Sebuah potret buram bernama kerja keras

27.3.11

Jika Anda terlalu sibuk dengan apa yang Anda lakukan, maka Anda hanya akan menjadi robot bernama manusia. Terlalu sibuk sampai-sampai lupa untuk apa sebenarnya kesibukan yang telah Anda lakukan. Terlalu sibuk sampai-sampai tak tahu tujuan hidup. Padahal di awal sudah aku sebutkan bahwa mendaki itu tujuannya adalah puncak. Hidup tanpa tujuan seperti pendaki yang tersesat, berarti mendekati kematian.

Kebanyakan orang hanya menuruti persepsi masyarakat yang sudah terlanjur melekat dalam memori pikiran. Aku bisa maklumi hal ini, karena realitasnya memanglah demikian. Akan menjadi sangat wajar jika pendapat sekelompok orang yang mayoritas itu dianggap sebagai suatu “kebenaran”. Akan tetapi, cobalah melihat dengan lebih jernih. Apa yang dihasilkan dengan pola kerja keras yang ditawarkan sebagai “kebenaran” itu? Jelas seperti yang Anda lihat disekeliling Anda. Kebanyakan orang disibukkan untuk mencari simbol kebahagiaan. Ironis, karena apa yang kebanyakan orang kejar hanyalah simbol belaka. Jauh dari kualitas hidup yang sebenarnya ingin dicapai.

Terlebih lagi cobalah tengok, jika kerja keras itu merupakan cara satu-satunya untuk memperoleh kekayaan, kesuksesan, dan kebahagiaan, tapi mengapa justru hal itu pula yang menjadi biang kejenuhan, kebosanan, dan stres yang teramat sangat? 

Jujur saja padaku; apakah selama ini Anda suka hari libur? Apakah Anda sangat senang ketika di kantor tiba waktu untuk istirahat siang? Jika ya, maka dapat aku pastikan, Anda melakukan itu semua karena TERPAKSA. Anda terpaksa mengikuti persepsi masyarakat untuk berbuat demikian. Anda lupa pada panggilan jiwa Anda. Panggilan jiwa yang membuat kepuasan lahir maupun batin. Berdasarkan pengamatanku, orang-orang yang mengikuti panggilan jiwanya adalah orang-orang yang selalu bahagia, puas secara lahir dan batin. Mereka tidaklah bekerja, tetapi mereka:

     
 B-E-R-K-A-R-Y-A


(beberapa paragraf dlm draft buku Pemalas itu: kaya bahagia dan menikmati hidup)

Artikel terkait

0 komentar