SEKS ATAU CINTA?

14.3.11

SEKS ATAU CINTA

Sebut saja namanya Dini. Dini adalah seorang gadis yang cerdas, manis, dan rupawan. Umurnya belasan tahun, tepatnya 17 tahun. Sebuah usia tanggung dimana gejolak hormon kefeminiman sedang menggelegak diproduksi. Rambutnya tergerai indah sebahu, lurus seperti layaknya mahasiswi-mahasiswi yang banyak bertebaran di Bandung itu. Bibir tipisnya begitu menggoda. Ditambah lesung pipit di sebelah kiri pipinya yang selalu menambah manis parasnya ketika ia tersenyum. Melihat ke bawah lagi, akan dapat terlihat mahkota wanita yang tampak ranum di balik seragam sekolahnya, putih abu. Ya, Dini masih duduk di bangku SMA.

Di rumah, Dini tampak selalu ceria. Sebagai seorang perempuan, ia tahu dan mengerti tugasnya. Mencuci pakaian, memasak di dapur bukanlah menjadi pekerjaan yang memalukan baginya. Memang, sebuah kebiasaan langka yang jarang dimiliki oleh gadis-gadis seusianya di jaman sekarang. "Dini, walaupun kamu perempuan, kamu tak boleh menangis" demikian intruksi yang keluar dari mulut ayahnya. Sejak kecil Dini selalu dimarahi ayahnya kalau ia menangis. Hadiah cubitan juga sering diberikan ibunya jikalau ia sedang menagis. Dini anak tuggal, oleh karena itu, orang tuanya tak ingin putrinya menjadi anak yang lemah dan manja. Ia seperti kartini, jalan-jalan ke mall atau sekedar bermalam minggu bersama teman tak pernah ia lakukan. Bukan karena ia tak ingin, namun karena orang tuanya selalu melarangnya.

Singkat cerita, akhir-akhir ini perilakunya berubah. Dini yang manis dan selalu tampak ceria sekarang selalu terlihat murung. Ia tak seceria yang dulu lagi. Ia lebih banyak diam dan menyendiri di kamar. Ibunya segera mengetahui perihal gelagat anaknya yang berubah. Malam itu, ibunya menghampiri Dini ke kamar. "Dini, mama masuk ya" perkataan mamanya tampak terdengar dari luar kamar. Tak ada jawaban, tapi pintu kamar tak terkunci. Mamanya dengan segera membuka kamar dan melongok ke dalam. Dini tampak gelagapan, dengan segera ia menghapus air matanya. "kamu kenapa, Din?". Dini tampak ketakutan. Takut akan cubitan yang selalu menjadi hadiahnya saat ia menangis.



"Kamu kenapa, Dini? cerita sama mama". Dini tetap saja terdiam. Mamanya makin penasaran. "Ayo, cerita sama mama, kali ini mama tak akan marah, kamu kenapa Din?". "Janji ya ma... ", suara Dini terdengar lirih terdengar. "Iya mama janji, cerita sama mama Din". "Ma, aku minta satu hal, mohon kali ini kabulkan ya ma". Memang sejak ia kecil sampai sekarang tak pernah Dini meminta sesuatu kepada orang tuanya. "Iya anakku, kamu minta apa?". "ma, ijinkan Dini menangis". Tak sampai tiga detik setelah Dini mengungkapkan keinginannya, air mata dari pelupuk matanya membanjir membasahi lekuk-lekuk pipinya. Sebagai seorang ibu, mamanya tak kuasa melihat kesedihan anaknya. Serta merta ia memeluk anak gadisnya dengan segala rasa penasaran atas apa yang terjadi padanya.

bersambung....

Artikel terkait

0 komentar