KETIKA KEMALASAN MEMBUAHKAN KATA: AHA….

29.3.11


harusnya, merekalah yang kaya dan bahagia
Aku adalah orang yang alergi jika mengatakan kerja. Ah sekali lagi aku alergi ibarat seeokor kucing yang hendak dimasukkan ke dalam bak mandi. Aku akan mencoba dengan berbagai cara untuk menghindarinya. Cobalah kata kerja itu direfisi pemaknaannya. Kultur yang ada dimasyarakat kita sudah terlanjur “mewajibkan” kerja seolah-olah melebihi kewajiban akan pemahaman kepada hal yang lebih esensial dalam menjalani hidup.

Jika kita mengamini kata-kata yang tertuang dalam kitab suci maka seharusnya kitapun akan mencoba meniru sifat Tuhan itu. Tuhan itu mencipta dan manusia diciptakan dari citranya hingga timbullah pernyataan dalam kitab: kemanapun engkau menatap di situlah wajah Tuhan. Aih sungguh merdu kalimat ini.

Kiranya aku menjadi orang yang paling dungu jika mengatakan bahwa Tuhan dengan segala kemahaannya itu harus “bekerja” mengatur jagad raya yang menakjubkan ini. Tidakkah Tuhan itu menjadikan segala keteraturan yang serba ajaib ini dengan kata kun fa ya kun jadi, jadi maka jadilah. Sebuah dengung keperkasaan yang membuat semua ini berjalan teratur sesuai dengan sunatullah-Nya

Kita kembali ke kemalasan. Ketika kita sibuk diperbudak oleh kata “kerja” apalagi “kerja keras banting tulang” (ah kelihatanya menyakitkan sekali). Tidakkah ada sebuah solusi yang lebih menyenangkan untuk menghindari kosakata “kerja keras banting tulang ini”? jika kerja keras ini akan mengantarkan kita kepada kekayaan dan kebahagiaan apakah Anda akan sesegera menyetujuinya?

Bagaimana jikalau saja aku menawarkan jalan kemalasan untuk mencapai itu semua? Apakah ada orang yang akan mengambilnya? Tentunya setiap manusia akan mencari jalan paling gampang dan menyenangkan untuk mencapai taraf kekayaan dan kebahagiaan itu. Sayangnya, jalan kemalasan ini sudah terlanjur di cap sebagai biang kebobrokan dalam etika hidup di dunia ini. Bukan saja di Indonesia bahkan di seluruh dunia.

Mereka yang sekarang bekerja ada juga yang mengambil ilmu kemalasan ini sebagai sebuah bentuk strategi untuk mengahadapi ke-stressannya. Itu bagus, tetapi mereka masih sangat sempit sekali mengartikan jalan kemalasan untuk mengantarkan kita ke dalam kekayaan dan kebahagiaan. Sekali lagi aku sangatlah antipati pada kata “kerja” jika saja dimaknai seperti sekarang ini. Sama seperti antipatinya anda terhadap kata “malas”.
Kerja dan karya. Lebih mulia yang mana kedengarannya? Karya itulah yang menjadi muara dari kemalasan. Bahkan seorang Archimedes menemukan sebuah karyanya ketika ia sedang “bermalasan” di kamar mandi. Ketika itu ia bersorak “"Eureka eureka"  atau dalam bahasa kita:

“aha…, aku menemukannya” hahahaha justkid Sob…

Artikel terkait

0 komentar