“jangan panggil aku kak, panggil saja Elang, namamu siapa kawan?”

“Andre, Andre Maulana”

“Hmm… tampaknya kau sedang terkesima dengan riuh gelombang di sini ya? Seriuh suasana hatimu. Lautan di sini terlalu keras untuk kau selami. Jika kau ingit melihat keindahan, aku kira lautan di seberang sana akan membius pandangan matamu.”

“hahaha, kau menyindirku ya”

Aku rasa kawan baruku ini cukup cerdas. Ia mampu membaca sindiran-sindiran halus yang kusematkan di balik kata-kataku. Secercah senyum mengembang dari kuncup bibirnya. Sejenak ia terlupa oleh gelegak badai yang meng-amuk di dadanya. Kini lautan di dadanya telah luput dari gelombang. Ia pun mau bercerita panjang lebar. Dan sudah kutebak. Saat ini ia sedang dipermainkan cinta. Cinta ini cinta yang agung. Cinta ini berbeda dengan cinta yang kebanyakan. Ini bukanlah cinta yang telanjang. Ini bukanlah cinta layaknya seorang ibu kepada anaknya. Ini lebih dari itu. Lebih, sungguh lebih… seorang Andre Maulana telah ditawan cinta. Kini ia berdiri di atas cinta, direngkuh sang cinta. Ia bercinta dengan sang cinta. Ia berada dalam hati sang cinta.

Mendadak lautan menjadi tenang. Desing angin pun kini tak terdengar. Hanya cericit camar yang kini menghiasi lautan bening. Muara segala sungai, induk dari segala induk sunggai di dunia. Sejenak aku pun larut dalam kebeningan ini. Waktu seolah terhenti. Aku terhanyut dalam kisah cinta seorang Andre Maulana. Seorang lelaki gagah yang ditinggal pergi kekasihnya. Aku ikut terhanyut dalam lautan cintanya. Riak gelombang lautan yang terhenti sekarang ini sudah cukup jelas menggambarkan betapa dalamnya gelora cinta seorang lelaki ini. Alam memang selalu mengabarkan pesan misteri yang kadang terlalu ganjil untuk dimengerti.

“aku pulang dulu ya, Ndre…”

“akan kemana kau Elang? Di mana rumahmu, bolehkah aku ikut?”

“aku akan ke lembah kaki langit, sebuah kedai kecil di sana adalah rumah istirahku. Kedai itu terlalu sederhana buatmu, tidakkah lebih baik kau pulang saja ke rumah? Orang tuamu nanti mencarimu?”

“oh ya, aku belum mengatakannya. Kedua orang tuaku sudah tiada. Kata kakekku, sebuah kecelakaan hebat menimpa kami waktu itu, dan beruntung aku selamat”

“oh maaf, aku tak tahu. Aku turut prihatin ya Ndre”

Sungguh kasihan anak ini. Segala bentuk cinta telah lepas dari jiwanya. Namun kini ia benar-benar di tawan sang cinta. Ia telah menemukan sebentuk cinta yang agung. Memang kadangkala kita terlalu hanyut dalam sebuah kesedihan. Padahal, kesedihan seberapa pun dahsyatnya itu. Seberapa pun pahitnya itu. Ia hanyalah rupa sisi yang bersebelahan dari wajah peristiwa. Justru semakin terasa pahit peristiwa itu, maka sekeping wajah di lain sisinya adalah sebuah kebahagiaan yang manis. Tergantung kita melihatnya dari sisi yang mana. Layaknya sang Nabi yang telah kehilangan 3T (harTa-tahTa-waniTa) di selang usianya. Kini ia telah disapa Jibril, dibawa terbang sang buraq untuk bermikraj menemuiNya. 

Dengan tubuh perpeluh keringat, ia terus saja membututiku. Dahinya tampak berkilat-kilat dibakar sengat sang surya. Perjalanan ke kedai kaki langit tidaklah sesederhana jalanan Jakarta. Perjalanan ke sana ibarat reka susuran jejak yang dulu menyisa setapak. Bukan jalan lempang berhiaskan manik-manik bercahaya di kedua sisinya. Ini jalan setapak yang berliku. Kadang menanjak, kadang menurun. Penuh kerikil dan bebatuan terjal. 

Aku sengaja berjalan memutar, mencoba seberapa tangguh anak ini. Seberapa maskulin jiwanya. Kubawa ia melewati tepian jurang, melipir jalanan menanjak layaknya tanjakan setan di gerbang puncak Gunung Gede. Tak kusangka, ia begitu teguh dalam pendiriannya. Tak sedetikpun ia minta berhenti untuk sekedar menyeka keringat yang kini mulai membasahi kulit tubuhnya. 

Kini kubawa ia menju ke punggung bukit. Kuajak ia terpesona oleh rupa-rupa menawan dari wajah Tuhan di dunia. Sebuah lanskap perbukitan dengan pemandangan laut di satu sisinya dan lereng-lereng bukit kaki langit yang terjal dengan warna kekontrasan yang sungguh memukau dan menawan. Di sini adalah tempatku menemukan sekumpulan elang yang saling berkejaran. Sekumpulan elang jantan yang mencoba menarik hati sang elang betina. 

