LINTANG MENGAJAKKU NGOPI

4.5.11

Siang ini Bogor panasnya minta ampun. Rasa-rasanya seperti hari-hariku di kampung halaman. Hmm.. aku jadi ingat, biasanya apabila siang panas seperti ini sore harinya akan indah sekali. Ya, sore ini aku harus ngopi di gubuk itu.

Detik demi detik berlalu. Sore telah tiba, dengan segera aku menuju gubuk itu. Gubuk yang penuh dengan kedamaian. Sungguh, aku ketagihan berada di sana. Seperti candu, ia memaksaku untuk kembali dan kembali lagi.

"Lintang, kau sudah di sini?"
"ya, sedari tadi aku menunggumu Elang"

Tak usah heran, temanku yang satu ini memang aneh. Ia seperti tahu apa yang ada dalam hatiku. Kadangkala ia menelponku, tapi tak jarang pula ia memaksaku menemuinya entah lewat perantara apa. Seringkali seperti ini, dan kali ini ia memintaku untuk kembali menikmati senja dengan keindahan mega-meganya. Dengan horizon di garis batas cakrawalanya.

"hehe, sekarang sudah ingat bukan?"
"ngomong apa kamu Lintang? ingat apa?"

Yah, si Lintang mulai berteka-teki lagi

"Elang, kau lupa akan satu hal. Kau lupa untuk selalu bersyukur. Bukankah kau sendiri yang meminta semua ini terjadi padamu bukan? Ingatkah kau, bahwa di sini, di kedai kopi ini, kau pernah berkata padaku bahwa kau ingin merasakan segala rasa yang pernah hinggap di hatinya manusia. Nah, bukankah sekarang kau telah mengalaminya?"

Aku hanya bisa terdiam mendengarkan sahabatku berkata-kata. Perkataannya benar, memang aku pernah mengatakan hal itu kepadanya. Dan memang benar, beberapa bulan terakhir ini segala perasaan itu silih berganti mampir di gubuk hatiku. Dan aku lupa, aku lupa untuk mensyukuri hal itu semua. Aku yang meminta, maka harusnya aku mensyukuri hal itu terjadi padaku.

note:
suka-duka-marah-senang-kecewa-bangga-cinta-benci dan segala rasa yang pernah hinggap di hatinya manusia adalah peristiwa yang akan mengatantarkan kita untuk benar-benar mengerti, paham, dan sadar sesadar-sadarnya.

Bogor, 3 Mei 2011

Artikel terkait

2 komentar

  1. Lust, Gluttony, Greed, Sloth, Wrath, Envy and Pride.
    Those commonly known as 7 human sins. Have you feel all of those sins?

    ReplyDelete
  2. that is manusiawi. hanya saja kita tak akan benar2 menjadi mengerti, paham, dan sadar jika saja terus berkutat di satu kutub polaritas perasaan saja hehehe

    ReplyDelete