Masyarakat Onta dan Masyarakat Kapal Udara

14.4.11

Sore ini aku tergugah untuk membaca kembali pidato-pidato Founding father Negara yang cantik ini, Soekarno. Entah kenapa, aku mengagumi beliau. Pidato-pidatonya selalu membius diriku, mempesona, merangsek hingga kadang membuatku cengar-cengir sendiri. Benar-benar lugas, padat, dan terasa sekali api semangatnya membakar seolah vibrasinya menyedot perhatianku untuk kembali menyelami masa dimana bangsa ini masih dalam tahap berbenah diri.

Masyarakat onta dan masyarakat kapal udara, begitu beliau menyindir tiap-tiap hidung manusia Indonesia yang kaku, saklek, dalam hal pemahaman baik atas ayat ataupun sunnah. Peradaban manusia itu berevolusi sedangkan ayat dan sunah itu tidak. Namun bukan berarti pemaknaan itu tidak bisa direvisi. Memang tulisannya ajeg dan memang harus demikian. Yang harus berubah yaitu mengenai tafsirnya.  Sayang sekali, sebab umpama tiap hidung itu mengetahui hal ini maka tak perlu ada konflik antara masyarakat dengan orang-orang yang merasa dirinya memikul kewajiban menjaga Quran dan sunnah itu, dan tidaklah umat Islam sekarang layaknya seperti ikan yang di angkat dari air, setengah mati megap-megap.

Sayangnya keadaan sekarang rasa-rasanya tambah lebih parah. Tak tahu mengapa, buku-buku pidato Soekarno seperti yang kubaca di sore yang semburat merah keemas-emasan ini justru banyak kutemui di tukang-tukang loak. Harusnya para pemuda-pemuda sekarang ini harus pula membaca sejarah bangsa. Jas Merah: jangan sekali-kali melupakan sejarah.


bagaimana pendapat Anda?
mirip ya, huahahahahaha

Artikel terkait

0 komentar