NEGERI AKHIRAT TIDAK KEKAL

15.4.11

Yup, bahasan kali ini memang terkesan ngawur tapi logis. Lhah, gimana? Jangan marah dulu. Simak baik-baik teman. Dulu, dulu sekali waktu aku masih jamannya kuliah, aku punya seorang teman yang maaf “agak saklek”. Seiring berjalannya waktu akhirnya kami ketemu di satu lab. Ya, gara-gara kesasar di lab yang sama maka otomatis pembicaraan pun mulai mengalir apa adanya. 

Hhh, bisa banyangin nggak orang alim ketemu dengan buto biayayakan seperti aku ini hehehehe. Suatu hari selepas dari lab kami hendak pulang bersama. Kebetulan arah kost kami memang satu arah. Di tengah perjalanan aku memancing pertanyaan.

“bos, mau diskusi nggak?”

“diskusi apa dod?”

“masalah agama”

“boleh aja atuh”

“oke. Begini, aku buat pernyataan dulu ya. Semua di luar pencipta adalah makhluk. Kamu setuju apa enggak bos?”

“hmmm… di luar pencipta adalah makhluk. Iya, benar itu”

“berarti akhirat tidak kekal, setuju ndak?”

“hah, masak? Enggak ah, orang di dalam Al Quran disebutnya kekal kok”

“lhah, tadi kan kamu setuju bos kalau di luar pencipta adalah makhluk. Akhirat itu pencipta apa makhluk?”

“makhluk”

“ya, kalau makhluk pasti musnah, bener tho?”

“lha, tapi di Al Quran kekal kok”

“begini bos, lu percaya Al Quran itu kata Tuhan? Lu percaya Al Quran itu tak salah kan? Kalau begitu yang salah siapa?”

Temanku tadi tampak berpikir keras. Mungkin ia bingung mau jawab apa.

“begini saja, kalau lu percaya Al Quran itu benar, berarti yang salah ya yang nafsirin, hehehe”

Yup, ilmu tafsir-menafsir seolah telah dibuat begitu elitis. Katanya, kalau mau nafsirin itu harus jadi ulama, sedangkan standar ulama saja ngga jelas. Bagaimana menurut Anda?

Artikel terkait

0 komentar