Perbicangan lembah kaki langit

Aku mulai menuruni bukit, tempat dimana wajah keindahan Tuhan semakin jelas terpampang di sana. Tempat Lintang memberiku nama “mata elang”. Teman baruku seolah tak mau segera turun, mungkin pandangan hatinya tersedot oleh keindahan wajah Tuhan di sudut sana. Ia begitu terpesona, sampai-sampai ia larut dalam imajinya sendiri. Aku terpaksa menepuk pundaknya.

“Ndre, ayo turun”

“oh, iya Elang”

Perjalanan ini tak sesulit saat pendakian. Jalan setapak yang kita lalui justru penuh dengan pemandangan yang sangat menawan. Layaknya sabana yang terbentang luas dengan bunga-bunga edelwies yang bermekaran lengkap dengan kekupu liar yang berkejaran ke sana kemari. Kami beranjak selangkah demi selangkah. Mungkin inilah taman surga yang ada di dunia. Tempat dimana hanya segelintir manusia mau mengunjunginya. 

“kenapa aku baru tahu tempat seperti ini, seandainya aku tahu dari dulu, pasti aku akan selalu mengunjunginya” Andre mulai dengan pembicaraannya.

“bukankah kau selalu mengunjungi tempat ini. Ingatkah kamu? setidaknya kamu mengunjungi tempat seperti ini sehari lima kali bukan? Mungkin kamu lupa?”

Andre tampak mengeryitkan dahi. Namun demikian jiwanya sudah ditarik oleh kumparan cinta yang begitu dahsyat. Kumparan cinta yang menyeruak di dalam dadanya. Gelombang yang bergelora layaknya badai di lautan kini sudah padam benar. Ia menemukan sebentuk kedamaian yang menyelinap di kedalaman hatinya. Mungkin ia sudah bisa mengikhlaskan kepergian kekasihnya. Ya, karena ia sedang berada dalam hatinya sang cinta.

Segala bentuk cinta memang tak akan pernah bisa memuaskan dahaga manusia akan kasih sayang. Seorang ibu bagaimanapun sangat tulus ikhlas mencintai anaknya, ia tetap mengharap cinta dari suaminya. Ia tetap mengharapkan cinta dari orang tuanya, saudara-saudaranya, dan lain sebagainya. Sudah sepatutnya seorang ibu bisa lebih mudah untuk mengenal cinta jikalau saja ia mau belajar bagaimana ia dapat mencintai anaknya. Walau mungkin anak itu durhaka sekalipun, kasih seorang ibu tak akan bisa hilang begitu saja. Itulah gambaran cinta yang sekarang menawan jiwa seorang Andre Maulana. Cinta yang masih duduk dalam singgasananya. Cinta yang tulus tanpa syarat. Bukan cinta yang telanjang.
(ini hanyalah intermeso, bukan cuplikan isi)

 
Penulis             : Mata Elang
Penerbit           : www.nulisbuku.com
Pemesanan di   : http://www.nulisbuku.com/books/view/spirit-of-the-eagle#

Buku ini sengaja saya bikin tepat untuk menyambut Bulan Suci Ramadhan. Apa yang tertulis dalam buku ini merupakan kisah perjalanan pribadi yang sungguh melelahkan. Rentetan peristiwa serba “kebetulan” telah memaksa saya untuk menukik jauh ke kedalaman diri, layaknya sang elang yang lapar melihat mangsanya. Bagi saya pribadi, tamparan kata-kata kaf fa’ ro’ (kafir-red) sejatinya adalah undangan dari Sang Cinta agar saya segera pedekate kepadaNya. Sebuah tamparan kanan-kiri kanan-kiri yang membuat saya berputar-putar, jungkir balik dalam kebimbangan.  Sebuah tamparan yang membenturkan rasa cinta tanah air di dada dengan keyakinan yang semenjak mbrojol saya ikuti hanya sebatas “katanya” saja. Sesungguhnya kita semua adalah  sang musafir yang tak henti-henti melangkahkan kaki dengan dahaga yang merengek untuk segera dicarikan “oase” di tengah teriknya “padang pasir”. Untuk itu saya ucapkan terimakasih kepada saudara-saudara yang sekali lagi “kebetulan” hadir mewarnai kitab kehidupan saya. 

Ini buku udah tak kasih energy cinta layaknya cintanya Andre Maulana (huahahahaha). Enggak.. engak.. sebut saja sebagai sharing uneg-uneg dari saya. Man arafa nafsahu, faqad arafa Rabbahu. Sungguh semua ini hanyalah senda gurau belaka. Semua tampak istimewa dan biasa-biasa saja. Tergantung kita melihatnya dari sudut pandang yang mana. 

Dua buah audio (dzikir meditasi Asmaul Husna dan Meditasi grounding) sengaja saya sematkan sebagai sarana untuk lebih mempermudah perjalanan ke dalam diri (inner journey), karena nyatanya Sang Cinta lebih dekat dari urat leher kita sendiri. Dan semoga sifat-sifat Sang Cinta itu bisa merembes ke kedalaman sanubari, termanifestasi dalam sikap, maujud dalam tindakan, karena sejatinya kemanapun kita menghadap disitulah “wajah” Tuhan. Untuk menyebarkan misi ini, jika saudara berkenan saya mohon bantuannya untuk share di facebook saudara. Sebagai permohonan maaf dan ucapan terimakasih, audio dzikir meditasi asmaul husna yang sudah saya mixing dengan brainwave total relaxation alpha wave ini silahkan didownload di SINI password: eagle

Berikut ini adalah instruction yang saya culik dengan tidak terhormat dari sampulnya:

T O TA L   R E L A X AT I O N
When You Need a Long Vacation, But Only Have a Short Time
Music, Ambience and Alpha Waves

Completely free of spoken words or any verbal distractions, Total Relaxation provides 60 minutes of ultra soothing Alpha Waves. Just slip on your headphones and close your eyes. Muscles relax, fears vanish and stress fades. As the boundaries of your body gently disappear, you’ll feel yourself lifted from physical tension and mental anxieties. You’ll fi nd that this is truly and effortless way to free your mind and body from anything that bothers you.
Clinically Proven Method
This program balances right and left hemispheres of the brain to produce the remarkable mental state known as Hemispheric Synchronization. A special feature of Brain Sync technology is the use of scientifi cally researched frequencies called Window Frequencies, which fi t through narrow biological windows to impact the body at a cellular level. Listeners say they can actually feel their meditation on a physical level, in rushes of positive energy and a fl ow of deep heartfelt emotions. Cumulative benefi ts include: Improved ability to concentrate, increased creativity, greater clarity of thought, enhanced access to emotions and heightened states of well being.
Instructions for Listening
Listen at a time when you will not be disturbed. Sit or lie comfortably with your spine straight. This allows your natural channels of energy to open and flow freely. Close your eyes and breathe slowly and deeply. For maximum long term benefits, listen daily for a period of six to eight weeks – or after as needed.

To experience the brain optimizing effects of this program, listen with headphones.

Harapan saya dengan mixing durasi singkat ini dapat lebih mempercepat untuk memasuki selang frekuensi meditative atau gerbang pintu bawah sadar. Dengan begitu alunan dzikir akan jauh meresap dengan cepat ke dalam hati. Dan efeknya semoga saja di bumi Nusantara ini terjadi ledakan bom TNT kasih sayang. Lebih komplet dan cespleng lagi jika meditasi tersebut dilanjutkan dengan grounding, maka semoga saja sang jiwa bisa selaras dengan frekuensi gelombang “bumi” dan “langit” dan terwujudlah apa yang dicita-citakan Islam sebagai rahmatan lilalamin atau sesuai dengan apa yang diwasiatkan leluhur kita dengan filosofi hamemayu hayuning bawana.  

Semoga bermanfaat.

Terimakasih banyak, mohon maaf lahir batin. salam asah asih asuh. 

Sungguh, aku bangga menjadi anak Indonesia. Aku bangga menjadi bagian dari bangsa besar yang pernah melahirkan Gajah Mada, Keling, Airlangga, Sriwijaya, dan Borobudur. Bangsa yang sampai saat ini mulai mencari lagi induk “Kakek-Nenek” asal usul mereka. Mungkin saat ini anak-anak bangsa mulai menggeliat dari tidur panjangnya. Anak-anak bangsa mulai menggembarai kembali Madagaskar, Kenya, Somalia, Inka, dan Maya. Mamahami Semar dan Togog, menelusuri monument Cetha, Sukuh, dan Penataran, mempelajari sesajen tidak dalam pandangan klenik, pawang hujan dengan sodo lomboknya tidak sebagai takhayul. Primbon-primbon bukan sebagai ramalan. Menziarahi peradaban Atlantis, jejak-jejak Lemorian, tapal batas Afrika sampai Amerika Latin. Mempelajari kembali teknologi nuklir dalam pembuatan keris dari para empu, dari dapur Pasupati, Gajah Singo, Rangga Wulung dan seterusnya. Menengok rumah gadang tahan gempa, teknologi kapal pinisi. Atau pernah aku bilang saat aku mengutip perkataan Bung Karno, aku bangga karena kita adalah satu tanah air yang paling cantik di dunia. Dan terutama sekali aku bangga karena anak-anak negeri ini mulai menyadari bahwa dirinya itu adalah ahsanu taqwim, sebaik-baik ciptaan Tuhan. 

Kita pernah melahirkan Sriwijaya
Kita pernah melahirkan Majapahit
Tidakkah kita bisa melahirkan anak bungsu bernama Indonesia?

Dan semua itu mungkin jikalau kita mau menengok ke dalam diri kita masing-masing. Atau tanyalah pada rumput yang bergoyang. Mumpung masih ada//kesempatan buat kita//mengumpulkan bekal//perjalanan abadi. (Ebiet G. Ade)

Perjalanan belum berakhir….


Artikel terkait

0 komentar